Penulisan Idul Adha yang Benar, Begini Kaidah Penyerapan Bahasa Asing

Penulisan Idul Adha yang benar menurut KBBI adalah 'Iduladha' (satu kata). Ketahui makna dan sejarahnya agar tidak salah lagi dalam penulisan.

Diterbitkan 22 Mei 2025, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia menanti dua momen keagamaan yang istimewa, Idulfitri dan Iduladha. Keduanya bukan sekadar hari libur atau tradisi, tetapi juga menjadi waktu penuh makna spiritual dan sosial. Iduladha secara khusus mengingatkan kita pada pengorbanan, ketaatan, dan keikhlasan dalam menjalani perintah Tuhan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.

Namun di balik kesakralan perayaan ini, terdapat satu hal penting yang kerap luput dari perhatian. Bagaimana sebenarnya penulisan Idul Adha yang benar? Tidak sedikit orang, bahkan media massa, yang masih menggunakan bentuk "Idul Adha", seolah-olah dua kata tersebut berdiri sendiri-sendiri. Padahal, penulisan yang benar memiliki dasar dan kaidah yang sebaiknya kita pahami.

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, memahami penulisan istilah religius secara tepat merupakan bentuk tanggung jawab terhadap pelestarian bahasa. Liputan6.com akan mengulas penulisan Idul Adha yang benar sesuai dengan pedoman bahasa, menjelaskan kaidah serapan dari bahasa asing, hingga menggali makna mendalam dari kata itu sendiri, Kamis (22/5/2025).

Penulisan "Iduladha" yang Benar Menurut KBBI

Dalam praktik sehari-hari, penulisan istilah ini memang bervariasi. Sebagian orang menulis "Idul Adha", sementara lainnya menulis "Iduladha" dalam satu kata. Maka timbul pertanyaan: manakah yang benar secara bahasa Indonesia?

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi VI yang dirilis oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, penulisan yang baku adalah "Iduladha", ditulis dalam satu kata tanpa spasi. Jika kita mencari entri “Idul Adha” secara terpisah di situs resmi KBBI, hasil pencarian tidak akan ditemukan. Sebaliknya, ketika mengetik “Iduladha”, kita akan mendapatkan definisi resmi:

“Iduladha (n): hari raya haji yang jatuh pada tanggal 10–13 Zulhijah yang disertai dengan penyembelihan hewan kurban (seperti sapi, kambing, atau unta) bagi yang mampu.”

Dengan demikian, bentuk “Idul Adha” tergolong tidak baku, meskipun masih sering digunakan secara luas di media sosial, pemberitaan, dan percakapan sehari-hari. Hal yang sama juga berlaku pada istilah “Idulfitri”, yang sering salah ditulis menjadi “Idul Fitri”. Kedua istilah ini, menurut kaidah bahasa Indonesia, merupakan bentuk padanan utuh dan sebaiknya ditulis tanpa spasi.

Kaidah Penulisan Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia

Untuk memahami mengapa “Iduladha” ditulis dalam satu kata, kita perlu mengenal bagaimana kata serapan dari bahasa asing masuk ke dalam bahasa Indonesia. Ada empat metode utama dalam proses penyerapan kata asing, yaitu: adopsi, adaptasi, penerjemahan, dan kreasi.

1. Adopsi

Adopsi adalah pengambilan kata asing secara langsung, baik bentuk maupun maknanya. Contohnya: supermarket, mall, plaza, dan hotdog. Kata-kata ini tidak mengalami perubahan dalam ejaan maupun pelafalan.

2. Adaptasi

Dalam metode ini, bentuk kata asing diubah sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia, namun makna aslinya tetap dipertahankan. Contohnya adalah:

  • pluralizationpluralisasi
  • acceptabilityakseptabilitas
  • cadeau (Prancis)kado
  • maximaal (Belanda)maksimal

Proses adaptasi mengikuti kaidah yang diatur oleh Pedoman Penulisan Istilah dan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

3. Penerjemahan

Metode ini dilakukan dengan mengambil makna atau konsep dari bahasa sumber dan mencari padanan dalam bahasa Indonesia. Contoh:

  • pilot projectproyek rintisan
  • try outuji coba
  • accelerationpercepatan

Dalam proses penerjemahan, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan, seperti mempertahankan kelas kata dan bentuk jamak yang ditinggalkan. Misalnya:

  • psychologistahli psikologi
  • inorganictakorganik
  • transparentbening

4. Kreasi

Metode ini mengandalkan kreativitas dalam menciptakan kata baru dari konsep bahasa asing, tanpa harus mengikuti struktur kata aslinya. Meski mirip dengan penerjemahan, kreasi lebih bebas. Misalnya, dalam bahasa Arab, ‘Id al-Aḍḥā diterjemahkan dan dikreasikan menjadi Iduladha sebagai bentuk baku dalam bahasa Indonesia.

Kata Iduladha termasuk hasil adaptasi dan kreasi dari istilah Arab, yang telah melalui proses pelesapan fonetik dan penggabungan semantis, sehingga menjadi satu kesatuan kata yang dipahami secara utuh dalam konteks keislaman di Indonesia.

Makna Kata "Iduladha"

Secara etimologis, kata Iduladha berasal dari bahasa Arab ‘Id al-Aḍḥā. Kata ‘Id (عيد) berarti "hari raya" atau "perayaan", sedangkan Aḍḥā (الأضحى) berasal dari kata aḍḥiyah (أضحية), yang berarti “kurban” atau “hewan sembelihan”.

Gabungan keduanya, ‘Id al-Aḍḥā, bermakna “hari raya kurban” atau “hari raya penyembelihan”. Dalam konteks sejarah Islam, momen ini memperingati ketundukan Nabi Ibrahim a.s. dan keikhlasan Nabi Ismail a.s. dalam menjalankan perintah Allah untuk melakukan pengorbanan yang luar biasa.

Dalam budaya Indonesia, Iduladha juga dikenal dengan berbagai istilah lokal seperti:

  • Lebaran Haji: karena bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji di Mekkah.
  • Lebaran Besar: karena dirayakan dengan lebih meriah dibandingkan hari raya lainnya.
  • Hari Raya Kurban atau Idul Kurban: merujuk pada ritual penyembelihan hewan.

Meskipun istilah-istilah ini populer, hanya “Iduladha” yang diakui sebagai bentuk baku menurut kaidah bahasa Indonesia.