Liputan6.com, Jakarta - Istilah old money kerap diasosiasikan dengan keluarga kaya yang memiliki aset besar selama beberapa generasi. Namun, mempertahankan kekayaan dalam waktu puluhan tahun jelas bukan sekadar perkara mengenakan barang mahal, tinggal di rumah besar, atau memiliki warisan yang melimpah. Justru, bagian yang jarang terlihat adalah bagaimana uang dikelola, risiko dikendalikan, dan generasi berikutnya dipersiapkan agar kekayaan tersebut tidak cepat habis.
Tidak ada aturan resmi yang bisa disebut sebagai “kebiasaan old money” dan tidak semua keluarga kaya menjalankan strategi yang sama. Meski begitu, sejumlah praktik dalam pengelolaan kekayaan lintas generasi menunjukkan pola yang menarik untuk dipelajari. Beberapa di antaranya bahkan tidak membutuhkan kekayaan besar untuk mulai diterapkan karena prinsip dasarnya adalah berpikir panjang, menjaga pengeluaran, membangun aset, dan membuat keputusan keuangan dengan tujuan yang jelas.
1. Memikirkan Kekayaan dalam Hitungan Dekade, Bukan Bulanan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299117/original/032979200_1784194204-IMG_1307.jpeg)
Salah satu pola pikir yang bisa dipelajari dari keluarga dengan kekayaan lintas generasi adalah panjangnya horizon waktu yang digunakan saat mengambil keputusan. Uang tidak hanya dipandang berdasarkan kebutuhan bulan ini atau keuntungan yang bisa diperoleh tahun depan, tetapi juga berdasarkan manfaat yang mungkin diberikan dalam lima, sepuluh, bahkan puluhan tahun berikutnya.
Cara berpikir semacam ini membuat keputusan finansial menjadi berbeda. Daripada terus mencari instrumen yang sedang ramai dan menjanjikan keuntungan cepat, fokusnya lebih banyak diarahkan pada aset yang dipahami, memiliki tujuan jelas, dan bisa dipertahankan dalam jangka panjang. Pendekatan seperti ini juga mengurangi kecenderungan mengambil keputusan hanya karena panik ketika pasar turun atau tergoda ketika suatu aset sedang naik tajam.
Mengutip dari laman Investor.gov, dijelaskan bahwa investasi rutin yang dikombinasikan dengan waktu memungkinkan investor memperoleh manfaat dari pertumbuhan majemuk atau compound growth. Semakin panjang uang tetap diinvestasikan, semakin besar kesempatan hasil investasi ikut menghasilkan pertumbuhan berikutnya.
Kebiasaan tersebut bisa diterapkan tanpa harus memiliki modal besar. Mulailah dengan menentukan tujuan lima hingga puluhan tahun ke depan, seperti dana pendidikan anak, rumah, dana pensiun, atau aset yang ingin diwariskan. Setelah itu, keputusan pengeluaran dan investasi menjadi lebih mudah disaring berdasarkan apakah langkah tersebut mendukung tujuan jangka panjang atau sekadar memberikan kepuasan sesaat.
Advertisement
2. Tidak Menjadikan Kenaikan Pendapatan sebagai Alasan Menaikkan Gaya Hidup
Memiliki penghasilan lebih besar memang memberi ruang untuk meningkatkan kenyamanan hidup. Masalahnya muncul ketika setiap kenaikan pendapatan otomatis diikuti peningkatan pengeluaran dengan jumlah yang hampir sama. Fenomena tersebut sering disebut lifestyle inflation, yaitu ketika standar hidup terus meningkat hingga tambahan pendapatan praktis tidak menghasilkan tambahan kekayaan.
Keluarga yang ingin mempertahankan aset dalam jangka panjang justru perlu menjaga jarak antara penghasilan dan pengeluaran. Bukan berarti harus hidup sangat hemat atau menolak semua bentuk kemewahan, tetapi kemampuan membeli sesuatu tidak selalu berarti barang tersebut harus dibeli. Sebagian kenaikan pendapatan dapat dialihkan terlebih dahulu ke tabungan, investasi, dana pendidikan, atau aset produktif sebelum digunakan untuk memperbesar pengeluaran konsumtif.
Kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan adalah menentukan persentase tertentu dari setiap tambahan pendapatan untuk memperbesar aset. Ketika mendapatkan kenaikan gaji, bonus, keuntungan bisnis, atau pendapatan tambahan, sebagian uang langsung dipisahkan sebelum menyesuaikan gaya hidup. Dengan cara ini, peningkatan penghasilan ikut meningkatkan nilai kekayaan bersih, bukan hanya menambah daftar pengeluaran.
Menjaga gaya hidup juga memberikan fleksibilitas ketika kondisi ekonomi sedang tidak bagus. Rumah tangga yang membutuhkan hampir seluruh pendapatannya untuk mempertahankan standar hidup cenderung memiliki ruang yang lebih sempit ketika penghasilan berkurang, sedangkan keluarga dengan selisih pendapatan dan pengeluaran yang sehat memiliki bantalan lebih besar menghadapi perubahan.
3. Lebih Fokus Mengumpulkan Aset daripada Memamerkan Konsumsi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337488/original/023797100_1788247509-Menghitung_Uang_Kembalian.jpeg)
Salah satu perbedaan yang kerap luput ketika membicarakan kekayaan adalah perbedaan antara terlihat kaya dan benar-benar memiliki kekayaan. Mobil mahal, pakaian bermerek, atau liburan mewah merupakan bentuk konsumsi yang terlihat orang lain, sementara saham, obligasi, kepemilikan bisnis, deposito, atau properti produktif sering kali tidak terlihat dari luar.
Untuk membangun kekayaan jangka panjang, perhatian perlu diarahkan pada nilai aset bersih, bukan sekadar jumlah barang mahal yang dimiliki. Nilai kekayaan bersih dapat dilihat dengan menghitung seluruh aset kemudian menguranginya dengan kewajiban atau utang. Seseorang dengan gaya hidup sederhana tetapi mempunyai portofolio investasi besar bisa memiliki kondisi finansial jauh lebih kuat dibanding orang yang terlihat mewah tetapi sebagian besar barangnya dibiayai utang.
Artinya, setiap kali memiliki uang lebih, pertanyaannya dapat diubah dari “apa yang bisa dibeli?” menjadi “aset apa yang bisa ditambah?”. Perubahan sederhana dalam cara melihat uang tersebut dapat memengaruhi keputusan selama bertahun-tahun. Uang yang biasanya habis untuk meningkatkan konsumsi bisa digunakan untuk memperbesar kepemilikan aset sedikit demi sedikit.
Aset produktif juga tidak harus berupa sesuatu yang rumit. Investasi yang sesuai profil risiko, bisnis yang sehat, properti yang menghasilkan pemasukan, atau peningkatan keterampilan yang dapat menaikkan kemampuan memperoleh pendapatan sama-sama dapat menjadi bagian dari strategi membangun kekayaan.
Advertisement
4. Tidak Menaruh Seluruh Kekayaan pada Satu Tempat
Memiliki satu investasi yang sedang memberikan keuntungan besar memang menggoda. Namun, ketergantungan berlebihan terhadap satu aset, satu perusahaan, satu sektor, atau satu sumber penghasilan dapat menjadi masalah ketika kondisi berubah.
Karena itulah diversifikasi menjadi salah satu prinsip penting dalam pengelolaan kekayaan. FINRA menerangkan bahwa diversifikasi membantu mengurangi risiko kerugian besar yang dapat muncul ketika terlalu banyak kekayaan terkonsentrasi pada satu sekuritas atau satu kelas aset.
Dalam praktiknya, diversifikasi tidak berarti seseorang harus membeli sebanyak mungkin investasi. Tujuannya adalah menghindari situasi ketika satu kejadian buruk dapat menghancurkan sebagian besar kekayaan yang telah dikumpulkan. Portofolio dapat disesuaikan dengan usia, tujuan, kebutuhan likuiditas, toleransi risiko, serta jangka waktu penggunaan uang.
Prinsip yang sama sebenarnya dapat diterapkan pada sumber pendapatan. Ketergantungan sepenuhnya pada satu pekerjaan atau satu bisnis membuat kondisi finansial sangat dipengaruhi nasib sumber tersebut. Karena itu, seiring kemampuan meningkat, membangun sumber pemasukan tambahan dari investasi, bisnis sampingan, aset produktif, atau keahlian tertentu dapat memperkuat ketahanan keuangan keluarga.
5. Tidak Membeli Investasi yang Tidak Dipahami
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1817917/original/058473800_1514865745-20180102-IHSG-FF3.jpg)
Keinginan mendapatkan keuntungan besar sering membuat orang melewatkan salah satu pertanyaan paling mendasar: sebenarnya uang tersebut sedang ditempatkan di mana? Produk investasi yang sedang viral dapat terlihat meyakinkan karena banyak orang membicarakannya, padahal popularitas tidak otomatis membuatnya cocok atau aman.
Pendekatan yang lebih konservatif adalah memahami terlebih dahulu bagaimana suatu aset menghasilkan keuntungan, apa risikonya, berapa biayanya, bagaimana likuiditasnya, serta kondisi apa yang dapat menyebabkan kerugian. Jika mekanismenya terlalu sulit dijelaskan dengan bahasa sederhana, keputusan untuk menunda investasi sampai benar-benar memahami produknya bukanlah sebuah kerugian.
Kebiasaan seperti ini juga membantu menghindari keputusan yang dipengaruhi rasa takut tertinggal atau fear of missing out. Dalam membangun kekayaan jangka panjang, kehilangan satu peluang belum tentu menjadi masalah besar. Kerugian besar akibat menaruh terlalu banyak uang pada sesuatu yang tidak dipahami justru dapat menghapus hasil kerja bertahun-tahun.
Prinsip tersebut dapat diterapkan dengan membuat aturan pribadi sebelum berinvestasi. Misalnya, jangan menempatkan uang pada instrumen yang tidak diketahui sumber keuntungannya, jangan memutuskan hanya berdasarkan rekomendasi influencer, dan selalu memahami kemungkinan terburuk sebelum menghitung potensi keuntungan terbaik.
Advertisement
6. Mengajarkan Cara Mengelola Uang kepada Generasi Berikutnya
Mewariskan aset tanpa memberikan kemampuan mengelolanya dapat menimbulkan masalah baru. Seseorang mungkin menerima kekayaan dalam jumlah besar, tetapi tanpa pemahaman tentang investasi, pajak, pengeluaran, risiko, dan tanggung jawab kepemilikan, aset tersebut bisa berkurang jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.
Karena itu, kekayaan lintas generasi bukan hanya persoalan berapa banyak uang yang diwariskan. Pendidikan finansial dan keterlibatan anggota keluarga dalam proses pengambilan keputusan juga memainkan peran penting. Anak dapat diperkenalkan secara bertahap pada konsep menabung, investasi, anggaran, kepemilikan usaha, serta perbedaan antara aset dan pengeluaran.
Dari laman UBS Global Family Office Report 2026 menunjukkan bahwa persoalan mempersiapkan generasi berikutnya masih menjadi tantangan bahkan di kalangan keluarga dengan kekayaan sangat besar. Dari family office yang disurvei, hanya 27 persen yang memiliki proses terstruktur untuk mendidik dan mempersiapkan ahli waris bagi peran mereka pada masa depan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa memiliki kekayaan tidak otomatis membuat sebuah keluarga berhasil mempertahankannya. Pengetahuan perlu ikut diwariskan bersama aset. Bagi keluarga biasa, praktiknya bisa dimulai jauh lebih sederhana, misalnya melibatkan anak dalam membuat anggaran liburan, memberikan uang saku dengan tanggung jawab tertentu, mengenalkan tabungan dan investasi sesuai usia, atau membicarakan bagaimana orang tua menentukan prioritas pengeluaran.
7. Membicarakan Uang secara Terbuka di Dalam Keluarga
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5520207/original/047889400_1772609101-Komunikasi_Efektif_Melalui_Rapat_Keluarga_Singkat.jpg)
Banyak keluarga menganggap uang sebagai topik sensitif yang sebaiknya tidak dibicarakan. Akibatnya, anggota keluarga bisa menjalani kehidupan bersama selama bertahun-tahun tanpa benar-benar mengetahui tujuan finansial, aset penting, kewajiban, atau rencana jangka panjang satu sama lain.
Keluarga yang ingin membangun kekayaan lintas generasi membutuhkan komunikasi yang lebih jelas. Pembicaraan tidak harus dimulai dari angka kekayaan yang dimiliki. Percakapan dapat dimulai dari nilai-nilai keluarga, cara memandang utang, prioritas pendidikan, tujuan investasi, tanggung jawab terhadap orang tua, hingga harapan mengenai warisan.
Dalam keluarga yang kekayaannya belum besar sekalipun, kebiasaan tersebut tetap berguna. Pasangan sebaiknya mengetahui kondisi keuangan satu sama lain, dokumen penting perlu dapat ditemukan jika terjadi keadaan darurat, dan anggota keluarga yang berkepentingan sebaiknya memahami keputusan besar yang akan memengaruhi masa depan finansial mereka.
Advertisement
8. Menyiapkan Perencanaan Warisan sebelum Benar-Benar Dibutuhkan
Membangun kekayaan membutuhkan waktu panjang, tetapi mempertahankannya juga memerlukan persiapan tentang apa yang akan terjadi ketika pemilik aset tidak lagi dapat mengelolanya. Tanpa perencanaan yang jelas, aset keluarga dapat menghadapi sengketa, pengelolaan yang tidak terarah, atau pembagian yang tidak sesuai keinginan pemiliknya.
Perencanaan warisan bukan hanya urusan keluarga dengan aset miliaran rupiah. Kepemilikan rumah, rekening bank, investasi, bisnis, asuransi, hingga kewajiban utang perlu diketahui dan didokumentasikan dengan baik. Bentuk perencanaan tentunya harus disesuaikan dengan aturan hukum, perpajakan, dan kondisi masing-masing keluarga.
Membangun kekayaan antargenerasi membutuhkan rencana yang jelas serta komunikasi mengenai keinginan pemilik aset kepada keluarga. Langkah tersebut membantu mengurangi ketidakpastian ketika nantinya terjadi proses pemindahan kekayaan kepada generasi berikutnya.
Untuk konteks Indonesia, penyusunan warisan juga perlu mempertimbangkan ketentuan hukum yang berlaku serta kondisi keluarga masing-masing. Jika aset, bisnis, struktur kepemilikan, atau ahli waris cukup kompleks, konsultasi dengan profesional hukum, pajak, maupun perencana keuangan yang kompeten dapat membantu mencegah keputusan yang keliru.
9. Mempertahankan Sumber Kekayaan, Bukan Hanya Menikmati Hasilnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564264/original/077536900_1776931765-saving-money-concept-preset-by-male-hand-putting-money-coin-stack-growing-business-arrange-coins-into-heaps-with-hands-content-about-money.jpg)
Kekayaan keluarga akan sulit bertahan apabila setiap generasi hanya mengambil hasil tanpa ikut menjaga sumbernya. Sebuah bisnis yang diwariskan, misalnya, tetap membutuhkan inovasi, pengelolaan profesional, dan kemampuan beradaptasi. Portofolio investasi juga perlu ditinjau berdasarkan tujuan dan risiko, bukan dibiarkan tanpa pengawasan.
Karena itu, salah satu pola pikir yang berguna adalah memandang aset sebagai sesuatu yang perlu dirawat. Properti membutuhkan pemeliharaan, bisnis membutuhkan modal dan strategi, sedangkan portofolio membutuhkan evaluasi dan penyeimbangan kembali ketika kondisinya sudah jauh berubah dari rencana awal.
Generasi berikutnya juga tidak harus mempertahankan setiap aset hanya karena aset tersebut diwariskan. Jika sebuah bisnis sudah tidak kompetitif atau suatu aset tidak lagi sesuai kebutuhan keluarga, keputusan rasional bisa saja berupa restrukturisasi atau menjualnya dan memindahkan modal ke penggunaan yang lebih produktif.
Tujuan utamanya bukan mempertahankan bentuk kekayaan yang sama selamanya, tetapi mempertahankan kemampuan aset tersebut memberikan manfaat jangka panjang. Inilah yang membedakan sekadar menerima warisan dengan benar-benar mengelola kekayaan.
Advertisement
10. Menganggap Reputasi, Pendidikan, dan Keterampilan sebagai Bagian dari Modal Keluarga
Kekayaan tidak hanya berbentuk saldo rekening atau kepemilikan aset. Pendidikan, keahlian, hubungan profesional, reputasi, dan kemampuan mengambil keputusan juga merupakan modal yang dapat memengaruhi kemampuan sebuah keluarga mempertahankan kondisi ekonominya.
Karena itu, penggunaan uang untuk pendidikan atau pengembangan kemampuan tidak selalu harus dinilai sebagai pengeluaran semata. Dalam kondisi yang tepat, biaya tersebut dapat meningkatkan kemampuan seseorang menciptakan pendapatan, mengelola bisnis, memahami investasi, atau membuka peluang baru pada masa depan.
Hal yang sama berlaku untuk reputasi. Keuntungan jangka pendek yang diperoleh dengan merusak kepercayaan pelanggan, mitra bisnis, atau lingkungan profesional dapat menghasilkan konsekuensi jauh lebih besar pada masa depan. Keluarga yang memikirkan keberlanjutan cenderung memiliki alasan lebih kuat untuk menjaga nama baik karena dampak keputusan hari ini dapat ikut dibawa oleh generasi berikutnya.
Bagi keluarga yang baru mulai membangun kekayaan, pendekatan ini berarti tidak hanya menghitung berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan setiap tahun. Pertimbangkan pula apakah kemampuan menghasilkan uang, pengetahuan finansial, jaringan profesional, serta kualitas pengambilan keputusan keluarga ikut berkembang.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kekayaan Jangka Panjang Keluarga Old Money
1. Apa yang dimaksud dengan keluarga old money?
Old money merupakan istilah populer untuk keluarga yang kekayaannya telah dimiliki atau diwariskan selama beberapa generasi. Istilah ini bukan kategori resmi dalam ilmu keuangan.
2. Apakah harus berasal dari keluarga kaya untuk membangun kekayaan lintas generasi?
Tidak. Kekayaan lintas generasi dapat mulai dibangun dari pengelolaan pendapatan, investasi jangka panjang, kepemilikan aset, pendidikan finansial, dan perencanaan warisan.
3. Apa kebiasaan paling penting untuk mulai membangun kekayaan keluarga?
Menjaga pengeluaran di bawah pendapatan lalu mengalokasikan selisihnya secara konsisten untuk dana darurat dan aset jangka panjang merupakan titik awal yang cukup kuat.
4. Apakah hidup hemat selalu menjadi kunci menjadi kaya?
Tidak selalu. Tujuannya bukan mengurangi semua pengeluaran, melainkan memastikan pengeluaran tidak menghambat kemampuan menabung, berinvestasi, dan membangun aset.
5. Mengapa kekayaan keluarga bisa habis setelah diwariskan?
Penyebabnya dapat beragam, mulai dari pengeluaran berlebihan, investasi yang buruk, konflik keluarga, lemahnya pengelolaan bisnis, hingga kurangnya perencanaan dan pendidikan finansial bagi ahli waris.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5359126/original/045528800_1758620783-OJK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463536/original/058765400_1767636182-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331557/original/037451000_1787549916-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-24T123722.755.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338351/original/074586200_1788325065-dc793ca6-f363-4a79-ba6f-60a304343855.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5189846/original/074289900_1744804457-portrait-middle-aged-blonde-rich-woman-with-banknotes-purse_23-2149668379.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782519/original/026390100_1782889786-dapur_4.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6473184/original/040991800_1779334188-unnamed__16_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338337/original/025409400_1788323996-THE_CULT_IS_ALMOST_COMPLETE.One_night._Four_forces._One_shared_frequency._seringai_official__sur.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338290/original/093788200_1788321796-5d71c992-40c7-46cb-a33a-44cd771b18ac.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338184/original/098672400_1788317145-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338136/original/004659300_1788315257-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338204/original/022846800_1788318550-Dinding_Hijau_dan_Taman_Vertikal_CV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338122/original/066626100_1788315011-Gemini_Generated_Image_whlfhswhlfhswhlf.jpg)