Liputan6.com, Jakarta - Sampah dapur setiap hari menumpuk tanpa banyak orang sadar bahwa sebagian isinya masih bisa diolah kembali. Salah satu contohnya kulit jeruk, yang biasanya langsung masuk tempat sampah begitu buahnya habis dikonsumsi. Mempelajari cara mengolah kulit jeruk jadi pupuk tanaman rumahan membuka jalan lain sebelum kulit jeruk benar-benar berakhir sebagai sampah.
Kulit jeruk menyimpan unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh, mulai dari nitrogen, fosfor, kalium, sampai kalsium. Unsur-unsur ini terlepas secara perlahan saat kulit jeruk terurai, sehingga tanaman menerima pasokan nutrisi tambahan di luar pupuk yang sudah biasa digunakan.
Pada artikel ini, Liputan6.com telah merangkum dari berbagai sumber tentang cara mengolah kulit jeruk jadi pupuk tanaman rumahan, Minggu (30/8/2026). Mari simak langkah-langkah lengkapnya di bawah ini.
Advertisement
1. Siapkan Kulit Jeruk dan Wadah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335714/original/070784000_1788055132-22a03fb8-96dc-4553-afb7-e8b7261b5f4e.jpg)
Kumpulkan sekitar 200 gram kulit jeruk dari sisa konsumsi di rumah. Pilih kulit yang tidak bercampur dengan minyak, saus, atau bahan dapur lain. Cuci kulit menggunakan air mengalir untuk mengurangi sisa makanan. Siapkan wadah bertutup, pisau, sendok pengaduk, air, gula merah, air cucian beras, dan EM4 untuk proses berikutnya sebelum mulai.
Potong kulit jeruk menjadi bagian kecil agar lebih mudah tercampur dengan bahan lain. Ukuran kecil juga membantu proses penguraian karena bahan memiliki permukaan yang lebih banyak untuk terkena air dan mikroorganisme. Dinas Perkebunan Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa ukuran bahan organik memengaruhi kecepatan penguraian dalam proses pembuatan kompos di rumah.
Gunakan wadah yang bersih dan memiliki ruang kosong di bagian atas. Ruang tersebut diperlukan karena proses fermentasi dapat menghasilkan gas. Hindari mengisi wadah sampai penuh. Untuk penggunaan rumah tangga, botol atau ember bertutup dapat dipakai selama mudah dibuka dan dibersihkan setelah proses selesai dilakukan secara berkala saat dibutuhkan.
Advertisement
2. Campurkan Kulit Jeruk Dengan Bahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335715/original/075374300_1788055132-8423d728-b6d3-447f-af75-2bfb2ad640c6.jpg)
Masukkan kulit jeruk yang sudah dipotong ke dalam wadah. Tambahkan 500 mililiter air dan 500 mililiter air cucian beras. Setelah itu, masukkan 25 gram gula merah yang sudah dilarutkan dengan sedikit air. Bahan tersebut dapat menjadi bagian dari campuran yang digunakan untuk membuat pupuk organik cair dari limbah buah di rumah.
Tambahkan EM4 sesuai petunjuk pada kemasan yang digunakan. Aktivator tersebut digunakan dalam beberapa penelitian pembuatan pupuk organik cair dari kulit jeruk untuk membantu proses fermentasi. Jangan menambahkan EM4 dalam jumlah sembarangan karena setiap produk dapat memiliki petunjuk penggunaan yang berbeda pada label produk saat dicampurkan.
Aduk seluruh bahan sampai kulit jeruk terendam dan campuran menyatu. Pastikan tidak ada bagian kulit yang dibiarkan kering di permukaan. Jika jumlah air belum cukup untuk merendam bahan, tambahkan sedikit air. Setelah tercampur, bersihkan bagian dalam tutup sebelum wadah ditutup untuk mengurangi sisa bahan yang menempel di sana sebelum proses fermentasi dimulai.
3. Fermentasikan Campuran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335716/original/080280600_1788055132-828503d5-4af0-4136-b20d-e6add91b16d9.jpg)
Tutup wadah setelah semua bahan tercampur. Letakkan wadah di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung dan tidak mengganggu aktivitas rumah. Penelitian mengenai pupuk organik cair berbahan kulit jeruk menggunakan masa fermentasi selama tujuh hari. Selama proses berlangsung, wadah perlu dibuka secara berkala untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi setiap hari.
Buka tutup wadah satu kali sehari untuk memberi jalan bagi gas yang terbentuk. Lakukan dengan perlahan agar cairan tidak menyembur. Setelah gas keluar, tutup kembali wadah. Jika muncul bau yang sangat menyengat, perubahan warna yang tidak biasa, atau jamur dalam jumlah banyak, hentikan penggunaan dan jangan aplikasikan cairan tersebut pada tanaman.
Selama fermentasi, kulit jeruk akan mengalami perubahan karena bahan organik diuraikan. Pada penelitian yang menggunakan campuran kulit jeruk, kulit bawang, kulit nanas, air, air cucian beras, gula merah, dan EM4, fermentasi dilakukan selama tujuh hari sebelum cairan disaring dan digunakan pada tanaman di rumah sebelum disaring dengan benar.
Advertisement
4. Saring Pupuk Setelah Fermentasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335717/original/085078300_1788055132-aae1ff43-41dc-417b-bb76-0faed8f5d08b.jpg)
Setelah tujuh hari, buka wadah dan periksa campuran sebelum disaring. Siapkan saringan dan wadah lain yang bersih. Tuangkan campuran secara perlahan agar cairan tertampung dan potongan kulit jeruk tertahan. Pisahkan ampas dari cairan karena bagian cair akan digunakan sebagai pupuk untuk tanaman di rumah setelah proses selesai kemudian.
Saring kembali jika masih ada potongan kulit atau endapan yang terbawa. Cairan hasil saringan dapat dipindahkan ke botol bersih yang memiliki tutup. Jangan membuang ampas begitu saja karena bahan tersebut masih dapat dimasukkan ke kompos bersama sisa bahan organik lain yang berasal dari dapur rumah tangga di rumah.
Pupuk hasil fermentasi tidak perlu langsung diberikan dalam jumlah banyak kepada tanaman. Cairan tersebut perlu diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Penelitian pupuk organik cair dari kulit jeruk menunjukkan bahwa produk hasil fermentasi disaring untuk memisahkan ampas sebelum diaplikasikan pada tanaman yang menjadi objek penelitian sesuai petunjuk penggunaan sebelum pemakaian.
5. Encerkan Sebelum Digunakan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335718/original/089792500_1788055132-4181f5ac-d953-41ca-9189-e4d27257e198.jpg)
Campurkan pupuk hasil saringan dengan air sebelum diberikan ke tanaman. Untuk penggunaan pertama, buat larutan yang lebih encer dan gunakan pada satu atau dua tanaman sebagai percobaan. Cara tersebut membantu melihat respons tanaman sebelum larutan digunakan pada seluruh tanaman di rumah. Hindari menuangkan cairan hasil fermentasi secara langsung ke media tanam.
Berikan larutan pada media tanam di sekitar pangkal tanaman, bukan pada daun. Gunakan sedikit demi sedikit agar media tidak tergenang. Jumlah penggunaan dapat disesuaikan dengan ukuran pot dan kondisi tanaman. Jika media sudah basah karena penyiraman, tunggu sampai air berkurang sebelum memberikan larutan pupuk pada tanaman pada setiap pot.
Pupuk dari kulit jeruk dapat menjadi tambahan bahan organik, tetapi tidak perlu dianggap sebagai pengganti seluruh kebutuhan nutrisi tanaman. Kebutuhan setiap tanaman berbeda. Perhatikan pertumbuhan tanaman setelah pemberian. Jika muncul daun menguning, layu, atau perubahan lain setelah penggunaan, hentikan sementara dan kembali menggunakan air biasa sampai kondisi tanaman dapat diamati.
Advertisement
6. Gunakan dan Simpan Pupuk
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335719/original/094662500_1788055132-0c947408-e7f8-4837-ba66-4b456a8a72dd.jpg)
Gunakan pupuk yang sudah diencerkan pada pagi atau sore hari saat media tanam tidak sedang menerima panas matahari. Berikan pada tanaman sesuai kebutuhan dan jangan sampai cairan menggenang. Untuk tanaman dalam pot kecil, gunakan sedikit larutan terlebih dahulu. Catat waktu pemberian agar penggunaan berikutnya tidak terlalu berdekatan dan mudah dipantau.
Simpan pupuk yang sudah disaring dalam wadah bersih dan tertutup, lalu letakkan di tempat yang tidak terkena matahari langsung. Jangan menyimpan dalam wadah minuman yang dapat tertukar dengan air minum. Beri label berisi nama pupuk dan tanggal pembuatan agar isi wadah mudah dikenali saat akan digunakan selama penyimpanan.
Periksa kondisi pupuk sebelum setiap penggunaan. Jika wadah menggembung, buka tutup secara perlahan untuk mengeluarkan gas. Jika muncul perubahan yang tidak biasa atau cairan menimbulkan reaksi pada tanaman, jangan gunakan. Pupuk organik cair dari kulit jeruk sebaiknya dibuat dalam jumlah yang dapat digunakan dalam waktu relatif singkat agar mudah dipantau selama berada di rumah.
Pertanyaan Seputar Cara Mengolah Kulit Jeruk Jadi Pupuk Tanaman Rumahan
1. Apakah kulit jeruk bisa dijadikan pupuk tanaman?
Bisa. Kulit jeruk dapat digunakan sebagai bahan pupuk organik, termasuk pupuk organik cair melalui proses fermentasi. Sejumlah penelitian telah menggunakan kulit jeruk sebagai bahan pupuk dan menguji kandungan serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman.
2. Bagaimana cara membuat pupuk cair dari kulit jeruk?
Kulit jeruk dapat dipotong, dicampur dengan air, air cucian beras, gula merah, dan EM4, lalu difermentasi. Salah satu penelitian menggunakan proses fermentasi selama tujuh hari sebelum campuran disaring dan digunakan sebagai pupuk organik cair.
3. Berapa lama kulit jeruk difermentasi untuk menjadi pupuk?
Lama fermentasi dapat berbeda sesuai bahan dan metode yang digunakan. Dalam penelitian pupuk organik cair berbahan kulit jeruk, proses fermentasi dilakukan selama tujuh hari. Ada pula penelitian yang menguji fermentasi selama tujuh, 14, dan 21 hari sehingga waktu proses dapat memengaruhi hasil yang diperoleh.
4. Apakah pupuk kulit jeruk harus diencerkan sebelum diberikan ke tanaman?
Sebaiknya pupuk hasil fermentasi tidak langsung dituangkan dalam bentuk pekat ke media tanam. Pengenceran dapat dilakukan sebelum pemakaian. Penelitian pada ecoenzyme kulit jeruk, misalnya, menguji beberapa perbandingan antara cairan hasil fermentasi dan air untuk melihat respons tanaman.
5. Apakah ampas kulit jeruk setelah membuat pupuk bisa digunakan lagi?
Ampas kulit jeruk dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos bersama bahan organik lain. Kulit buah termasuk bahan yang dapat masuk ke proses pengomposan. Ukuran bahan juga berpengaruh terhadap proses penguraian, sehingga kulit jeruk dapat dipotong lebih kecil sebelum dicampurkan ke bahan kompos.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572964/original/041797700_1777876963-cek_fakta_-_cpns_kejaksaan_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334225/original/010172500_1787825621-demo_motor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331817/original/055880700_1787567222-BSU_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310112/original/014361000_1785306495-Screenshot_2026-07-29_125347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335713/original/065393100_1788055132-22a03fb8-96dc-4553-afb7-e8b7261b5f4e.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2909318/original/005220000_1568272410-julia-kuzenkov-TjFetPc6NXs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329593/original/010202000_1787285446-KTz2tEJAKs6yM0exFSBC7VCmxYKEx1LQuyawUrfh.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5557993/original/024820400_1776401612-Gemini_Generated_Image_byxyg9byxyg9byxy.jpeg)