Yen Terpuruk, Jepang Gelontorkan Rp 1.713 Triliun untuk Menahan Kejatuhan

Jepang mencatat intervensi terbesar pada 30 Juli 2026 dengan mengucurkan 9,6 triliun yen atau Rp 1.064 triliun.

Diterbitkan 30 Agustus 2026, 09:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jepang menghabiskan dana 15,4 triliun yen atau US$ 96,5 miliar (Rp 1.713 triliun, asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di 17.760). Nilai itu tertinggi yang pernah tercatat untuk intervensi di pasar valuta asing selama sebulan terakhir, berdasarkan data Kementerian Keuangan. Dana tersebut digelontorkan untuk menopang yen.

Mengutip Channel News Asia, ditulis Minggu, (30/8/2026), besarnya intervensi ini mencerminkan tekat kuat Jepang untuk mengangkat nilai yen dari level terendah dalam empat dekade. Pelemahan ini mengancam keuntungan perusahaan eksportir besar Jepang serta meningkatkan biaya impor, termasuk energi.

Jepang mengimpor hampir seluruh kebutuhan energi, dengan 95% di antaranya berasal dari Timur Tengah, sehingga negara ini rentan terhadap gangguan pasokan akibat konflik yang melibatkan Iran.

Namun, langkah pengetatan kebijakan Bank of Japan (BOJ) yang relatif lambat membuat suku bunga Jepang tetap rendah dibandingkan dengan pasar seperti Amerika Serikat, sehingga mendorong investor untuk terus mendanai perdagangan global menggunakan yen yang berbiaya rendah.

BOJ mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan terakhirnya pada Juli, meskipun para pembuat kebijakan telah mengisyaratkan kesiapan untuk mempercepat pengetatan. Pasar sendiri memperkirakan adanya peluang sebesar 65% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya pada September.

Ada Intervensi Gabungan

Data Kementerian Keuangan Jumat mencakup total nilai intervensi untuk periode 30 Juli hingga 26 Agustus. Rincian harian yang mendalam baru akan tersedia setelah angka kuartalan dirilis, kemungkinan pada awal November.

 

 

Intervensi Gabungan

BOJ melakukan intervensi pasar dengan membeli yen pada 30 dan 31 Juli termasuk melalui tindakan gabungan yang jarang terjadi dengan Amerika Serikat saat mata uang Jepang merosot ke level terlemahnya dalam 40 tahun, mendekati angka 164 yen per dolar AS

Bank of Korea juga melakukan intervensi pembelian mata uang won secara bersamaan dengan Jepang untuk meningkatkan efektivitas langkah tersebut, sebagaimana disampaikan oleh pejabat Korea Selatan pada saat itu.

Data BOJ dari awal bulan ini mengindikasikan intervensi pada 30 Juli mungkin mencapai 9,6 triliun yen atau Rp 1.064 triliun (asumsi kurs yen terhadap rupiah 110,9). Angka ini jauh melampaui rekor harian yang terkonfirmasi saat ini, yaitu sebesar 6,3 triliun yen yang tercatat pada 30 April tahun ini.

Nilai tukar yen melonjak dari kisaran awal 163 per dolar AS menjadi menguat hingga 155,20 pada 3 Agustus, sebelum akhirnya stabil di sekitar level 159,50, posisi yang terus bertahan sejak 10 Agustus.

 

Yakinkan Pasar

Guna meyakinkan pasar, Jepang masih memiliki kemampuan untuk melakukan intervensi berskala besar, Washington menyatakanTokyo dapat memanfaatkan fasilitas penyangga (backstop) Federal Reserve bagi bank-bank sentral utama yang diperkenalkan pada masa pandemi COVID-19.

Fasilitas The Fed tersebut yang diluncurkan pada 2020 untuk menstabilkan pasar selama pandemi memungkinkan Jepang memperoleh likuiditas dolar tanpa harus menjual obligasi pemerintah AS (Treasuries) secara langsung.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan awal bulan ini Washington akan melakukan "apa pun yang diperlukan" untuk mendukung upaya Tokyo dalam menstabilkan yen. Ia menambahkan, kondisi yen yang sangat undervalued (dinilai jauh di bawah nilai wajarnya) dapat memicu masalah ekonomi lain atau memicu devaluasi kompetitif pada mata uang lainnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6