Liputan6.com, Jakarta - Model hidroponik di pagar rumah bisa jadi solusi bagi Anda yang ingin menanam sayuran ketika lahan pekarangan terbatas. Instalasi bisa dibuat secara vertikal atau bertingkat sehingga area pagar yang biasanya kosong dapat dimanfaatkan tanpa mengganggu jalur berjalan.
Model hidroponik yang dipilih perlu disesuaikan dengan jenis tanaman, kekuatan pagar, ketersediaan listrik, serta kemudahan perawatannya. Beberapa sistem seperti wick lebih sederhana, sedangkan NFT, DFT, dan irigasi tetes membutuhkan pompa untuk mengalirkan larutan nutrisi.
Lebih lanjut, berikut model hidroponik di pagar rumah, dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (20/8).
Advertisement
1. Hidroponik Botol Vertikal Sistem Wick
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328843/original/084337800_1787210683-1.jpeg)
Model botol vertikal dengan sistem wick cocok untuk pagar rumah karena ukurannya relatif kecil dan tidak membutuhkan pompa listrik. Sistem ini memanfaatkan prinsip kapilaritas, yaitu sumbu seperti kain flanel menarik larutan nutrisi dari wadah menuju media tanam dan akar.Â
Cara membuatnya, siapkan beberapa botol plastik bekas, potong bagian atasnya, lalu buat lubang pada tutup botol untuk memasukkan sumbu. Pasang bagian atas botol sebagai tempat tanaman, kemudian isi bagian bawah dengan larutan nutrisi dan hubungkan keduanya menggunakan sumbu yang dapat menyerap air dengan baik.
Setelah itu, buat rangka atau dudukan yang kokoh untuk menempelkan botol pada pagar secara vertikal. Gunakan netpot atau wadah tanam yang sesuai, masukkan bibit yang sudah disemai ke dalam media seperti rockwool, lalu pastikan sumbu tetap terhubung dengan larutan nutrisi; model ini paling sesuai untuk tanaman berukuran kecil seperti selada, pakcoy, atau kangkung.
Advertisement
2. Hidroponik Pipa Bertingkat Sistem NFT
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328844/original/089014600_1787210683-2.jpeg)
Pipa bertingkat dengan sistem Nutrient Film Technique (NFT) dapat membuat pagar terlihat seperti kebun vertikal yang rapi. Pada NFT, larutan nutrisi dialirkan melalui saluran dalam lapisan tipis dan terus disirkulasikan menggunakan pompa, sehingga akar memperoleh air, nutrisi, dan oksigen.Â
Untuk membuatnya, siapkan beberapa pipa PVC atau talang hidroponik, buat lubang tanam dengan jarak yang sesuai ukuran tanaman, kemudian susun secara bertingkat pada rangka yang ditempelkan atau diletakkan di depan pagar. Buat sedikit kemiringan pada setiap saluran agar larutan dapat mengalir dari bagian yang lebih tinggi menuju bagian yang lebih rendah sebelum kembali ke tandon.
Pasang tandon larutan nutrisi di bagian bawah dan pompa celup di dalamnya, kemudian hubungkan pompa dengan pipa distribusi menuju saluran paling atas. Larutan yang mengalir melewati setiap saluran selanjutnya dikembalikan ke tandon, sehingga terbentuk sirkulasi; karena NFT bergantung pada pompa, instalasi perlu dipantau agar aliran tidak terhenti terlalu lama.
3. Hidroponik Pipa Horizontal Sistem DFT
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328845/original/093113000_1787210683-3.jpeg)
Jika menginginkan sistem yang lebih toleran terhadap gangguan pompa dibandingkan NFT, pipa horizontal dengan sistem Deep Flow Technique (DFT) dapat dipertimbangkan. DFT mengalirkan larutan nutrisi melalui saluran dengan kedalaman genangan tertentu sehingga sebagian akar tetap berada dalam larutan ketika sistem berhenti sesaat.Â
Cara membuatnya hampir menyerupai NFT, tetapi gunakan pipa atau talang yang mampu menampung larutan lebih dalam dan susun secara horizontal atau sedikit miring pada rangka di depan pagar. Buat lubang tanam pada bagian atas pipa, kemudian tempatkan netpot berisi tanaman sehingga akar dapat mencapai larutan nutrisi di dalam saluran.
Tempatkan tandon di bagian bawah, pasang pompa, lalu alirkan larutan ke saluran paling atas sebelum membiarkannya mengalir kembali ke tandon. Pastikan rangka dan pagar mampu menahan beban instalasi karena DFT menampung volume larutan lebih banyak daripada NFT; sistem ini juga tetap membutuhkan pemeriksaan pompa dan kualitas larutan secara berkala.Â
Advertisement
4. Hidroponik Vertikal Sistem Irigasi Tetes
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328846/original/097624400_1787210683-4.jpeg)
Sistem irigasi tetes dapat diterapkan pada pagar menggunakan beberapa pot atau kantong tanam yang disusun vertikal. Berbeda dari NFT dan DFT yang mengalirkan larutan melalui saluran, sistem ini memberikan larutan nutrisi secara perlahan melalui selang atau emitter langsung ke area media tanam.Â
Untuk membuatnya, pasang rangka vertikal yang kokoh di depan pagar, kemudian susun pot atau wadah tanam secara bertingkat. Hubungkan selang distribusi dari tandon ke setiap tingkat dan pasang emitter atau lubang tetes di dekat masing-masing tanaman agar larutan nutrisi dapat diberikan secara terkontrol.
Pompa digunakan untuk mengalirkan larutan dari tandon menuju selang distribusi, sedangkan kelebihan larutan dapat dirancang untuk kembali ke tandon jika menggunakan sistem sirkulasi. Atur aliran agar media tidak terus-menerus terlalu basah, sebab frekuensi dan volume pemberian perlu disesuaikan dengan jenis tanaman, ukuran wadah, media tanam, serta kondisi cuaca.
5. Hidroponik Dutch Bucket di Depan Pagar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328847/original/001806700_1787210684-5.jpeg)
Dutch bucket cocok untuk pagar yang memiliki ruang lebih luas karena setiap tanaman ditempatkan dalam wadah individual yang terhubung ke sistem irigasi. Model ini lebih sesuai untuk tanaman yang membutuhkan ruang akar dan tajuk lebih besar, seperti tomat atau cabai, dibandingkan sayuran daun yang berukuran kecil.Â
Cara membuatnya, siapkan beberapa ember atau wadah yang memiliki saluran pembuangan, lalu susun berjajar pada rak yang kokoh di depan pagar. Pasang selang irigasi dari tandon menuju bagian atas setiap bucket sehingga larutan nutrisi dapat diteteskan ke media, sementara saluran pembuangan di bagian bawah diarahkan kembali ke tandon.
Isi bucket dengan media tanam yang memiliki porositas baik, kemudian tanam bibit yang sudah cukup kuat dan pasang penyangga jika menggunakan tanaman yang tumbuh tinggi. Karena wadah berisi media dan larutan memiliki bobot cukup besar, jangan menggantung bucket langsung pada pagar yang tidak dirancang untuk menahan beban; gunakan rangka tersendiri yang stabil dan aman.
Advertisement
6. Hidroponik Rakit Apung Mini pada Rak Pagar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328848/original/006699300_1787210684-6.jpeg)
Rakit apung biasanya digunakan dengan tanaman yang ditempatkan pada papan atau lembaran apung di atas wadah berisi larutan nutrisi. Untuk diterapkan di area pagar, konsep tersebut dapat dibuat dalam bentuk rak bertingkat dengan bak-bak dangkal sehingga tidak harus memanfaatkan permukaan tanah yang luas.Â
Cara membuatnya, siapkan bak atau wadah yang kedap air dan buat papan apung dari material yang sesuai untuk hidroponik, kemudian lubangi papan sesuai ukuran netpot. Letakkan papan di atas larutan nutrisi sehingga bagian bawah netpot dan akar tanaman dapat mencapai larutan, sementara bagian tanaman tetap berada di atas permukaan.
Susun bak pada rak bertingkat di depan pagar dengan posisi yang mudah dijangkau untuk pemeriksaan air dan tanaman. Tanaman berdaun seperti selada dan pakcoy dapat menjadi pilihan, tetapi perhatikan suplai oksigen pada larutan dan jangan membuat susunan terlalu berat; aerator dapat ditambahkan untuk membantu memasok oksigen ke larutan, terutama pada wadah yang relatif dalam.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Model Hidroponik di Pagar Rumah
1. Apakah hidroponik bisa dipasang langsung pada pagar rumah?
Bisa, tetapi sebaiknya instalasi tidak langsung dibebankan pada pagar tanpa mempertimbangkan kekuatan konstruksinya. Gunakan rangka atau dudukan tambahan yang kokoh, terutama untuk sistem yang menggunakan pipa, tandon, atau wadah berisi banyak larutan nutrisi karena bobotnya dapat menjadi cukup berat.
2. Apa tanaman yang cocok untuk hidroponik di pagar rumah?
Sayuran berdaun seperti selada, pakcoy, kangkung, dan sawi umumnya lebih mudah ditanam pada instalasi hidroponik sederhana. Untuk sistem seperti Dutch bucket, Anda juga dapat menanam tanaman yang membutuhkan ruang lebih besar, misalnya tomat dan cabai, dengan menyediakan penyangga yang memadai.
3. Apakah hidroponik di pagar rumah harus menggunakan pompa?
Tidak selalu. Sistem wick dapat bekerja tanpa pompa karena memanfaatkan kemampuan sumbu untuk menyalurkan larutan nutrisi ke media tanam. Sementara itu, sistem NFT, DFT, dan sebagian sistem irigasi tetes membutuhkan pompa untuk mengalirkan larutan nutrisi.
4. Apakah hidroponik di pagar rumah membutuhkan sinar matahari?
Ya. Tanaman hidroponik tetap membutuhkan cahaya untuk melakukan fotosintesis, sehingga instalasi sebaiknya ditempatkan di area yang mendapatkan cahaya matahari sesuai kebutuhan tanaman. Jika pagar terlalu teduh, pertumbuhan tanaman dapat kurang optimal meskipun kebutuhan air dan nutrisinya terpenuhi.
5. Apa yang perlu diperhatikan saat membuat hidroponik di pagar rumah?
Perhatikan kekuatan rangka, akses untuk mengisi dan memeriksa larutan nutrisi, sirkulasi air, serta kebutuhan cahaya tanaman. Pastikan juga instalasi tidak menghalangi jalan, memiliki pembuangan atau sirkulasi air yang baik, dan kabel listrik untuk pompa terlindung dari air.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318670/original/097009500_1786124467-efb30e6b-7dc4-4c13-a54b-d81aacb7f640.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5173559/original/021886800_1742872977-cek_fakta_jemput.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306409/original/068173500_1784877920-cek_fakta_-_pendaftaran_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256352/original/040260500_1781154176-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-11T120248.984.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328842/original/079292900_1787210683-hl.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4902143/original/062232900_1721985237-rafael-garcin-cE1ObffUthE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3454626/original/078628700_1620726810-raphiell-alfaridzy-A3gSiQI6OPM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328797/original/080876000_1787208911-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328913/original/032341400_1787213572-pexels-elly-fairytale-4834147.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328761/original/097725700_1787208094-ChatGPT_Image_Aug_20__2026__01_05_16_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493940/original/096490700_1770272514-Membersihkan_Got.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627023/original/022700000_1782622344-masjid-pogung-dalangan-GGtHPUYx6oI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328787/original/059938700_1787208565-7003278317866844487.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320362/original/044518300_1786346864-Kedung_Sepur_SMT_wikipedia.jpg)