Jumlah Populasi Singa yang Tersisa di Alam Liar, IUCN Ungkap Data Terbaru

Jumlah populasi singa yang tersisa di alam liar terus terancam. Berikut data terbaru, wilayah habitat, dan penyebab penurunannya.

Diterbitkan 13 Agustus 2026, 16:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Jumlah populasi singa yang tersisa di alam liar kini diperkirakan sekitar 22.000–25.000 ekor singa dewasa dan subdewasa di Afrika. Angka tersebut merupakan estimasi terbaru IUCN SSC Cat Specialist Group untuk 2025, mengingat belum ada sensus tunggal yang menghitung seluruh singa di benua Afrika.

Di tengah penurunan populasi di banyak wilayah, ada pula kabar positif dari India. Populasi singa Asia di negara bagian Gujarat mencapai 891 ekor pada 2025, meningkat dari 674 ekor pada 2020.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masa depan singa sangat bergantung pada keberhasilan konservasi di setiap wilayah. Berikut Liputan6.com merangkum jumlah populasi singa yang tersisa di alam liar Kamis (13/8/2026).

Berapa Jumlah Populasi Singa yang Tersisa di Alam Liar?

Menentukan jumlah pasti singa yang hidup bebas bukan perkara mudah. Singa tersebar dalam populasi-populasi kecil yang terpisah di berbagai negara, sedangkan metode dan waktu penghitungan tidak selalu sama.

IUCN SSC Cat Specialist Group memperkirakan terdapat 22.000–25.000 singa dewasa dan subdewasa di Afrika pada 2025. Lion Recovery Fund menggunakan angka sekitar 23.000 ekor sebagai gambaran jumlah singa liar yang tersisa di Afrika.

Angka tersebut bukan hasil sensus seluruh benua dalam satu waktu. Data diperoleh dari berbagai survei dan penelitian, termasuk kamera jebak, pengamatan lapangan, pelacakan, model populasi, serta penilaian para ahli.

Perbedaan metode juga membuat angka dari satu negara tidak selalu bisa langsung dibandingkan dengan negara lain. Sebagian survei hanya menghitung singa dewasa dan subdewasa, sementara penghitungan tertentu turut memasukkan anak singa.

 

Wilayah Singa Terus Menyusut

Masalah singa bukan hanya jumlahnya yang berkurang. Habitat tempat mereka hidup juga mengalami penyusutan besar.

IUCN memperkirakan singa saat ini menempati wilayah sekitar 566.675 kilometer persegi, atau hanya 6,13 persen dari wilayah sebaran historisnya.

Antara 2004 dan 2025, wilayah sebaran singa diperkirakan menyusut sekitar 34 persen. Dalam periode yang kurang lebih mencakup tiga generasi singa tersebut, penurunan paling tajam terjadi di Afrika Barat dan Tengah.

Secara historis, singa memiliki wilayah sebaran yang jauh lebih luas. Satwa ini pernah hidup di sebagian besar Afrika, Eropa, Timur Tengah, serta Asia barat daya.

Kini, singa liar sebagian besar hanya ditemukan di Afrika sub-Sahara dan satu populasi singa Asia yang tersisa di India.

IUCN mencatat singa telah punah di setidaknya 16 negara Afrika. Di sejumlah negara lain, keberadaannya juga diduga telah hilang atau tersisa dalam jumlah yang sangat kecil.

Tanzania Menjadi Habitat Utama Singa

Tanzania merupakan salah satu benteng terpenting bagi populasi singa dunia.

Penelitian berjudul “Socio-political and ecological fragility of threatened, free-ranging African lion populations” (2023) oleh Samantha K. Nicholson dan sejumlah peneliti dalam jurnal Communications Earth & Environment memperkirakan Tanzania memiliki lebih dari 8.000 singa.

Jumlah tersebut menjadikan Tanzania sebagai salah satu negara dengan populasi singa terbesar di dunia.

Populasi penting lainnya terdapat di Afrika bagian timur dan selatan. Kenya, misalnya, mencatat 2.589 singa dalam National Wildlife Census 2021.

Botswana diperkirakan memiliki sekitar 2.800 singa, meskipun jumlah tersebut menunjukkan penurunan dari sekitar 3.500 ekor pada 2015.

Sementara itu, Afrika Selatan memiliki sekitar 3.490 singa yang hidup bebas, termasuk populasi di kawasan konservasi lintas batas.

Data tersebut memperlihatkan bahwa populasi singa masih cukup besar di sejumlah negara. Namun, banyak populasi lain berukuran kecil dan terisolasi sehingga lebih rentan terhadap kepunahan lokal.

 

Populasi Singa Asia di India Justru Meningkat

Perkembangan berbeda terlihat pada singa Asia di India. Pemerintah Gujarat mencatat 891 singa Asia pada 2025, meningkat dari 674 ekor pada 2020. Artinya, terdapat tambahan 217 ekor atau sekitar 32 persen dalam lima tahun.

Penghitungan tersebut mencakup singa dewasa, subdewasa, serta anak singa.

Keberhasilan tersebut menjadi contoh bahwa program konservasi yang konsisten dapat membantu memulihkan populasi satwa liar.

Kondisi singa Asia pada masa lalu jauh lebih mengkhawatirkan. IUCN mencatat populasi di kawasan Gir diperkirakan hanya sekitar 12 ekor pada sekitar 1880 akibat perburuan dan hilangnya habitat.

Perlindungan habitat, pengelolaan kawasan, peningkatan jumlah mangsa alami, serta pengawasan yang lebih baik kemudian membantu populasi tersebut berkembang.

Meski demikian, singa Asia belum sepenuhnya aman. Sebagian besar populasinya masih terkonsentrasi di kawasan Greater Gir, Gujarat.

Konsentrasi dalam satu bentang alam membuat populasi tersebut rentan terhadap penyakit, bencana, cuaca ekstrem, dan gangguan besar lainnya. Ketika singa semakin banyak keluar dari kawasan lindung, konflik dengan manusia, ternak, jalan raya, dan permukiman juga dapat meningkat.

Apa Penyebab Jumlah Singa Menurun?

1. Habitat semakin berkurang

Perubahan hutan, sabana, dan padang rumput menjadi lahan pertanian, peternakan, permukiman, serta infrastruktur membuat habitat singa semakin terbatas.

Habitat yang terpecah juga menyebabkan populasi singa terisolasi. Kondisi tersebut dapat menyulitkan perpindahan dan perkembangbiakan antarpopulasi.

2. Mangsa alami berkurang

Singa membutuhkan hewan mangsa dalam jumlah cukup untuk bertahan hidup. Ketika populasi herbivora seperti antelop, zebra, dan wildebeest menurun, singa harus mencari makanan di wilayah yang lebih luas.

IUCN mencatat penurunan populasi mangsa menjadi salah satu persoalan penting bagi singa, terutama di wilayah yang mengalami tekanan perburuan dan aktivitas manusia.

3. Konflik dengan manusia

Ketika habitat dan mangsa alami berkurang, singa lebih mungkin mendekati wilayah yang dihuni manusia.

Singa dapat memangsa ternak seperti sapi atau kambing. Bagi masyarakat, kehilangan ternak dapat menjadi kerugian ekonomi yang besar.

Situasi tersebut dapat memicu pembunuhan singa sebagai bentuk pembalasan. Karena itu, konservasi perlu melibatkan masyarakat yang hidup di sekitar habitat singa.

4. Perburuan dan jerat

Singa juga menghadapi ancaman perburuan dan jerat. Perangkap yang dipasang untuk menangkap hewan mangsa dapat melukai atau membunuh singa.

Di beberapa wilayah, lemahnya pengawasan kawasan konservasi membuat aktivitas perburuan semakin sulit dikendalikan.

5. Perdagangan bagian tubuh

Perdagangan bagian tubuh singa juga menjadi perhatian konservasi. IUCN mencatat adanya perdagangan tulang dan bagian tubuh singa yang berkaitan dengan permintaan pasar satwa liar.

Ancaman ini menunjukkan pentingnya penegakan hukum, bukan hanya di kawasan habitat singa, tetapi juga pada jalur perdagangan satwa liar.

6. Konflik dan ketidakstabilan politik

Beberapa habitat singa berada di negara yang mengalami konflik bersenjata atau ketidakstabilan politik.

Situasi tersebut dapat membuat kawasan konservasi sulit diawasi. Data mengenai populasi juga menjadi terbatas sehingga kondisi sebenarnya sulit diketahui secara akurat.

Status Konservasi Singa

Singa (Panthera leo) saat ini berstatus Vulnerable atau Rentan dalam Daftar Merah IUCN.

IUCN mengakui dua subspesies singa, yakni Panthera leo leo dan Panthera leo melanochaita.

Panthera leo leo mencakup singa Asia serta populasi di Afrika Barat dan Tengah. Sementara itu, Panthera leo melanochaita mencakup populasi di Afrika Timur dan Selatan.

Status tersebut juga menunjukkan adanya perbedaan tingkat ancaman di setiap wilayah. Singa di Afrika Barat dan Tengah menghadapi tekanan yang jauh lebih berat dibandingkan sejumlah populasi besar di Afrika Timur dan Selatan.

IUCN Green Status of Species juga menempatkan singa dalam kategori Largely Depleted. Artinya, spesies tersebut masih ada, tetapi jumlah dan wilayah keberadaannya telah jauh berkurang dibandingkan kondisi alaminya sebelum mengalami tekanan manusia.

 

Apakah Singa Masih Bisa Diselamatkan?

Penurunan jumlah singa memang mengkhawatirkan, tetapi keberhasilan di sejumlah wilayah menunjukkan bahwa konservasi masih dapat memberikan hasil.

Salah satu kuncinya adalah melindungi habitat sekaligus memastikan ketersediaan mangsa. Kawasan konservasi juga membutuhkan pengawasan yang efektif untuk mencegah perburuan dan pemasangan jerat.

Hubungan antara masyarakat dan satwa juga harus diperhatikan. Pengamanan kandang ternak, kompensasi kerugian, edukasi, serta manfaat ekonomi dari ekowisata dapat membantu mengurangi konflik manusia-singa.

India menjadi salah satu contoh bahwa perlindungan jangka panjang dapat membantu populasi pulih. Peningkatan jumlah singa Asia dari 674 menjadi 891 ekor dalam lima tahun menunjukkan bahwa tren penurunan tidak selalu bersifat permanen.

Namun, angka tersebut juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan konservasi harus dipertahankan dalam jangka panjang.

Jumlah populasi singa yang tersisa di alam liar memang masih berada pada puluhan ribu ekor, tetapi jumlah tersebut harus dilihat dalam konteks yang lebih luas. IUCN memperkirakan hanya sekitar 22.000–25.000 singa dewasa dan subdewasa yang tersisa di Afrika pada 2025, sementara wilayah sebarannya kini hanya sekitar 6,13 persen dari wilayah historis.

Tanzania menjadi salah satu benteng utama dengan lebih dari 8.000 singa. Sebaliknya, beberapa populasi di Afrika Barat dan Tengah berada dalam kondisi sangat rentan.

Di sisi lain, singa Asia di India memberikan harapan dengan populasi yang meningkat menjadi 891 ekor pada 2025. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perlindungan habitat, mangsa, dan dukungan masyarakat dapat menentukan masa depan salah satu predator paling ikonik di dunia.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Jumlah Singa di Dunia

1. Berapa jumlah singa yang tersisa di alam liar?

IUCN memperkirakan terdapat sekitar 22.000–25.000 singa dewasa dan subdewasa di Afrika pada 2025. India mencatat 891 singa Asia pada tahun yang sama.

2. Negara mana yang memiliki singa paling banyak

?Tanzania merupakan salah satu negara dengan populasi singa terbesar di dunia, dengan estimasi lebih dari 8.000 ekor.

3. Mengapa populasi singa terus menurun?

Penyebab utamanya meliputi hilangnya habitat, berkurangnya mangsa, konflik dengan manusia, perburuan, jerat, perdagangan bagian tubuh, serta ketidakstabilan politik di sejumlah wilayah.

 

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6