Liputan6.com, Jakarta - Berwisata bukan lagi sekadar berpindah tempat dan mengumpulkan foto di lokasi populer. Semakin banyak wisatawan mencari pengalaman yang membekas, sesuatu yang melibatkan indra, keterampilan tangan, atau proses belajar langsung dari komunitas lokal dengan mengunjungi destinasi paling kreatif di dunia. Jenis perjalanan seperti ini menuntut keterlibatan lebih dalam, bukan sekadar menonton dari balik lensa kamera.
Destinasi kreatif adalah kota atau kawasan yang menjadikan seni, kriya, atau tradisi tertentu sebagai bagian dari denyut kehidupan sehari-hari, bukan sekadar objek yang dipajang untuk wisatawan. Di tempat semacam ini, pengunjung bisa masuk ke sanggar, menyaksikan proses kerja perajin, bahkan mencoba langsung teknik seperti membatik atau menenun bersama warga setempat.
Berikut ini adalah enam destinasi paling kreatif di dunia 2026 menurut Lonely Planet, yang telah dilansir oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (13/8/2026). Mari simak ulasan lengkapnya di bawah ini.
Advertisement
1. Shantiniketan, India
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323111/original/091212500_1786601256-pexels-artosuraj-38641642.jpg)
Kota kecil di negara bagian Benggala Barat ini berdiri di atas warisan pemikiran sastrawan Rabindranath Tagore, yang pada 1919 mendirikan Kala Bhavana, sekolah seni tanpa dinding pembatas ruang kelas. Para murid belajar di bawah pohon, melukis langsung di dinding bangunan, dan bebas berpindah antara seni lukis, patung, kriya, dan pertunjukan.
Semangat itu masih hidup hingga sekarang, baik di kampus Visva-Bharati University maupun di seantero kota. Pembatik, penyulam kantha, perajin cetak, dan pematung terus berkarya di sana. UNESCO bahkan menetapkan Shantiniketan sebagai Situs Warisan Dunia pada 2023 karena perpaduan unik antara pendidikan, seni, arsitektur, dan lanskapnya.
Waktu terbaik berkunjung adalah Desember, saat festival Poush Mela digelar dan kota dipenuhi musisi Baul serta perajin dari seluruh Benggala. Dari Kolkata, kereta menuju Stasiun Bolpur Shantiniketan hanya memakan waktu sekitar 2,5 hingga 3 jam perjalanan.
Advertisement
2. Patan, Nepal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323112/original/006485200_1786601257-tobias-federle-wTM4j6_9DR4-unsplash.jpg)
Terletak di seberang Sungai Bagmati dari Kathmandu, Patan merupakan jantung budaya masyarakat Newar, kelompok masyarakat asli yang bahasa, arsitektur, dan keterampilan kriyanya turut membentuk wajah Lembah Kathmandu. Jejak seni Newar terlihat di hampir setiap sudut kota, mulai dari halaman berukir hingga atap kuil berlapis emas.
Kawasan Okubahal terkenal dengan kerajinan logam repoussé, teknik memahat pola rumit di atas lempengan logam tipis, serta pengecoran lilin hilang yang sudah dipakai berabad-abad untuk membuat arca Buddha dan Hindu. Studio-studio di sekitarnya juga masih melestarikan lukisan paubha, seni sakral yang kelak memengaruhi lukisan thangka Tibet.
Yang membuat Patan istimewa adalah bagaimana tradisi ini tetap menyatu dengan kehidupan sehari-hari, bukan sekadar dipajang untuk turis. Waktu terbaik berkunjung adalah Oktober hingga Maret saat cuaca sejuk dan kering, sedangkan Patan sendiri hanya berjarak 20 hingga 30 menit berkendara dari Bandara Internasional Tribhuvan.
3. Grasse, Prancis
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323113/original/020577500_1786601257-1920px-Boulevard_du_Jeu_de_Ballon__Grasse__Provence-Alpes-C__te_d_Azur__France_-_panoramio__1_.jpg)
Bagaimana rupa sebuah kota kreatif jika medium utamanya adalah aroma? Pertanyaan itu terjawab di Grasse, kota di selatan Prancis yang sejak abad ke-16 membangun seluruh kehidupan budayanya di sekitar indra penciuman. Kota ini kemudian tumbuh menjadi pusat produksi parfum dunia.
UNESCO mengakui pengetahuan olfaktori Grasse pada 2018, menghormati bukan hanya keahlian meracik parfum tetapi juga tradisi budi daya bunga dan pengolahan bahan mentah menjadi ekstrak aromatik. Rumah parfum ternama seperti Fragonard, Galimard, dan Molinard masih melatih para peracik wangi hingga kini, berdampingan dengan generasi muda yang bereksperimen dengan pendekatan baru.
Mawar Centifolia yang harum mekar setiap Mei, disusul melati pada Agustus, menjadikan dua bulan itu waktu paling tepat untuk berkunjung. Dari Bandara Nice Côte d'Azur, Grasse dapat dicapai dengan bus sekitar satu jam perjalanan.
Advertisement
4. Yogyakarta, Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323114/original/027297400_1786601257-pexels-al-fariz-273926121-12910426.jpg)
Yogyakarta menempati posisi istimewa dalam daftar ini sebagai satu-satunya destinasi asal Indonesia. Kota ini menjadi salah satu dari sedikit tempat di dunia yang tetap mempertahankan tiga unsur utama secara bersamaan, yakni keraton, universitas seni, dan ekonomi kriya yang terus berkembang, dan ketiganya membentuk denyut nadi kehidupan sehari-hari warganya.
Batik menjadi wajah utama kreativitas Yogyakarta. Proses pembuatannya melibatkan penerapan lilin pada kain sebelum pencelupan warna, menghasilkan motif geometris khas keraton hingga corak naratif yang sarat makna. UNESCO mengakui batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan sejak 2009 karena keterikatannya yang erat dengan identitas dan ritual sosial masyarakat.
Denyut kreatif kota ini juga terasa di Institut Seni Indonesia, tempat mahasiswa mempelajari gamelan, tari klasik, hingga wayang kulit, serta di Kotagede, sentra kerajinan perak yang tekniknya diwariskan turun-temurun. Musim kering antara Mei hingga September menjadi waktu ideal untuk menjelajahi kota ini sekaligus candi Prambanan dan Borobudur di sekitarnya.
5. Kanazawa, Jepang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323115/original/043680600_1786601257-marek-piwnicki-1BQy6ypwFLg-unsplash.jpg)
Kanazawa di Pulau Honshu menawarkan jawaban khas Jepang atas pertanyaan yang sering menjadi tantangan banyak kota, yaitu bagaimana tradisi dan eksperimen modern bisa tumbuh berdampingan. Museum Seni Kontemporer Abad ke-21 karya arsitek peraih Pritzker Prize, Kazuyo Sejima dan Ryue Nishizawa, menjadi salah satu ikon utama kota ini sejak dibuka pada 2004.
Tidak jauh dari sana, distrik Higashi Chaya menyimpan salah satu kawasan geisha yang paling terjaga di Jepang, tempat calon geisha masih berlatih musik, tari, dan seni menjamu tamu. Praktik kriya di sekitarnya sama dinamisnya, mulai dari keramik Kutani, pewarnaan Kaga, hingga karya pernis yang terus dieksperimentasi para perajin muda.
Awal April menjadi waktu terbaik untuk menikmati bunga sakura, sementara Oktober hingga November cocok bagi pencinta warna daun musim gugur. Dari Tokyo, kereta cepat Hokuriku Shinkansen menuju Stasiun Kanazawa hanya membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam.
Advertisement
6. Bukhara, Uzbekistan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323116/original/057421100_1786601257-evgeny-matveev-e2uaQCdKOFw-unsplash.jpg)
Sebagai salah satu kota bersejarah terpenting di Asia Tengah, Bukhara selama berabad-abad menjadi persimpangan perdagangan antara Persia, India, Tiongkok, Timur Tengah, dan kawasan Mediterania. Pertukaran budaya yang intensif itu melahirkan tradisi kriya yang kaya, mulai dari sulaman emas hingga tenun sutra yang masih aktif diproduksi di pasar-pasar kota tua.
Babak terbaru dalam sejarah kreatif Bukhara hadir lewat seni kontemporer. Bukhara Biennial pertama pada 2025 mempertemukan seniman internasional dengan perajin master Uzbekistan dalam proyek kolaboratif yang dipasang di karavanserai, madrasah, dan ruang publik bersejarah kota tersebut.
Musim semi dan musim gugur menawarkan cuaca paling nyaman untuk berkunjung, sementara edisi biennial berikutnya dijadwalkan berlangsung pada September hingga November 2027. Bukhara dapat dicapai dengan penerbangan melalui Tashkent atau kereta cepat dari Tashkent maupun Samarkand.
Pertanyaan Seputar Destinasi Paling Kreatif di Dunia
1. Apa saja destinasi paling kreatif di dunia versi Lonely Planet 2026? Daftar ini mencakup enam kota, yaitu Shantiniketan di India, Patan di Nepal, Grasse di Prancis, Yogyakarta di Indonesia, Kanazawa di Jepang, dan Bukhara di Uzbekistan.
2. Mengapa Yogyakarta masuk daftar destinasi paling kreatif di dunia? Yogyakarta dinilai unik karena memadukan keraton, universitas seni, dan ekonomi kriya seperti batik dan perak yang tetap hidup sebagai bagian dari keseharian warganya, bukan sekadar tontonan wisata.
3. Kapan waktu terbaik mengunjungi Grasse, kota parfum di Prancis? Bulan Mei menjadi waktu terbaik karena bertepatan dengan panen mawar Centifolia, sedangkan Agustus dipilih banyak wisatawan karena musim panen bunga melati.
4. Apa keistimewaan Kanazawa dibanding kota kreatif lain di Jepang? Kanazawa memadukan seni kontemporer, terutama lewat Museum Seni Kontemporer Abad ke-21, dengan tradisi geisha dan kriya klasik seperti keramik Kutani yang masih aktif dilestarikan.
5. Apa yang membuat Bukhara relevan sebagai destinasi kreatif saat ini? Selain warisan Jalur Sutra yang kaya, Bukhara kini punya Bukhara Biennial, ajang seni kontemporer yang mempertemukan seniman internasional dengan perajin lokal di ruang-ruang bersejarah kota.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323076/original/064136000_1786599582-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-13T123857.729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323057/original/029470100_1786598614-cek_fakta_-_jusuf_kalla_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322343/original/021494700_1786525018-HOAX__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542212/original/065975700_1774936641-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323110/original/075825300_1786601256-camille-bismonte-vUc03gxjEY4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2992830/original/020508800_1576041384-IMG_2172.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4537600/original/041670700_1692018376-Hari-Pramuka-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3992213/original/087054000_1649681581-philip-veater-X4DAtPvhgwo-unsplash.jpg)