Sejarah Hari Bakti TNI Angkatan Udara dan Peristiwa 29 Juli 1947 yang Heroik

Sejarah Hari Bakti TNI Angkatan Udara berawal dari serangan balasan AURI dan gugurnya tiga perintis AURI pada 29 Juli 1947.

Diterbitkan 28 Juli 2026, 11:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Setiap tanggal 29 Juli, bangsa Indonesia memperingati Hari Bakti TNI Angkatan Udara, sebuah momentum penting yang didedikasikan untuk mengenang jasa heroik para pendahulu dalam mempertahankan kemerdekaan. Dalam sejarah Hari Bakti TNI Angkatan Udara, peringatan ini berakar kuat pada dua peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari yang sama di tahun 1947, yakni serangan udara balasan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dan insiden tragis gugurnya tiga perintis AURI. 

Latar belakang peristiwa krusial ini adalah Agresi Militer Belanda I yang dilancarkan pada 21 Juli 1947. Agresi tersebut merupakan pengingkaran Belanda terhadap Perjanjian Linggarjati, yang kemudian memicu kehancuran pangkalan-pangkalan TNI AU akibat serangan mendadak. Belanda berupaya mengintimidasi dan memaksa pasukan Indonesia mundur ke pedalaman, sekaligus menghancurkan potensi kekuatan udara yang dimiliki di berbagai daerah.

Kondisi genting ini membangkitkan kemarahan dan semangat perlawanan di kalangan prajurit TNI AU. Sebagai respons atas agresi tersebut, AURI memutuskan untuk melancarkan serangan udara balasan yang menjadi salah satu babak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan. Simak ulasan tentang sejarah Hari Bakti TNI Angkatan Udara yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (28/7/2026).

Latar Belakang Berdirinya AURI dan Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pemerintah menyadari pentingnya memiliki kekuatan udara sendiri untuk mempertahankan kedaulatan negara. Pada 9 April 1946 dibentuk Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TRI AU), yang kemudian berkembang menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Pada masa awal pembentukannya, AURI menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari minimnya pesawat, perlengkapan, hingga personel terlatih.

Sebagian besar pesawat yang dimiliki berasal dari peninggalan Jepang yang diperbaiki dan dioperasikan kembali oleh para teknisi serta penerbang Indonesia. Dengan kemampuan yang sangat terbatas, para perintis AURI tidak hanya menjalankan tugas militer, tetapi juga misi kemanusiaan, pengiriman logistik, obat-obatan, dan komunikasi antardaerah yang terisolasi akibat blokade Belanda.

Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I pada 21 Juli 1947, AURI berada dalam kondisi yang belum kuat secara persenjataan. Namun semangat perjuangan para penerbang muda tetap tinggi. Serangan udara balasan dari Maguwo pada 29 Juli 1947 menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki tekad untuk mempertahankan kemerdekaannya meskipun dengan sarana yang sangat terbatas.

Latar belakang inilah yang membuat peristiwa 29 Juli tidak hanya dikenang sebagai operasi militer, tetapi juga sebagai simbol keberanian, pengorbanan, dan lahirnya tradisi pengabdian TNI Angkatan Udara kepada bangsa dan negara.

Serangan Udara Balasan AURI dari Maguwo

Pada dini hari 29 Juli 1947, sekitar pukul 05.00 pagi, AURI melancarkan operasi udara balasan yang berani dari Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta, yang kini dikenal sebagai Pangkalan Udara Adisutjipto. Operasi ini melibatkan tiga pesawat AURI: satu pesawat pengebom Guntei dan dua pesawat tempur Chureng.

Pesawat Guntei, yang membawa 400 kg bom, diterbangkan oleh Kadet Penerbang Mulyono dengan penembak udara Dulrachman, menargetkan Semarang. Sementara itu, dua pesawat Chureng, yang dilengkapi bom bakar dan senapan mesin, dikemudikan oleh Kadet Penerbang Sutardjo Sigit dengan penembak udara Sutardjo, serta Kadet Penerbang Suharnoko Harbani dengan penembak udara Kaput. Kedua pesawat Chureng ini menyerang tangsi militer Belanda di Salatiga dan Ambarawa.

Meskipun sebuah pesawat buru sergap Hayabusha yang seharusnya mengawal pesawat Mulyono, yang diawaki oleh Kadet Penerbang Bambang Saptoadji, terpaksa dibatalkan karena mengalami kerusakan, serangan udara ini berhasil menciptakan kepanikan di pihak tentara Belanda. Lebih dari itu, aksi ini secara signifikan membangkitkan semangat juang dan rasa percaya diri bangsa Indonesia di tengah tekanan agresi militer.

Gugurnya Tiga Perintis AURI di Ngoto

Namun, pada sore hari yang sama, 29 Juli 1947, peristiwa tragis menimpa Angkatan Udara Republik Indonesia. Belanda melancarkan serangan balasan yang menembak jatuh pesawat Dakota VT-CLA. Pesawat ini membawa bantuan obat-obatan dan alat kesehatan dari Palang Merah Malaya (Singapura) untuk Palang Merah Indonesia.

Pesawat Dakota tersebut dipiloti oleh Alexander Noel Constantine, seorang warga Australia, dan kopilot Roy Hazlehurst yang berasal dari Inggris. Insiden tragis ini terjadi di Desa Ngoto, sekitar 3 kilometer sebelah selatan Yogyakarta, ketika pesawat hendak mendarat di Pangkalan Udara Maguwo. Pesawat ditembak jatuh oleh pesawat P-40 Kittyhawk milik Belanda.

Musibah ini merenggut nyawa tiga tokoh dan perintis utama Angkatan Udara Republik Indonesia: Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, dan Opsir Muda Udara I Adisumarmo Wiryokusumo. Gugurnya para tokoh penting ini menimbulkan kedukaan mendalam, mengingat tenaga dan pemikiran mereka sangat dibutuhkan untuk membangun serta membesarkan Angkatan Udara yang baru terbentuk.

Penetapan dan Makna Hari Bakti TNI AU

Untuk menghargai dan mengenang kedua peristiwa heroik sekaligus tragis yang terjadi pada 29 Juli 1947, TNI AU kemudian menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Bakti TNI AU. Sejak 29 Juli 1962, peringatan ini secara resmi disebut "Hari Bhakti TNI AU" dan setiap tahunnya diperingati secara terpusat di Pangkalan Udara Adisutjipto.

Lokasi jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA di Desa Ngoto telah diresmikan menjadi Monumen Perjuangan TNI AU, berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor: Skep/78/VII/2000 yang dikeluarkan pada 17 Juli 2000. Sebagai bentuk penghormatan lebih lanjut, kerangka jenazah Marsda TNI (anumerta) Adisucipto dan Marsda TNI (anumerta) Abdulrachman Saleh, beserta istri mereka, dipindahkan dari TPU Kuncen Yogyakarta ke pemakaman TNI AU Ngoto Yogyakarta.

Nama ketiga pahlawan yang gugur tersebut kini diabadikan menjadi nama bandar udara penting di Indonesia, yaitu Bandara Adisutjipto di Yogyakarta, Bandara Abdulrachman Saleh di Malang, dan Bandara Adisumarmo di Solo.

Peringatan Hari Bakti TNI AU bukan sekadar rangkaian seremonial semata, melainkan implementasi nyata jati diri TNI AU sebagai Tentara Rakyat yang senantiasa hadir membantu mengatasi kesulitan masyarakat, seringkali melalui kegiatan bakti sosial, donor darah, pengobatan gratis, sunatan massal, anjangsana kepada keluarga besar TNI AU, hingga doa bersama.

Pertanyaan Seputar Sejarah Hari Bakti TNI Angkatan Udara

Kapan Hari Bakti TNI Angkatan Udara diperingati?

Hari Bakti TNI Angkatan Udara diperingati setiap tanggal 29 Juli.

Peristiwa penting apa yang melatarbelakangi Hari Bakti TNI AU?

Hari Bakti TNI AU dilatarbelakangi oleh dua peristiwa bersejarah pada 29 Juli 1947: serangan udara balasan AURI terhadap Belanda dan gugurnya tiga perintis AURI (Agustinus Adisutjipto, Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, dan Adisumarmo Wiryokusumo) setelah pesawat mereka ditembak jatuh.

Siapa saja tiga perintis AURI yang gugur pada 29 Juli 1947?

Tiga perintis AURI yang gugur pada 29 Juli 1947 adalah Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, dan Opsir Muda Udara I Adisumarmo Wiryokusumo.

Di mana lokasi jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA yang menewaskan para perintis AURI?

Pesawat Dakota VT-CLA jatuh di Desa Ngoto, sekitar 3 kilometer sebelah selatan Yogyakarta, saat hendak mendarat di Pangkalan Udara Maguwo.

Sejak kapan peringatan Hari Bakti TNI AU secara resmi disebut "Hari Bhakti TNI AU"?

Peringatan ini secara resmi disebut "Hari Bhakti TNI AU" sejak 29 Juli 1962.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6