20 Cara Menghilangkan Rasa Malas agar Kembali Produktif dan Bersemangat

Cara menghilangkan rasa malas lewat langkah praktis berbasis sains: pahami penyebabnya, terapkan aturan dua menit, atur jadwal, olahraga, dan tidur cukup.

Diterbitkan 27 Juli 2026, 10:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Rasa malas bisa menyerang siapa saja dan membuat rencana penting jadi tertunda. Kabar baiknya, cara menghilangkan rasa malas dapat dilatih lewat langkah-langkah sederhana yang konsisten.

Kuncinya bukan menunggu semangat datang, melainkan bergerak lebih dulu. Dengan strategi yang tepat, cara menghilangkan rasa malas terbukti mampu memulihkan fokus sekaligus meningkatkan produktivitas harian Anda.

Para ahli menekankan bahwa rasa malas kerap bukan sekadar cacat karakter, melainkan sinyal adanya ketidakseimbangan, mulai dari kelelahan, emosi yang tertekan, hingga tujuan yang kabur.

Cara Menghilangkan Rasa Malas dari Akar Penyebabnya

Langkah paling mendasar dalam cara menghilangkan rasa malas adalah memahami dari mana rasa itu berasal. Malas jarang muncul tanpa sebab dan biasanya menandakan ada sesuatu yang perlu dibenahi.

Sebagaimana dilaporkan Live Science, peneliti University of Oxford menemukan bahwa pada orang yang cenderung malas, koneksi otak yang mengubah keputusan menjadi tindakan bekerja kurang efisien sehingga tubuh membutuhkan energi lebih besar untuk mulai bergerak.

Mengacu pada studi \tim dari Vanderbilt University (Treadway et al., 2012) dalam jurnal Cerebral Cortex, kadar dopamin di otak turut memengaruhi motivasi; pemilik dopamin tinggi cenderung lebih bertenaga, sementara kadar yang rendah berkaitan dengan menurunnya dorongan untuk bertindak.

  1. Kenali pemicu yang sebenarnya: Catat aktivitas harian selama satu minggu untuk menemukan pola. Sering kali rasa malas dipicu oleh kelelahan, rasa kewalahan, atau takut gagal, bukan sekadar enggan berusaha.

  2. Berhenti menghakimi diri sendiri: Menyalahkan diri secara berlebihan justru memperdalam kemalasan. Terimalah kondisi Anda saat ini lebih dahulu, lalu susun rencana kecil untuk bangkit tanpa rasa bersalah.

  3. Tetapkan tujuan yang realistis: Target yang terlalu tinggi membuat kewalahan dan memadamkan semangat. Pecah menjadi sasaran-sasaran kecil sesuai kemampuan agar terasa mudah dicapai.

  4. Hindari jebakan perfeksionisme: Mengejar hasil sempurna membuat Anda menunda karena takut hasilnya kurang bagus. Utamakan menuntaskan pekerjaan, bukan menyempurnakan setiap detail.

  5. Ubah cara pandang terhadap rasa malas: Anggap malas sebagai umpan balik, bukan aib. Dengan begitu Anda lebih mudah mencari solusi ketimbang tenggelam dalam kekecewaan.

Menunda-nunda adalah kegagalan dalam mengatur emosi; kita mengira dengan menundanya, kita akan merasa lebih baik

Sikap penuh belas kasih pada diri sendiri, penetapan tujuan, dan pola pikir bertumbuh disebut para psikolog sebagai fondasi untuk melepaskan diri dari jerat kemalasan.

Berdasarkan analisis dalam Psychological Bulletin, tingkat perfeksionisme pada anak muda terus meningkat selama beberapa dekade dan berkaitan dengan naiknya risiko stres serta rasa malas. James Clear, penulis buku laris Atomic Habits, menjelaskan, "Aturan dua menit menekan perfeksionisme, rasa takut, dan kecenderungan untuk terlalu banyak merencanakan atau meriset."

Memahami akar masalah juga membantu Anda membedakan malas biasa dengan kebiasaan menunda-nunda yang lebih kronis. Sebab tidak semua orang malas dengan alasan yang sama, mengenali tipe prokrastinasi Anda sendiri akan mempercepat proses perbaikan.

Cara Menghilangkan Rasa Malas dengan Aksi Kecil yang Konsisten

Setelah pemicunya dipahami, cara menghilangkan rasa malas berikutnya adalah membangun momentum melalui aksi-aksi kecil. Otak lebih mudah diajak bergerak ketika sebuah tugas terasa ringan dan jelas.

Riset perilaku menunjukkan bahwa menunggu suasana hati yang tepat justru kontraproduktif; tindakan kecil yang dilakukan lebih dahulu itulah yang memicu motivasi, bukan sebaliknya.

  1. Terapkan aturan dua menit: Ciutkan tugas menjadi versi dua menit, misalnya "buka buku lalu baca satu halaman". Begitu mulai bergerak, biasanya Anda terdorong untuk melanjutkan lebih jauh.

  2. Kerjakan dari yang termudah: Menuntaskan tugas ringan lebih dulu menumbuhkan rasa berhasil. Perasaan ini menjadi bahan bakar untuk mengerjakan tugas yang lebih berat setelahnya.

  3. Pecah tugas besar: Bagi pekerjaan besar menjadi potongan-potongan kecil yang terkelola. Cara ini mengurangi rasa kewalahan yang sering menjadi sumber kemalasan.

  4. Susun jadwal dan skala prioritas: Tentukan kapan dan berapa lama sebuah tugas dikerjakan. Teknik Pomodoro dengan 25 menit fokus dan 5 menit istirahat bisa menjadi titik awal yang praktis.

  5. Kurangi jumlah keputusan: Siapkan pakaian, rencana, dan alat kerja pada malam sebelumnya. Semakin sedikit keputusan yang harus diambil, semakin sedikit energi mental yang terkuras.

  6. Singkirkan gangguan dan tata ruang kerja: Rapikan meja, jauhkan ponsel, dan matikan notifikasi. Ruang yang bersih dan terorganisir mengundang Anda untuk mulai bekerja.

  7. Beri hadiah pada diri sendiri: Rayakan pencapaian kecil dengan hal yang Anda sukai. Otak akan mengasosiasikan usaha dengan hal positif sehingga semangat lebih terjaga.

  8. Minta dukungan orang lain: Melibatkan teman atau rekan menambah rasa tanggung jawab sekaligus motivasi. Meminta bantuan bukan tanda lemah, melainkan strategi untuk mencapai keberhasilan.

Ketika seseorang memulai kebiasaan baru, kebiasaan tersebut sebaiknya dapat dilakukan dalam waktu kurang dari dua menit.

Joel Brown, pendiri platform pengembangan diri Addicted to Success menyatakan bahwa seseorang perlu menerima rasa tidak nyaman saat memulai karena hal tersebut merupakan salah satu cara untuk mengatasi kebiasaan menunda dan membangun kembali momentum.

Dalam bukunya Solving the Procrastination Puzzle, Timothy Pychyl menegaskan bahwa seseorang sebaiknya melepaskan anggapan keliru bahwa motivasi harus muncul terlebih dahulu sebelum mulai mengerjakan tugas yang ada di hadapannya.

 

Menerapkan manajemen waktu yang rapi akan membuat aksi-aksi kecil tadi berjalan otomatis. Anda juga bisa mempelajari cara mengatur waktu agar setiap target harian lebih mudah tercapai, dan langkah nyata inilah inti dari cara menghilangkan rasa malas.

Baca juga: 6 kebiasaan agar kerja lebih produktif

Baca juga: cara menghindari kebiasaan menunda pekerjaan

Baca juga: 7 aturan dasar menambah produktivitas kerja

 

Kebiasaan Sehat yang Membantu Melawan Rasa Malas

Selain teknik kerja, cara menghilangkan rasa malas juga ditopang oleh gaya hidup sehat yang menjaga energi tetap stabil sepanjang hari. Tubuh yang bugar membuat pikiran lebih siap untuk fokus dan bergerak.

Sebagaimana diungkapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hampir satu miliar orang di dunia hidup dengan gangguan mental seperti kecemasan dan depresi, sehingga menjaga kesehatan fisik sekaligus mental menjadi sangat penting untuk mempertahankan motivasi. Merujuk penelitian yang dipublikasikan di British Journal of Sports Medicine, aktivitas fisik bahkan terbukti sekitar 1,5 kali lebih efektif meredakan gejala depresi ringan hingga sedang, stres, dan kecemasan dibanding sebagian bentuk terapi.

  1. Berolahraga secara rutin: Jalan kaki, bersepeda, atau yoga singkat dapat memperbaiki suasana hati dan menambah energi. Manfaat olahraga bagi kesehatan mental sudah terbukti mampu menekan stres dan kecemasan.

  2. Tidur cukup 7-9 jam: Kurang istirahat membuat tubuh letih dan sulit fokus. Sebaliknya, tidur yang cukup meningkatkan energi secara alami tanpa harus bergantung pada kafein.

  3. Penuhi asupan bergizi: Konsumsi makanan tinggi protein seperti telur, dada ayam, tahu, dan tempe untuk menjaga gula darah stabil. Batasi makanan tinggi gula dan lemak yang membuat tubuh cepat lemas.

  4. Lakukan meditasi singkat: Beberapa menit menenangkan pikiran sebelum memulai hari membantu Anda lebih mudah berkonsentrasi. Ketenangan ini memudahkan pengelolaan emosi, termasuk membuang rasa malas.

  5. Nikmati alam sejenak: Melihat pepohonan atau tanaman hijau terbukti menyegarkan pikiran. Bila tidak sempat keluar, letakkan tanaman kecil di dekat meja kerja Anda.

  6. Batasi media sosial: Waktu yang terbuang untuk menggulir layar sering menjadi celah kemalasan. Tetapkan batas waktu agar energi dan fokus tidak terkuras percuma.

  7. Bangun rutinitas harian: Waktu bangun, tidur, dan bekerja yang konsisten membangun kebiasaan produktif. Rutinitas mengurangi keraguan yang biasa memicu penundaan.

Menariknya, aktivitas fisik ringan pun sudah cukup memberi manfaat olahraga secara teratur bagi tubuh dan pikiran. Sejumlah studi juga menyoroti bahwa olahraga dinilai lebih efektif ketimbang sebagian terapi, sekaligus memberi dampak positif terhadap kesehatan mental dan menjaga kesehatan psikologis agar lebih seimbang.

Baca juga: 8 manfaat tidur cukup bagi kesehatan

Baca juga: 15 tips semangat kerja yang ampuh

Baca juga: cara efektif meningkatkan produktivitas dari rumah

Pada akhirnya, cara menghilangkan rasa malas bukan soal memaksakan kehendak dalam semalam, melainkan membangun kebiasaan kecil yang dijaga konsisten hingga bergerak terasa wajar. Mulailah dari satu langkah hari ini, sekecil apa pun itu, lalu biarkan momentum melakukan sisanya.

 

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Rasa Malas

Apa penyebab rasa malas yang terus-menerus?

Rasa malas yang berlarut biasanya dipicu banyak faktor sekaligus, seperti tujuan yang tidak jelas, kelelahan, rasa kewalahan, sikap perfeksionis, hingga kesulitan mengatur emosi. Selain faktor psikologis, kondisi biologis seperti kadar dopamin dan pola koneksi otak juga ikut memengaruhi seberapa mudah seseorang tergerak untuk bertindak.

Bagaimana cara menghilangkan rasa malas saat bekerja atau belajar?

Mulailah dari langkah paling kecil dengan aturan dua menit, kerjakan tugas termudah lebih dulu, lalu susun jadwal dan skala prioritas yang realistis. Dukung dengan istirahat cukup, olahraga ringan, dan lingkungan kerja yang rapi agar fokus lebih mudah terjaga dan momentum tetap terbangun.

Apakah rasa malas bisa menjadi tanda depresi?

Rasa malas yang sesekali muncul karena lelah adalah hal normal. Namun, jika kemalasan berlangsung lama dan disertai gejala seperti susah tidur, kehilangan minat, tidak nafsu makan, atau perasaan putus asa, kondisi itu bisa menjadi tanda depresi sehingga sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter atau psikolog.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6