10 Ciri Orang yang Tidak Punya Empati Menurut Psikologi dan Cara Menghadapinya

Kenali ciri orang yang tidak punya empati menurut psikologi, dari suka mengkritik hingga enggan minta maaf, beserta penyebab dan cara menghadapinya.

Diterbitkan 27 Juli 2026, 10:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Empati menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Sayangnya, tidak semua orang memilikinya dalam kadar yang sama. Mengenali ciri orang yang tidak punya empati bisa membantu kita menjaga diri dari relasi yang menyakitkan. Sikap ini kerap terbaca dari cara seseorang berbicara dan merespons perasaan orang di sekitarnya.

Dalam psikologi, empati dipahami sebagai kemampuan memahami sekaligus ikut merasakan emosi orang lain. Memahami ciri orang yang tidak punya empati membuat kita lebih bijak saat berhadapan dengan mereka.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam perasaan maupun pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Pemahaman soal makna kata empati inilah yang menjadi tolok ukur untuk menilai kapan seseorang justru kehilangan kepekaan tersebut.

Mengenal Empati dan Orang yang Tidak Memilikinya

Sebelum menyoroti tanda-tandanya, penting memahami dulu apa itu empati secara utuh. Istilah empati berasal dari bahasa Inggris empathy, yang berakar dari bahasa Yunani empatheia. Dalam pengertian modern, empati dipahami sebagai kemampuan memahami dan ikut merasakan perasaan atau sudut pandang orang lain. Sebagaimana dijelaskan Verywell Mind, empati adalah kemampuan memahami perasaan orang lain secara emosional, melihat situasi dari sudut pandang mereka, dan menempatkan diri pada posisi orang tersebut. Untuk memperdalam konsep dasarnya, Anda bisa membaca ulasan tentang apa itu empati berikut cirinya.

Empati sendiri bukan kemampuan tunggal. Mengutip MasterClass, terdapat tiga jenis empati, yaitu empati kognitif yang mengacu pada kemampuan memahami sudut pandang orang lain, empati emosional yang membuat seseorang ikut merasakan emosi orang lain, serta empati welas asih (compassionate empathy) yang menggabungkan pemahaman dan keterlibatan emosional sehingga mendorong seseorang untuk memberikan bantuan atau mengambil tindakan. Ketika ketiganya nyaris tak berfungsi, di situlah muncul sosok yang tampak dingin dan sulit terhubung dengan perasaan orang lain.

Kondisi minim empati sering disebut sebagai apati atau sikap apatis. Orang seperti ini bukan hanya sulit merasakan penderitaan orang lain, tetapi terkadang juga sulit membedakan empati dengan simpati. Penting dipahami bahwa keduanya tidak sama, sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan ciri empati dan bedanya dengan simpati.

Brene Brown, dalam bukunya Daring Greatly, menuliskan, "Empati memupuk keterhubungan, sedangkan simpati justru menciptakan jarak."

Menariknya, empati kognitif semata belum tentu membawa kebaikan. Menurut psikolog Paul Gilbert, empati sebagai kemampuan memahami pengalaman orang lain tidak selalu mengarah pada perilaku baik. Dalam penjelasan yang dikutip Psychology Today, ia mencontohkan bahwa tanpa kemampuan memahami penderitaan korbannya, seorang penyiksa tidak akan menyadari rasa sakit yang ditimbulkannya. Karena itu, empati yang sehat selalu melibatkan sisi welas asih, bukan sekadar kemampuan membaca isi hati orang lain. Lebih lengkap soal empati beserta ciri dan manfaatnya bisa menjadi bahan perbandingan.

Ciri Orang yang Tidak Punya Empati

Sikap minim empati tidak selalu terlihat jelas di awal perkenalan, dan sering baru terasa saat kita sedang menghadapi masalah. Ada sejumlah pola perilaku berulang yang bisa menjadi penanda kuat.

Berdasarkan berbagai kajian psikologi, kurangnya empati jarang berdiri sendiri dan biasanya muncul lewat gaya komunikasi maupun cara seseorang memperlakukan perasaan orang lain. Berikut ciri orang yang tidak punya empati yang perlu dikenali.

  1. Gemar Mengkritik secara Berlebihan. Mereka melontarkan kritik tajam tanpa berusaha memahami posisi lawan bicara. Kritik itu sering bertujuan membuat dirinya tampak lebih unggul, bukan untuk membangun.
  2. Meremehkan Perasaan Orang Lain. Orang tanpa empati mudah melabeli orang lain "terlalu sensitif" atau "berlebihan" saat ada yang mengungkapkan kesedihan. Sikap ini membuat perasaan orang lain terkesan tidak valid.
  3. Sulit Mengelola Emosi Sendiri. Salah satu ciri orang yang tidak punya empati adalah kesulitan memahami dan mengatur emosinya sendiri. Orang yang tidak mengenali perasaannya sendiri cenderung sulit membaca perasaan orang lain.
  4. Pendengar yang Buruk. Mereka kerap memotong pembicaraan, mengalihkan topik, atau tampak tidak tertarik saat orang lain bercerita. Kebiasaan ini membuat lawan bicara merasa tidak dihargai.
  5. Terlalu Berpusat pada Diri Sendiri. Percakapan selalu berputar pada pencapaian, masalah, atau sudut pandang mereka. Kebutuhan pribadi hampir selalu ditempatkan di atas kebutuhan orang lain.
  6. Tidak Sabar Menghadapi Emosi Orang Lain. Ketika seseorang sedih atau marah, mereka justru tampak terganggu, menghela napas, atau ingin buru-buru menyudahi percakapan. Emosi orang lain dianggap merepotkan.
  7. Enggan Meminta Maaf. Permintaan maaf yang tulus menandakan kesadaran atas perasaan orang lain, dan hal itu sulit dilakukan orang yang minim empati. Mereka lebih memilih mempertahankan ego.
  8. Bercanda di Saat yang Tidak Tepat. Melempar lelucon saat suasana serius atau menyedihkan memperlihatkan ketidakpekaan terhadap kondisi emosional sekitarnya.
  9. Merasa Paling Benar. Mereka hanya menghargai perspektif sendiri dan enggan menerima sudut pandang lain, sehingga sulit diajak berkompromi.
  10. Gemar Menyalahkan dan Sulit Bertanggung Jawab. Saat terjadi masalah, mereka cenderung menuding orang lain dan menolak mengakui kesalahan sendiri.

Ciri-ciri tersebut juga kerap tumpang tindih dengan tanda lain, misalnya ciri orang dengan EQ rendah maupun kecerdasan emosional yang rendah. Tak jarang pula sikap ini melekat pada orang yang sulit dipercaya, sosok yang dianggap membosankan dalam interaksi, hingga orang yang tidak tahu berterima kasih.

Penyebab Seseorang Kehilangan Empati

Rendahnya empati bukanlah sifat yang muncul begitu saja, melainkan hasil dari beragam faktor yang saling berkaitan. Memahami akarnya membantu kita bersikap lebih adil, alih-alih terburu-buru menghakimi. Menurut The Well by Northwell, kemampuan berempati dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengalaman hidup, kondisi kesehatan, dan lingkungan tempat seseorang dibesarkan. Pola asuh serta norma budaya yang membatasi ekspresi emosi, seperti anggapan bahwa anak laki-laki tidak boleh menunjukkan kesedihan atau kerentanan, juga dapat memengaruhi perkembangan empati.

Faktor bawaan pun ikut berperan. Merujuk Study.com, rendahnya empati dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, lingkungan pada masa kanak-kanak, penyakit tertentu, maupun pengalaman traumatis. Kondisi ini juga kerap dikaitkan dengan gangguan kepribadian antisosial (ASPD) dan sifat-sifat psikopatik yang dapat menghambat kemampuan seseorang memahami atau merasakan emosi orang lain. Ini menegaskan bahwa kapasitas empati sebagian dibentuk sejak dini dan dapat terganggu oleh kondisi tertentu.

Yang menarik, tidak berempati belum tentu berarti tidak mampu berempati. Menurut Psych Central, kemampuan berempati tidak selalu hilang pada orang dengan sifat Machiavellian maupun gangguan kepribadian narsistik. Dalam kondisi tertentu, mereka masih dapat memahami perasaan atau sudut pandang orang lain, tetapi tidak selalu terdorong untuk mengekspresikan atau bertindak berdasarkan empati tersebut.

Psych Central juga menjelaskan bahwa pada sebagian orang autistik, kesulitan yang tampak sebagai kurangnya empati lebih sering berkaitan dengan aleksitimia, yaitu kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosi, bukan karena tidak memiliki kepedulian terhadap orang lain.

Empati juga memiliki dasar biologis di dalam otak manusia. Psikolog Melanie Greenberg mengatakan, "Otak kita dirancang untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk berempati. Kita memiliki neuron cermin yang aktif ketika melihat orang lain merasakan sakit." Karena itu, banyak ahli meyakini empati bisa dilatih kembali selama seseorang menyadari kekurangannya dan mau berubah.

Gangguan Kepribadian yang Kerap Dikaitkan dengan Rendahnya Empati

Pada sebagian kasus, minimnya empati menjadi bagian dari kondisi kesehatan mental tertentu. Penelitian di bidang kesehatan mental menunjukkan defisit empati muncul dengan pola yang berbeda pada tiap gangguan, bukan sekadar "hilang" begitu saja.

  1. Gangguan Kepribadian Narsistik (NPD). Defisit empatinya berkaitan dengan pemusatan perhatian pada diri sendiri dan kesulitan mengalihkan sudut pandang kepada orang lain, terutama saat kebutuhan mereka berbenturan dengan kepentingan orang lain. Anda bisa menyimak lebih jauh soal narsistik sebagai gangguan kepribadian dan kelemahan orang narsistik.
  2. Gangguan Kepribadian Antisosial dan Psikopati. Kondisi ini menampilkan gangguan empati yang paling dalam, yakni defisit pada empati afektif meski empati kognitifnya sering tetap utuh. Itulah mengapa sebagian orang dengan kondisi ini bisa tampak pandai bergaul dan manipulatif, sekaligus dingin terhadap penderitaan orang lain.
  3. Gangguan Kepribadian Ambang (BPD). Berbeda dari lainnya, kondisi ini justru sering ditandai sensitivitas emosional yang tinggi, sehingga hubungannya dengan empati bersifat paradoks.
  4. Kondisi Spektrum Autisme. Alih-alih tidak punya empati, banyak individu autistik mengalami "empathy disequilibrium", yaitu kesulitan pada empati kognitif namun tetap memiliki kepedulian. Ini menegaskan bahwa cara seseorang menampilkan empati bisa sangat beragam.

Perlu ditekankan bahwa memiliki beberapa ciri di atas tidak serta-merta berarti seseorang mengidap gangguan tertentu, sebab diagnosis hanya bisa ditegakkan tenaga profesional. Sikap minim empati yang dibiarkan juga bisa merembet menjadi pola relasi tidak sehat, seperti gaslighting maupun berbagai bentuk hubungan toxic. Untuk gambaran tanda kliniknya, tersedia pula ulasan ciri gangguan kepribadian narsistik.

Cara Menghadapi dan Menumbuhkan Kembali Empati

Kabar baiknya, empati adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan diasah, baik untuk diri sendiri maupun untuk membantu orang terdekat. Kuncinya ada pada kesadaran diri dan kemauan untuk hadir sepenuhnya bagi orang lain.

Menurut Daniel Goleman, prasyarat munculnya empati adalah kesediaan memberi perhatian kepada orang yang sedang menderita. Tanpa perhatian, seseorang akan sulit memahami apa yang dirasakan orang lain.

  1. Melatih Mendengarkan Aktif. Berikan perhatian penuh pada lawan bicara tanpa sibuk menyiapkan jawaban atau menyela. Perhatikan pula nada suara dan bahasa tubuhnya.
  2. Belajar Mengenali Emosi. Latih diri menamai emosi yang muncul, baik pada diri sendiri maupun orang lain, agar tidak salah menafsirkan rasa takut sebagai kemarahan.
  3. Berlatih Mengambil Sudut Pandang Orang Lain. Bayangkan bagaimana rasanya berada di posisi orang lain sebelum menilai atau merespons. Teknik ini efektif mengurangi sikap egosentris.
  4. Membaca Kisah Fiksi. Menyelami tokoh dan konflik dalam cerita membantu kita memahami beragam sudut pandang serta pengalaman emosional yang berbeda.
  5. Menetapkan Batasan yang Sehat. Saat berhadapan dengan orang tanpa empati, sampaikan perasaan Anda secara jujur dan jaga batas agar kesehatan mental tetap terlindungi.
  6. Mencari Bantuan Profesional. Bila kurangnya empati berkaitan dengan tekanan berat atau kondisi mental tertentu, konsultasi dengan psikolog atau psikiater sangat dianjurkan.

Beragam cara meningkatkan empati dan tips melatih rasa empati bisa dimulai dari hal sederhana setiap hari. Menyadari mengapa kita harus berempati kepada sesama pun akan memperkuat motivasi untuk berubah.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Orang yang Tidak Punya Empati

Apa sebutan untuk orang yang tidak memiliki empati?

Kurangnya empati sering disebut apati atau sikap apatis. Dalam konteks klinis, rendahnya empati bisa menjadi bagian dari gangguan seperti kepribadian narsistik maupun antisosial, meski tidak setiap orang yang minim empati mengalami gangguan mental.

Apa penyebab seseorang tidak punya empati?

Penyebabnya beragam, mulai dari faktor genetik, pola asuh, pengalaman traumatis, kelelahan emosional, hingga kondisi kesehatan mental tertentu. Lingkungan dan cara seseorang dibesarkan turut memengaruhi seberapa besar kapasitas empatinya.

Apakah orang yang tidak punya empati bisa berubah?

Bisa. Empati merupakan keterampilan yang dapat dilatih melalui kesadaran diri, mendengarkan aktif, dan latihan mengambil sudut pandang orang lain. Bila berkaitan dengan gangguan tertentu, bantuan psikolog atau psikiater akan sangat menolong.

Pada akhirnya, mengenali ciri orang yang tidak punya empati bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menjaga kesehatan mental sekaligus kualitas hubungan kita. Bila menemukan tanda-tanda tersebut pada diri sendiri atau orang terdekat, langkah introspeksi dan konsultasi psikologi bisa menjadi awal perubahan yang baik, apalagi kini banyak pilihan psikolog online yang mudah diakses.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6