10 Ciri-Ciri Orang Ngeselin Menurut Psikologi dan Cara Menghadapinya

Kenali ciri-ciri orang ngeselin menurut psikologi, dari suka memotong bicara sampai minim empati, lengkap dengan penyebab dan cara bijak menghadapinya.

Diterbitkan 27 Juli 2026, 09:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Hampir setiap orang pasti pernah berhadapan dengan sosok yang bikin jengkel dalam keseharian. Entah di tempat kerja, lingkaran pertemanan, atau keluarga, ciri-ciri orang ngeselin sering muncul tanpa disadari oleh pelakunya sendiri.

Sikap seperti gemar memotong pembicaraan, pamer berlebihan, hingga enggan mengakui kesalahan bisa menguras energi orang di sekitarnya. Uniknya, orang yang bersangkutan justru kerap merasa dirinya baik-baik saja.

Memahami ciri-ciri orang ngeselin bukan untuk menghakimi, melainkan agar kita mampu menyikapinya dengan lebih tenang. Sekaligus menjadi bahan refleksi supaya kita tidak berubah menjadi pribadi yang menyebalkan bagi orang lain.

Berdasarkan fakta di lapangan, lebih dari 90 persen karyawan mengaku memiliki setidaknya satu rekan kerja yang membuat mereka terganggu, menurut survei Quality Logo Products pada 2022. Fenomena ini menegaskan bahwa berurusan dengan orang menyebalkan adalah pengalaman yang nyaris universal.

Apa Itu Orang Ngeselin?

Secara sederhana, orang ngeselin adalah individu yang perilaku atau ucapannya berulang kali memicu rasa jengkel, kesal, dan tidak nyaman pada orang lain. Menariknya, mereka sering tidak sadar bahwa sikapnya mengganggu, sehingga terus mengulanginya tanpa merasa bersalah.

Perlu dipahami bahwa rasa "ngeselin" bersifat subjektif. Apa yang dianggap menyebalkan oleh satu orang belum tentu terasa sama bagi orang lain, karena dipengaruhi kepribadian, suasana hati, dan pengalaman masing-masing. Istilah ini juga berkaitan erat dengan perilaku sifat yang menyusahkan dan merugikan orang lain di lingkungan sosial.

Mengutip Psychology Today, orang yang menyebalkan pada dasarnya adalah mereka yang memicu emosi kita, kadang justru orang terdekat, dengan perilaku yang belum tentu buruk secara objektif namun tetap sulit kita terima. Artinya, label "ngeselin" lahir dari interaksi dua arah, bukan semata dari satu pihak.

Psikolog klinis Thomas McDonagh, dikutip dari Parade, menegaskan, "Perilaku menjengkelkan biasanya adalah sesuatu yang berulang kali mengganggu, mengiritasi, atau menguras energi emosional maupun mental orang lain, sering kali tanpa sengaja."

Ciri-Ciri Orang Ngeselin yang Sering Bikin Jengkel

Meski tiap orang punya kriteria sendiri, ada sederet pola yang secara umum membuat seseorang dicap menyebalkan. Mengenali ciri ciri orang ngeselin berikut ini bisa membantu kita bersikap lebih waspada sekaligus berkaca pada diri sendiri.

Seperti yang diberitakan YourTango, kepribadian yang menyebalkan tak harus selalu berisik atau dramatis; justru kebiasaan mengeluh terus-menerus, memotong pembicaraan, mengabaikan norma sosial, atau terlalu berusaha membuat kesan sering kali yang paling melelahkan orang lain. Berikut rinciannya.

  1. Gemar memotong pembicaraan dan enggan mendengarkan. Tipe ini tidak sabar menunggu giliran bicara dan merasa ucapannya lebih penting. Kebiasaan menyela biasanya diiringi sikap tidak mau mendengarkan, sibuk dengan ponsel, atau mengalihkan perhatian saat orang lain serius berbicara.
  2. Selalu ingin menjadi pusat perhatian. Ia kerap memonopoli percakapan dan berusaha menarik perhatian dengan cara berlebihan. Sikap ini makin terasa mengganggu ketika dilakukan pada momen yang tidak tepat, apalagi ketika orang lain sedang membicarakan hal penting.
  3. Terlalu banyak bicara dan gemar pamer. Berbicara tanpa henti tentang diri sendiri bisa sangat melelahkan bagi lawan bicara. Kebiasaan menyombongkan pencapaian juga menjadi salah satu sumber utama rasa kesal, apalagi jika diucapkan tanpa membaca situasi.
  4. Mengeluh tanpa henti. Mengeluh sesekali itu wajar, tetapi keluhan yang terus-menerus tentang hal sepele akan merusak suasana. Orang bertipe ini seolah tak pernah puas dan selalu menemukan alasan untuk merasa tidak bahagia.
  5. Tidak menghargai waktu orang lain. Sering datang terlambat atau membatalkan janji di menit terakhir menunjukkan minimnya empati dan tanggung jawab. Meski tampak sepele, sikap ini menyakiti orang yang sudah menepati komitmen.
  6. Suka meremehkan dan mengkritik berlebihan. Kritik yang berubah menjadi ajang menjatuhkan menandakan watak yang buruk. Alih-alih memberi masukan, ia justru fokus pada sisi negatif dan jarang menghargai kelebihan orang lain, sehingga banyak yang memilih membalas lewat kata-kata sindiran halus yang menusuk.
  7. Egois dan minim empati. Ia hanya peduli pada kebutuhan diri sendiri dan mengabaikan perasaan orang lain, seperti menyerobot antrean atau ingin selalu didahulukan. Berbagai ciri-ciri orang egois memang punya benang merah yang sama, yakni keengganan berkompromi dan keinginan untuk selalu menang.
  8. Hobi bergosip. Orang yang gemar memulai dan menyebar gosip menciptakan suasana penuh ketidakpercayaan. Kebiasaan membicarakan keburukan orang lain sering kali menjadi tanda pertemanan yang toxic dan patut diwaspadai.
  9. Enggan mengakui kesalahan dan gemar menyalahkan. Ia selalu mencari pembenaran dan menyalahkan orang lain atas tindakannya sendiri. Mental playing victim yang mendarah daging ini menandakan kurangnya kedewasaan dan kesadaran diri, bahkan bisa menjadi ciri kepribadian yang lebih serius.
  10. Kerap melanggar batasan pribadi dan terlalu clingy. Ia sulit menjaga ruang personal, menuntut banyak waktu dan perhatian, atau melontarkan pertanyaan sensitif tanpa berpikir. Kombinasi sikap needy dan minim kepekaan inilah yang perlahan membuat orang di sekitarnya lelah.

Kenapa Seseorang Bisa Terasa Ngeselin?

Rasa jengkel yang muncul ternyata bukan sekadar perasaan acak. Salah satu penyebab utama seseorang terasa menyebalkan adalah ketidakcocokan kepribadian. Mengacu pada riset yang dimuat jurnal Personality and Individual Differences, kita cenderung lebih mudah terganggu oleh orang yang sangat berbeda dari kita dalam hal keterbukaan, keramahan, atau kestabilan emosi. Semakin jauh cara berpikir seseorang dari kita, semakin besar peluang kita menganggapnya ngeselin.

Ada pula konsep menarik bernama affective presence. Sebagaimana dikutip dari Mindtools, istilah yang pertama kali digunakan psikolog Noah Eisenkraft dan Hillary Anger Elfenbein pada 2010 ini menjelaskan bahwa sebagian orang meninggalkan kesan emosional tertentu, entah menenangkan atau justru membuat gelisah, terlepas dari niat dan suasana hati mereka. Uniknya, kadang kita kesal pada seseorang justru karena melihat sifat diri sendiri yang tidak kita sukai pada dirinya. Psikolog bisnis Dannielle Haig, dikutip dari Stylist, menjelaskan soal sisi bayangan atau shadow side, "Ini merujuk pada bagian diri kita yang tidak ingin kita akui, karena kita malu atau berharap tidak memilikinya."

Dari sisi neurologis, otak manusia memang dirancang untuk mendeteksi "ancaman", termasuk kebiasaan yang mengganggu. Ketika seseorang melanggar batas pribadi atau norma sosial, bagian otak bernama amigdala ikut bereaksi dan memunculkan rasa tidak nyaman. Bahkan ada kondisi neurologis bernama misophonia, ketika suara tertentu seperti kunyahan atau ketukan pena memicu kejengkelan luar biasa; merujuk studi University College London pada 2022, orang dengan misophonia memiliki koneksi otak yang lebih kuat antara area pendengaran dan reaksi emosional. Senada, psikolog berlisensi Dr. Jan Miller, dikutip dari Parade, menuturkan bahwa bagi sebagian orang, "suara keras dianggap sebagai sesuatu yang agresif dan kasar."

Yang perlu digarisbawahi, banyak perilaku menyebalkan sebenarnya dilakukan tanpa sengaja. Sebagian orang bertindak demikian karena sedang stres, cemas, atau merasa tidak aman dengan dirinya sendiri. Karena itu, memahami akar masalah bisa membantu kita membedakan mana yang benar-benar perilaku toxic yang perlu dijauhi dan mana yang sekadar perbedaan kepribadian biasa.

Cara Menghadapi Orang Ngeselin dengan Bijak

Menghadapi orang ngeselin membutuhkan strategi agar kita tidak ikut terpancing emosi. Kuncinya bukan berusaha mengubah mereka, melainkan mengelola reaksi diri sendiri. Sebagaimana disampaikan para psikolog, kita memang tidak selalu bisa mengontrol pemicu di sekitar, tetapi kita punya kuasa penuh atas cara meresponsnya.

Daniel Goleman, menegaskan, "Kamu tidak bisa mengendalikan hal-hal dalam hidup yang akan memicu emosimu."

  1. Tarik napas dan ambil jeda sebelum bereaksi. Memberi diri waktu beberapa detik dapat mencegah respons impulsif yang justru memperkeruh keadaan. Dalam bukunya Emotional Freedom, psikiater Judith Orloff menuliskan bahwa "kesabaran bukan berarti kepasrahan atau menyerah, melainkan sebuah kekuatan." Latih pula kemampuan mengendalikan emosi yang berlebihan agar tetap tenang.
  2. Gunakan teknik menjaga jarak secara psikologis. Coba ubah sudut pandang dengan berkata pada diri sendiri, "Ini hanyalah kepribadian mereka, dan aku tidak harus membiarkannya memengaruhiku." Cara ini membuat kita lebih objektif dan tidak menyerap energi negatif orang tersebut, seperti saat harus berdiskusi dengan orang yang menyebalkan.
  3. Tetapkan batasan yang jelas. Kita mengajari orang lain cara memperlakukan kita lewat apa yang kita toleransi. Jangan ragu membatasi topik pribadi atau frekuensi interaksi, terutama sebagai bagian dari tips menghindari teman toxic.
  4. Latih empati dan pahami sudut pandang mereka. Terkadang seseorang bersikap menyebalkan karena sedang mengalami hari yang berat. Mengasah kecerdasan emosional membantu kita merespons dengan lebih dewasa alih-alih membalas dengan kekesalan.
  5. Fokus pada respons diri, bukan balas dendam. Melawan orang menyebalkan dengan ikut menjadi menyebalkan hanya akan memperburuk keadaan. Simak beberapa cara menghadapi orang yang mencoba menjatuhkan Anda tanpa harus kehilangan kendali.
  6. Lakukan metakomunikasi bila hubungan penting. Bila sosok tersebut adalah keluarga atau rekan dekat, bicarakan baik-baik apa yang mengganggu dengan cara yang mereka pahami. Deskripsikan perilakunya secara spesifik tanpa menyerang pribadinya agar percakapan tetap sehat.
  7. Jaga jarak atau cari bantuan profesional. Jika sikap seseorang sudah mengganggu kualitas hidup dan kemampuan mengelola emosi Anda, mengurangi keterlibatan atau berkonsultasi dengan psikolog adalah langkah yang bijak, bukan tanda kelemahan.

Tanda Kamu Mungkin Jadi Orang yang Ngeselin

Introspeksi memang tidak mudah, sebab otak kita cenderung menyaring informasi demi melindungi citra diri. Akibatnya, umpan balik sosial yang halus sering terabaikan, dan kita luput menyadari bahwa perilaku kita mungkin mengganggu orang lain. Berkaca sesekali justru penting agar hubungan tetap harmonis.

Salah satu jebakan yang paling umum adalah kebiasaan menyombongkan diri. Sebagaimana disampaikan Association for Psychological Science, perilaku ini lahir dari kegagalan menempatkan diri di posisi orang lain; kita mengira mereka ikut senang atas pencapaian kita, padahal justru merasa terganggu. Kesenjangan empati inilah yang membuat banyak orang tidak sadar telah menjadi sosok yang menyebalkan.

Ada pula tanda-tanda halus yang bisa menjadi cermin. Bila teman mulai bersikap dingin, jarang mengajak, atau percakapan terasa canggung tanpa sebab jelas, mungkin ada baiknya merenung sejenak. Kenali berbagai sikap yang bisa membuatmu dianggap menyebalkan dan tanda kamu termasuk orang yang menyebalkan.

Kabar baiknya, tidak ada kata terlambat untuk berubah. Dengan mulai mendengarkan lebih banyak, mengurangi keluhan, dan menghargai orang lain, siapa pun bisa menjadi pribadi yang lebih menyenangkan. Bahkan sebagian orang keliru menganggap bahwa sikap menyebalkan membuat seseorang lebih sukses, padahal kepekaan sosial jauh lebih berharga dalam jangka panjang.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Orang Ngeselin

Kenapa semua orang terasa ngeselin belakangan ini?

Perasaan bahwa semua orang terasa menyebalkan sering muncul saat kita sendiri sedang lelah, stres, atau sensitif. Dalam kondisi tersebut, hal-hal kecil jadi terasa lebih mengganggu, sehingga penting untuk beristirahat dan mengevaluasi suasana hati sebelum menyimpulkan bahwa orang lain yang bermasalah.

Apa saja ciri-ciri orang ngeselin yang paling umum?

Ciri yang paling sering dikeluhkan antara lain suka memotong pembicaraan, ingin selalu jadi pusat perhatian, gemar mengeluh, meremehkan orang lain, egois, hobi bergosip, dan enggan mengakui kesalahan. Semua sikap ini punya benang merah yang sama, yaitu minimnya empati dan kepekaan sosial.

Bagaimana cara menghadapi orang yang ngeselin tanpa ikut emosi?

Cara paling efektif adalah menarik napas sejenak, menetapkan batasan yang jelas, dan fokus mengendalikan reaksi diri alih-alih berusaha mengubah orang tersebut. Jika sikapnya sudah mengganggu kesehatan mental, menjaga jarak atau berkonsultasi dengan profesional adalah langkah yang bijak.

Pada akhirnya, mengenali ciri ciri orang ngeselin membantu kita bersikap lebih tenang sekaligus berkaca pada diri sendiri. Alih-alih larut dalam kekesalan, kita bisa memilih untuk menetapkan batasan, melatih empati, dan menjaga suasana hati tetap positif. Dengan begitu, interaksi sehari-hari terasa lebih ringan, dan kita pun terhindar dari kebiasaan yang berpotensi membuat orang lain merasa terganggu.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6