Liputan6.com, Jakarta Banyak orang mengira permintaan maaf cukup diwakili satu kata, "maaf". Dalam budaya Jawa, kenyataannya berbeda. Satu maksud yang sama bisa berubah wujud, dari njaluk ngapura yang akrab sampai nyuwun pangapunten yang penuh hormat, tergantung siapa yang kita hadapi.
Memilih kata yang tepat bukan sekadar soal tata bahasa. Ini soal menjaga hubungan, menunjukkan ketulusan, dan menghormati orang di depan kita. Pemilihan kata juga menjadi penanda betapa dalam dan tulus permintaan maaf.
Berikut panduan lengkapnya, plus 30 contoh ucapan yang bisa langsung Anda pakai lewat pesan singkat maupun tatap muka, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (7/7/2026).
Advertisement
Kenapa Ucapan Maaf Bahasa Jawa Masih Sangat Relevan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154120/original/063622600_1741332856-Minta_maaf.jpg)
Bahasa Jawa adalah bahasa daerah dengan penutur terbanyak di Indonesia. Kemampuan meminta maaf dengan tingkatan bahasa yang pas menjadi modal sosial yang bernilai, khususnya menjelang Lebaran, acara keluarga, atau saat berkomunikasi dengan sesepuh.
Menariknya, meminta maaf memang bagian erat dari cara orang Jawa menjaga keharmonisan. Masyarakat Jawa terbiasa meminta maaf sebagai bentuk kesantunan untuk merawat hubungan sosial, dan sebuah kesalahpahaman umum bahkan menyebut orang Jawa selalu minta maaf meski sedang benar.
Kabar baiknya untuk Anda yang sibuk dan bermodal terbatas, mempelajari ucapan ini nyaris tanpa biaya. Cukup niat, hafalan singkat, dan pemahaman konteks. Sebagai perbandingan, memahami perbedaan halus antar tingkatan bisa dimulai dari konsep undha usuk dalam bahasa Jawa yang jadi fondasi kesopanan.
Advertisement
Mengenal Tingkatan Bahasa Jawa dalam Meminta Maaf
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4934677/original/090864400_1725272501-Ilustrasi_minta_maaf__merasa_bersalah__menyesal.jpg)
Bahasa Jawa mengenal tingkatan tutur. Empat ragam yang umum adalah ngoko lugu, ngoko alus, krama lugu, dan krama alus (krama inggil). Pemilihan ragam menyesuaikan usia, kedudukan, dan kedekatan dengan lawan bicara.
Secara sederhana, ada tiga kata kunci "maaf" yang paling sering dipakai sehari-hari, yakni ngapura (ngoko), ngapunten (untuk yang lebih tua), dan sepurane (santai untuk sebaya). Tabel berikut membantu Anda memilih dengan cepat.
| Tingkatan | Contoh kata maaf | Cocok untuk |
|---|---|---|
| Ngoko | Ngapura, sepurane | Teman sebaya, adik, orang yang akrab |
| Madya | Ngapunten, nyuwun ngapunten | Orang dihormati tapi cukup akrab |
| Krama inggil | Nyuwun pangapunten, agunging pangaksami | Orang tua, guru, atasan, sesepuh |
Menariknya, penutur Jawa memandang penggunaan bahasa hormat sebagai cerminan kesopanan itu sendiri. Karena itu, salah memilih tingkatan, misalnya memakai ngoko kepada mertua, bisa terasa kurang santun meski niat Anda tulus. Untuk memperkaya kosakata dasarnya, Anda bisa menyimak daftar kosakata bahasa Jawa ngoko dan krama inggil yang cukup lengkap.
30 Ucapan Minta Maaf Bahasa Jawa Beserta Artinya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6493174/original/099017100_1779350751-pexels-kampus-6297599.jpg)
Berikut kumpulan ucapan yang sudah dikelompokkan berdasarkan situasi. Silakan sesuaikan dengan lawan bicara Anda.
Frasa Singkat untuk Sehari-hari
- Sepurane. - Maaf. (ngoko, sangat santai)
- Aku njaluk ngapura. - Aku minta maaf. (ngoko)
- Ngapunten nggih. - Maaf ya. (madya, sopan)
- Nyuwun pangapunten. - Mohon maaf. (krama)
- Nuwun sewu, menawi wonten kalepatan. - Permisi, jika ada kesalahan.
- Nyuwun pangapunten lahir batin. - Mohon maaf lahir dan batin.
Untuk Orang Tua dan Sesepuh (Krama Inggil)
Kepada orang tua, guru, atau sesepuh, gunakan ragam paling halus. Ucapan ini akan terasa lebih dalam bila disertai sikap tubuh yang menunduk.
- Nyuwun pangapunten Bapak/Ibu. - Mohon maaf Bapak/Ibu.
- Kula nyuwun agunging pangapunten. - Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya.
- Mugi kersaa ngapunten dhumateng kalepatan kula. - Semoga berkenan memaafkan kesalahan saya.
- Kula nyuwun pangapunten sedaya kalepatan kula. - Saya mohon maaf atas segala kesalahan saya.
- Mugi Bapak/Ibu kersaa paring pangapura. - Semoga Bapak/Ibu berkenan memberi maaf.
- Pak, kula nyuwun agunge pangaksami saking sedaya kalepatan kula. - Pak, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas semua kesalahan saya.
- Nyuwun agunge pangaksami nggih, Bu. Kula janji boten bakal ngambali kaluputan ingkang sami malih. - Maafkan saya, Bu. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Butuh contoh yang lebih beragam untuk keluarga besar? Simak juga rangkaian ucapan sungkem untuk orang yang lebih tua yang penuh doa.
Untuk Teman dan Sebaya (Ngoko)
Untuk teman dekat, kesederhanaan justru lebih mengena. Yang penting nada tetap tulus, bukan main-main.
- Aku njaluk ngapura tenanan. - Aku minta maaf sungguh-sungguh.
- Tulung ngapuranen aku ya. - Tolong maafkan aku ya.
- Maafke aku ya, ora sengaja. - Maafkan aku ya, tidak sengaja.
- Aku salah, nyuwun pangapunten. - Aku salah, mohon maaf.
- Ngapura ya, aku khilaf. - Maaf ya, aku khilaf.
- Sepurane sing gedhe, aku wis gawe nesu kowe. - Maaf sebesar-besarnya, aku sudah membuatmu marah.
- Sepurane, aku wis nyebal saka aturanmu. - Maaf, aku telah melalaikan aturanmu.
Bila hubungan sempat renggang karena salah paham, ungkapan halus bisa jadi jembatan. Anda juga bisa menyampaikannya lewat gaya bertutur ala kata-kata Jawa halus tapi mengena agar pesan tersampaikan tanpa menyakiti.
Untuk Momen Lebaran dan Sungkeman
Idul Fitri adalah puncak tradisi saling memaafkan. Tradisi sungkem, yaitu bersimpuh dan mencium tangan orang tua, menjadi momen sakral yang dilengkapi ucapan berikut.
- Sugeng riyadi, nyuwun pangapunten lahir batin. - Selamat Hari Raya, mohon maaf lahir dan batin.
- Kula nyuwun agunging pangapunten sedanten kalepatan. - Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas segala kesalahan.
- Bapak/Ibu, kula nyuwun pangapunten lahir batin. - Bapak/Ibu, saya mohon maaf lahir dan batin.
- Ngaturaken sembah pangabekti, nyuwun pangapunten sedaya kalepatan kula. - Menghaturkan bakti, mohon maaf atas segala kesalahan saya.
- Kula ngaturaken sugeng riyadi lan nyuwun pangapunten. - Saya mengucapkan selamat Hari Raya dan mohon maaf.
- Mugi lineburo sedaya kalepatan kula ing dinten riyaya punika. - Semoga segala kesalahan saya dilebur di hari raya ini.
- Kepareng matur, kula sowan nyuwun pangapunten saha nyuwun donga pangestu. - Perkenankan saya menghadap, memohon maaf dan mohon doa restu.
Frasa Islami seperti "Minal aidin wal faizin" dan "Taqabalallahu minna wa minkum" juga lazim menyertai ucapan Lebaran. Untuk variasi yang lebih panjang, tersedia contoh kata-kata minta maaf Idul Fitri untuk sungkeman dan panduan ucapan Lebaran dari krama hingga ngoko. Anda pun bisa mempelajari makna dan tata cara sungkem secara utuh.
Untuk Rekan Kerja dan Situasi Formal
- Nuwun sewu, kula nyuwun pangapunten menawi wonten kalepatan. - Permisi, saya mohon maaf jika ada kesalahan.
- Nyuwun pangapunten sanget, kula mboten sengaja. - Mohon maaf sekali, saya tidak sengaja.
- Pangapunten menawi kula ngganggu. - Mohon maaf jika saya mengganggu.
- Nyuwun pangapunten, kula badhe nyuwun wekdal sawetawis. - Mohon maaf, saya ingin meminta waktu sebentar.
- Kula nyuwun pangapunten lahir batin awit bilih wonten lepat ing papan makarya. - Saya mohon maaf lahir batin bila ada kesalahan di tempat kerja.
Bila Anda menerima ucapan lebih dulu, penting juga menguasai cara membalasnya. Referensinya bisa dilihat pada kumpulan balasan ucapan Idul Fitri bahasa Jawa dan ucapan Idul Fitri bahasa Jawa yang sopan beserta artinya.
Advertisement
Tips dari Kebiasaan dan Kearifan Jawa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4766157/original/024391300_1709878794-Ilustrasi_minta_maaf__bersyukur__terima_kasih__muslimah__Islami.jpg)
Salah satu kekuatan bahasa Jawa adalah kemampuannya menyampaikan penyesalan dengan halus namun tetap tegas. Banyak keluarga di Yogyakarta dan Solo masih menjaga tradisi sungkem sebagai puncak permintaan maaf tahunan, bukan sekadar ritual, tetapi sarana introspeksi dan pembaruan hubungan.
Prinsip ini selaras dengan falsafah kesabaran dan kerendahan hati yang menjadi napas budaya Jawa. Anda bisa menghayatinya lewat kata Jawa kuno tentang kesabaran, kata mutiara bahasa Jawa halus, serta kata bijak Jawa kromo inggil yang mengajarkan andhap asor.
Mengacu pada temuan lintas budaya, orang Jawa dan Madura cenderung menerima permintaan maaf yang memuat lima strategi, yakni langsung mengakui, memberi penjelasan, menyatakan tanggung jawab, menawarkan perbaikan, dan berjanji tidak mengulangi. Kombinasi ini bisa Anda ramu dalam satu kalimat pendek berbahasa Jawa.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ucapan Minta Maaf Bahasa Jawa
Apa ucapan minta maaf bahasa Jawa yang paling sopan?
Ucapan paling sopan adalah "Nyuwun pangapunten" atau bentuk yang lebih lengkap seperti "Kula nyuwun agunging pangapunten" yang berarti saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ragam krama inggil ini tepat digunakan kepada orang tua, guru, atasan, atau orang yang baru dikenal karena menunjukkan penghormatan tinggi.
Apa bedanya njaluk ngapura dan nyuwun pangapunten?
Keduanya berarti meminta maaf, tetapi berbeda tingkatan. "Njaluk ngapura" adalah ragam ngoko yang santai, cocok untuk teman sebaya atau orang yang lebih akrab. Sementara "nyuwun pangapunten" adalah ragam krama yang halus dan sopan, dipakai kepada orang yang lebih tua atau dihormati.
Apa arti "nyuwun pangapunten lahir batin"?
Frasa ini berarti mohon maaf atas kesalahan yang tampak atau lahir maupun yang tersembunyi atau batin. Ungkapan ini menunjukkan permintaan maaf yang menyeluruh dan mendalam, sehingga sering diucapkan saat momen Lebaran maupun ketika ingin membersihkan hati dari segala salah.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289169/original/028294300_1783394455-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-07T102043.787.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5143694/original/079839900_1740549746-WAWANCARA_PRESIDEN_KE-6_SBY_ANG__15_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1791827/original/015659300_1512525714-10321102_10205492268656460_4374129301795033883_o.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3446934/original/043612800_1620048482-asian-muslim-parent-shake-hand-idul-fitri-eid-mubarak_8595-15246.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289170/original/048335500_1783394486-063_2284674341.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289160/original/045856400_1783393532-063_2284950784.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289056/original/097559000_1783389885-063_2284969451.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709339/original/015500500_1782788430-neymar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929771/original/004907300_1782959836-bos3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5516473/original/017053500_1772306812-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8906115/original/073442900_1782946797-belgia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288986/original/034116600_1783373945-000_B9FD7NA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288982/original/076824500_1783372194-000_B9FD6YV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288189/original/068890400_1783308038-6QGU2zozRbk0ZIAdsRd6Bf98TdEmoUrwcGqvCLkw.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288187/original/072178800_1783308035-qttrw02p13YDlvDeNDMJYrjcNT33HbMTJxWB87et.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289149/original/046106300_1783393424-a3161429-95f3-4fb1-813b-c80b3e793a63.jpg)