Liputan6.com, Jakarta - Virus Nipah bukan sekadar penyakit menular yang muncul tiba-tiba. Di balik tingkat kematian yang tinggi dan gejala berat yang ditimbulkannya, tersimpan persoalan besar yang sering luput disadari, kerusakan lingkungan akibat ulah manusia. Sejarah kemunculan virus Nipah menunjukkan bahwa kegagalan menjaga hutan dapat berujung pada ancaman kesehatan yang mematikan.
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada akhir 1990-an, berawal dari wabah di sebuah peternakan babi. Saat itu, babi-babi menunjukkan gejala demam, gangguan pernapasan, hingga kejang.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa virus Nipah berasal dari kelelawar buah yang merupakan reservoir alami virus ini. Kelelawar tidak sakit, tetapi dapat menularkan virus ke hewan lain, seperti babi, dan kemudian ke manusia.
Advertisement
Kerusakan Hutan dan Rantai Penularan Virus Nipah
Penebangan hutan dan alih fungsi lahan menyebabkan kelelawar kehilangan habitat alaminya, seperti dikutip dari ayosehat.kemkes.go.id pada Kamis, 29 Januari 2026.
Ketika sumber makanan di hutan berkurang, kelelawar berpindah mendekati pemukiman manusia dan area peternakan. Dalam kondisi inilah virus Nipah berpindah dari kelelawar ke babi, lalu ke manusia.
Peristiwa ini menjadi contoh nyata bagaimana kerusakan lingkungan dapat membuka jalan bagi penyakit zoonotik, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia.
Virus Nipah termasuk dalam kelompok Paramyxovirus, virus RNA yang juga mencakup penyebab campak, gondongan, dan pneumonia. Namun, karakteristik Nipah menjadikannya jauh lebih berbahaya.
Â
Cara Penularan Virus Nipah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5485107/original/028252000_1769495186-kebun_mini_rumah.jpg)
Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan terinfeksi, seperti air liur, darah, dan urine. Konsumsi daging hewan yang terinfeksi, terutama jika tidak dimasak dengan matang, juga berisiko menularkan virus.
Selain dari hewan ke manusia, virus Nipah juga dapat menular antar manusia. Penularan ini terjadi melalui kontak dekat dengan pasien, khususnya ketika terpapar cairan tubuh seperti air liur. Oleh sebab itu, wabah Nipah kerap menyebar di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan jika tidak ditangani dengan pengendalian infeksi yang ketat.
Â
Advertisement
Gejala Virus Nipah yang Bisa Berujung Kematian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5043355/original/088986300_1733817959-1733754518994_fungsi-hutan-mangrove.jpg)
Setelah terinfeksi, virus Nipah memiliki masa inkubasi sekitar 4 hingga 14 hari. Gejalanya bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Beberapa gejala awal yang umum muncul antara lain demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, muntah, dan sesak napas.
Pada kasus yang lebih serius, virus Nipah dapat menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak. Kondisi ini ditandai dengan kantuk berlebihan, kebingungan, disorientasi, perubahan perilaku, hingga kejang.
Pada tahap lanjut, infeksi virus Nipah dapat menyebabkan koma dan kematian, dengan tingkat fatalitas yang dilaporkan cukup tinggi.
Hingga kini, belum tersedia vaksin atau obat khusus untuk virus Nipah. Pencegahan menjadi langkah paling penting.
Masyarakat diimbau menghindari kontak langsung dengan hewan berisiko, mencuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi, memasak daging hingga matang, serta menerapkan kebersihan tangan secara ketat.
Lebih jauh, kasus virus Nipah menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan manusia tidak bisa dipisahkan dari menjaga lingkungan.
Perlindungan hutan dan habitat satwa liar bukan hanya soal ekologi, tapi juga investasi jangka panjang untuk mencegah munculnya penyakit mematikan di masa depan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289169/original/028294300_1783394455-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-07T102043.787.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5143694/original/079839900_1740549746-WAWANCARA_PRESIDEN_KE-6_SBY_ANG__15_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1791827/original/015659300_1512525714-10321102_10205492268656460_4374129301795033883_o.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5036808/original/098162900_1733393597-mimpi-tersesat-di-hutan-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264183/original/033782000_1782097869-063_2282689980-Timnas_Mesir_vs_Selandia_Baru.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8624685/original/076624500_1782618194-000_B8K274B.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289170/original/048335500_1783394486-063_2284674341.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289160/original/045856400_1783393532-063_2284950784.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289056/original/097559000_1783389885-063_2284969451.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709339/original/015500500_1782788430-neymar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929771/original/004907300_1782959836-bos3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5516473/original/017053500_1772306812-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8906115/original/073442900_1782946797-belgia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288986/original/034116600_1783373945-000_B9FD7NA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5185248/original/087119600_1744370189-medium-shot-sick-woman-with-fever_23-2149247989.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3030536/original/025901800_1579772464-048838900_1568532795-Bendera_Bangladesh__Pixabay_.jpg)
![[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: 5 Hal tentang Kematian Pertama Pasien Virus Nipah di 2026](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/J9kzY3Fqja9v9oHGu9_BZwo22Ak=/200x113/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5355880/original/064059000_1758366884-WhatsApp_Image_2025-09-20_at_10.28.22_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488195/original/057422900_1769740878-Kelelawar_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5079611/original/075660400_1736152693-1735888251296_ciri-ciri-flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4993874/original/056837800_1730895197-fotor-ai-2024110619038.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5334428/original/084075100_1756715756-asian-researcher-in-laboratory-from-back.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493534/original/049743600_1770258315-Gemini_Generated_Image_8yw0xi8yw0xi8yw0.png)