[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: 5 Hal tentang Kematian Pertama Pasien Virus Nipah di 2026

WHO melaporkan satu pasien yang terinfeksi virus Nipah di Bangladesh meninggal dunia. Berikut lima hal dari kejadian ini yang patut kita waspadai.

Diterbitkan 07 Februari 2026, 16:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasien infeksi virus Nipah asal Bangladesh yang meninggal dunia berdasarkan laporan resmi WHO dalam “Disease Outbreake News (DONs)” pada 6 Februari 2026 cukup membuat terkejut. 

Setidaknya ada lima hal dari kejadian ini yang patut kita waspadai:

Pertama, kasusnya adalah perempuan, usia antara 40-50 tahun, tinggal di Distrik Naogaon , Divisi Rajshahi, daerah Timur Laut Bangladesh. Jadi bukan dari India yang banyak dibahas belakangan ini, jadi sudah lebih dari negara walaupun kasusnya tidak berhubungan langsung satu dengan lainnya.

Artinya memang ini memerlukan perhatian dunia termasuk kita. Laporan ke WHO disampaikan oleh “National Focal Point - Internasional Heath Regulation (IHR-NFP)” Bangladesh pada 3 Februari 2026. Setiap negara memang mempunyai IHR NFP, dan saya menjadi IHR NFP Indonesia pada 2009 sampai 2014 yang lalu.

Kedua, perjalanan penyakit pasien cukup cepat memburuk sampai meninggal, hanya seminggu saja. Pasien mulai mengalami gejala pada 21 Januri 2026, dengan demam, sakit kepala, kejang otot, hilamg nafsu makan, badan lemah, muntah, lalu diikuti dengan hipersalivasi , disorientasi dan kejang.

Pada 27 Januari 2026 pasien menjadi tidak sadar diri, pada 28 Januari diambil sampel usap tenggorok dan darah, dan pasien meninggal di hari yang sama dengan pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratoriumnya itu. Cepatnya proses penyakit menunjukkan beratnya penyakit virus Nipah dengan angka kematiannya memang tinggi.

 

Peran Penting Pemeriksaan Laboratorium

Ketiga adalah peran penting pemeriksaan laboratorium. Bangladesh mengonfirmasi kasus yang meninggal ini terinfeksi virus Nipah (NiV infection) berdasar pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan deteksi antibodi anti-Nipah IgM dengan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA).

Pemeriksaan laboratorium ini juga dilakukan pada kontak yang bergejala.

Keempat, pasien dilaporkan beberapa kali minum jus manis yang kaya sukrosa yang diekstrak dari tangkai bunga atau batang pohon kurma atau date palm sap yang mentah, tidak direbus. Ini memang merupakan salah satu cara penularan infeksi virus Nipah, selain dari kontak langsung dengan kelelawar dan buah yang terkontaminasi.

Jadi ini menegaskan upaya penyuluhan kesehatan perlu dilakukan dengan luas dan baik.

Investigasi Kontak dan Investigasi Wabah

Kelima, sesudah ada kasus ini maka Bangladesh melakukan investigasi kontak dan investigasi wabah yang dilakukan oleh tim investigasi wabah (outbreak investigation team) mereka.

Rinciannya ada 35 yang kontak dengan pasien yang wafat ini yang ditelusuri, 6 orang diantaranya memiliki gejala dan keluhan tertentu, 3 orang kontak rumah tangga, 2 di masyarakat dan satu petugas kesehatan. Semuanya sudah diperiksa mendalam dan hasilnya negatif.

Memang semua negara amat memerlukan sedikitnya tiga tim. Kesatu tim investigasi wabah yang handal dan kerja cepat dan nyata di lapangan pada keadaan seperti ini, kedua tentu tim di klinik dan rumah sakit yang menangani pasiennya serta ketiga tim laboratorium yang terjamin presisinya, semuanya harus ditunjang dengan sarana dan prasarana memadai.

Jadi sesudah berbagai berita tentang kasus virus Nipah di India di awal 2026,  kita dihadapkan dengan kasus kematian di negara lain, yaitu di Bangladesh. Artinya semua negara -termasuk Indonesia- tentunya perlu mengambil langkah yang diperlukan, guna melindungi masyarakat.

** Penulis adalah Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes, Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 - PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 202