[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Campak, dari Persia ke Amerika dan Indonesia

Pada abad 9 Masehi, seorang pakar dari Persia menjelaskan perbedaan antaran campak dengan cacar pertama kali. Dan hingga kini kasus campak pun masih ada.

Diterbitkan 21 April 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pada 20 April 2026 saya menjadi pembicara pada webinar Measles Awareness: Recognizing the Risks and Preventing Complication yang diselenggarakan oleh RS YARSI Jakarta.

Selain membahas tentang vaksinasi, gejala dan komplikasi campak, saya bahas juga tiga hal lain.

Pertama, pakar Persia Muhammad Ibnu Zakariya al-Razi di abad 9 Masehi adalah orang pertama yang menjelaskan perbedaan antara campak dengan cacar. Kemudian, baru pada tahun 1757 seorang pakar Francis Home menemukan bahwa penyakit ini disebabkan oleh mikroorganisme yang ditemukan di darah.

Kedua, pada Perang Dunia I, campak disebut menyebabkan kematian sekitar 3.200 prajurit Amerika Serikat. Tingkat perawatan di rumah sakit juga meningkat akibat komplikasi campak berupa pneumonia. Kita tahu bahwa kejadian pneumonia juga merupakan penyebab kematian pada campak di negara ini. Menyedihkan sekali.

Ketiga, laporan Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa angka campak sudah menurun pada April ini. Namun di sisi lain, berita media beberapa hari belakangan ini masih memberitakan kenaikan kasus campak di beberapa daerah, seperti Cirebon, Kabupaten Agam, Kabupaten Wajo, DI Yogyakarta dan lain-lain.

Amerika Serikat juga menghadapi masalah campak ini. Sepanjang, 2026 sampai 16 April maka ada 1.748 kasus campak terkonfirmasi di Amerika Serikat. Lalu, sudah ada 19 kejadian luar biasa (KLB) baru di negara itu, dimana 94% kasusnya adalah campak terkonfirmasi.

Akan bagus kalau sebagian besar kasus-kasus campak di KLB negara kita juga sebaiknya ditetapkan status konfirmasinya secara laboratorium, jangan berdasar klinik semata.

** Penulis adalah Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University