Penularan Virus Nipah Antarmanusia Terbukti Bisa Lewat Napas Orang Terinfeksi

Penularan virus Nipah antarmanusia bisa terjadi lewat napas orang terinfeksi. Ini penjelasan dokter dan cara pencegahannya.

Diterbitkan 05 Februari 2026, 13:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penularan virus Nipah kembali menjadi perhatian setelah para ahli menegaskan bahwa virus mematikan ini tidak hanya berasal dari hewan, tapi juga berpotensi menyebar antarmanusia. Salah satu jalur penularan yang diwaspadai adalah melalui napas orang yang sudah terinfeksi.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, Sp.A Subsp.IPT, menjelaskan bahwa meski hingga kini belum ditemukan kasus penularan virus Nipah pada manusia di Indonesia, potensi tersebut tetap ada dan perlu diantisipasi sejak dini.

"Penularan virus Nipah antarmanusia terbukti bisa lewat napas orang terinfeksi, atau melalui kontak cairan tubuh dan darah," kata Dominicus dalam sebuah webinar yang membahas kewaspadaan terhadap virus Nipah belum lama ini.

"Dengan cara penularan tersebut, yang paling rentan (adalah) peternakan babi, petugas memotong babi, pengumpul nira atau aren kalau di kita kan banyak, atau buah-buah lain yang kemungkinan sudah dikonsumsi kelawar buah, petugas kesehatan yang melakukan perawatan," katanya seperti dikutip dari Antara.

Apakah Virus Nipah Termasuk Penyakit Zoonosis?

Virus Nipah dikenal sebagai penyakit Zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Di Indonesia, penular utama virus ini masih terdeteksi pada kelelawar buah (Pteropodidae) yang berperan sebagai inang alami. Hingga saat ini, manusia belum ditemukan terinfeksi, tapi virusnya sudah teridentifikasi pada hewan tersebut.

Dominicus menjelaskan bahwa penelitian uji Elisa yang dilakukan pada 2023 di sejumlah wilayah seperti Medan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan menemukan antibodi Nipah pada sekitar sepertiga sampel liur kelelawar buah. Bahkan, dari 50 sampel yang diteliti, dua di antaranya terdeteksi mengandung virus Nipah.

Sementara itu, penelitian pada hewan ternak babi di beberapa daerah seperti Jakarta, Medan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sulawesi Utara belum menemukan adanya antibodi Nipah. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat pengalaman wabah Nipah di negara lain yang melibatkan babi sebagai perantara penularan.

 

Penularan Virus Nipah Antarmanusia

Penularan virus Nipah dari hewan ke manusia dapat terjadi melalui paparan urine, ludah kelelawar, buah yang telah terkontaminasi gigitan kelelawar, hingga konsumsi daging mentah dari hewan yang terinfeksi. Sedangkan penularan antarmanusia bisa terjadi lewat droplet pernapasan, kontak cairan tubuh, atau darah dari pasien yang terinfeksi.

Kelompok yang dinilai paling berisiko antara lain peternak babi, pekerja pemotongan hewan, pengumpul nira atau aren, tenaga kesehatan, serta masyarakat yang sering mengonsumsi buah tanpa dicuci atau dikupas.

Untuk memastikan seseorang terinfeksi virus Nipah, pemeriksaan PCR diperlukan dan hanya dapat dilakukan di laboratorium rujukan berskala besar.

Hingga kini, belum tersedia vaksin yang dapat mencegah penularan virus Nipah. Penanganan medis masih bersifat suportif dan disesuaikan dengan gejala yang muncul.

Bagaimana Cara Mencegah Virus Nipah?

Sebagai langkah pencegahan, Dominicus menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Masyarakat, terutama anak-anak, disarankan menghindari konsumsi buah langsung dari pohon, selalu mencuci dan mengupas buah sebelum dimakan, serta membuang buah yang menunjukkan bekas gigitan kelelawar.

Memasak daging hingga matang dan menghindari kontak dengan hewan sakit atau mati mendadak juga menjadi langkah penting untuk mencegah penularan virus Nipah.

Tingkat Keparahan dan Risiko Kematian Virus Nipah

Virus Nipah dikenal sebagai penyakit dengan tingkat keparahan tinggi dan risiko kematian yang signifikan. Angka kematiannya bervariasi, berkisar antara 40 persen hingga lebih dari 70 persen, tergantung pada lokasi kejadian, kesiapan sistem kesehatan, serta kecepatan deteksi dan penanganan medis, seperti dikutip dari bblabkesmasmakassar.go.id pada Kamis, 5 Februari 2026.

Hingga saat ini, belum tersedia vaksin resmi untuk mencegah infeksi virus Nipah. Selain itu, belum ada obat antivirus khusus yang terbukti efektif secara luas. Penanganan pasien masih berfokus pada perawatan suportif, yaitu membantu fungsi organ vital dan mencegah terjadinya komplikasi berat akibat infeksi.

 

Upaya Indonesia Meningkatkan Kewaspadaan Virus Nipah

Meski hingga awal 2026 belum ditemukan kasus virus Nipah pada manusia di Indonesia, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan. Kementerian Kesehatan RI telah mengambil sejumlah langkah pencegahan untuk mengantisipasi potensi masuknya virus tersebut ke Tanah Air.

Beberapa upaya yang dilakukan antara lain memperkuat sistem deteksi dini di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan laut. Selain itu, dilakukan skrining kesehatan terhadap pelaku perjalanan yang datang dari negara-negara yang melaporkan kasus virus Nipah.

Pemerintah juga meningkatkan edukasi dan kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan serta laboratorium, agar mampu mengenali, mendeteksi, dan merespons secara cepat jika ditemukan kasus yang dicurigai.

Di tingkat global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus memantau perkembangan virus Nipah. WHO bahkan memasukkan Nipah ke dalam daftar patogen prioritas yang berpotensi memicu wabah besar, mengingat tingkat kematiannya yang tinggi dan hingga kini belum adanya vaksin yang tersedia.