Liputan6.com, Jakarta - Nama Virus Nipah kembali menyita perhatian publik. Virus Zoonosis mematikan ini kerap dikaitkan dengan tingkat kematian tinggi dan penularan lintas spesies, dari hewan ke manusia. Namun, pertanyaan yang paling sering muncul adalah: benarkah penularan virus Nipah bisa terjadi antarmanusia, atau hanya mitos belaka?Â
Jawabannya: bukan mitos. Penularan virus Nipah memang dapat terjadi dari manusia ke manusia, meski tidak semudah virus pernapasan seperti flu atau COVID-19.Â
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada 1999 dalam wabah di Malaysia dan Singapura. Saat itu, penularan virus Nipah terjadi dari kelelawar pemakan buah ke babi, lalu ke manusia. Seiring waktu, pola penularan virus Nipah semakin dipahami, termasuk kemampuannya menyebar antarmanusia, terutama dalam kondisi tertentu.Â
Advertisement
Bagaimana Penularan Virus Nipah Antarmanusia?
Penularan virus Nipah antarmanusia terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, seperti air liur, darah, urine, atau cairan pernapasan, seperti dikutip dari CDC. Risiko penularan paling tinggi ditemukan pada anggota keluarga, pengasuh, dan tenaga kesehatan yang merawat pasien tanpa perlindungan memadai.
Sejumlah wabah di Bangladesh dan India menunjukkan bahwa transmisi antarmanusia berperan besar dalam penularan Virus Nipah. Bahkan, dalam beberapa kasus, penularan terjadi di fasilitas kesehatan akibat kurangnya alat pelindung diri.Â
Namun, penting dipahami bahwa virus Nipah tidak menular lewat udara secara bebas. Artinya, virus ini tidak menyebar hanya dengan berada di ruangan yang sama, melainkan membutuhkan kontak erat.
Gejala Virus Nipah yang Perlu Diwaspadai
Infeksi virus Nipah dapat menyebabkan gejala ringan hingga berat. Pada fase awal, penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, batuk, nyeri tenggorokan, dan sesak napas.
Dalam beberapa hari, infeksi bisa berkembang menjadi ensefalitis atau pembengkakan otak, yang ditandai dengan kebingungan, mengantuk berat, kejang, hingga koma.Â
Tingkat fatalitas virus Nipah tergolong tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung pada sistem kesehatan dan kecepatan penanganan.
Mengapa Virus Nipah Dianggap Berbahaya?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488195/original/057422900_1769740878-Kelelawar_di_rumah.jpg)
Selain tingkat kematian yang tinggi, hingga kini belum tersedia obat atau vaksin khusus untuk virus Nipah. Penanganan yang diberikan masih bersifat suportif, seperti menjaga cairan tubuh, istirahat, serta mengatasi gejala yang muncul.Â
Fakta inilah yang membuat pencegahan menjadi kunci utama. Menghindari kontak dengan hewan pembawa virus, tidak mengonsumsi buah atau nira kurma mentah yang berpotensi terkontaminasi kelelawar, serta menerapkan protokol kebersihan menjadi langkah penting.
Jadi, mitos atau fakta? Kesimpulannya, virus Nipah bisa menular antarmanusia, dan itu fakta ilmiah. Meski penularannya tidak secepat virus lain, risiko tetap ada, terutama melalui kontak dekat tanpa perlindungan.Â
Kewaspadaan, edukasi publik, dan kesiapsiagaan tenaga kesehatan menjadi benteng utama untuk mencegah penyebaran Virus Nipah. Di tengah meningkatnya kesadaran akan penyakit zoonosis, memahami fakta yang benar adalah langkah awal melindungi diri dan orang sekitar.
Advertisement
Pencegahan Penularan Antarmanusia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5487816/original/028391400_1769678219-kelelawar_buah.jpg)
Mengingat belum adanya vaksin atau obat antivirus spesifik untuk virus Nipah, pencegahan menjadi kunci utama. Berikut adalah langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil:
- Menerapkan Protokol Kesehatan: Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer.
- Menghindari Kontak Langsung dengan Penderita: Hindari kontak langsung dengan penderita tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) yang memadai.
- Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI): Penerapan PPI yang benar sangat penting bagi tenaga kesehatan dan keluarga yang merawat pasien terinfeksi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2892802/original/045596000_1566805482-20190826-Jokowi-sebut-kaltim-jadi-ibu-kota-baru-ANGGA-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/262/original/004103300_1521089203-WhatsApp_Image_2018-03-15_at_12.45.09.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4961440/original/032709700_1728222801-fotor-ai-20241006205048.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8650687/original/066270800_1782664551-South_Korea_head_coach_Hong_Myung-bo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8229349/original/096793100_1781089763-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258052/original/073135800_1781307011-cyle_larin_selebrasi_kanada_bosnia_ap_sam_balkansky.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260736/original/098764200_1781652814-norwe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263772/original/067560900_1782010379-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8452423/original/071248000_1782349365-neymar_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621093/original/089503900_1782612244-063_2283639746.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262483/original/075097700_1781805987-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257797/original/022434900_1781257127-South_Africa_s_Themba_Zwane__11__receives_a_red_card.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262509/original/033331100_1781827688-063_2282269735.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257126/original/025840700_1781221894-AP26162777114808.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5185248/original/087119600_1744370189-medium-shot-sick-woman-with-fever_23-2149247989.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3030536/original/025901800_1579772464-048838900_1568532795-Bendera_Bangladesh__Pixabay_.jpg)
![[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: 5 Hal tentang Kematian Pertama Pasien Virus Nipah di 2026](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/J9kzY3Fqja9v9oHGu9_BZwo22Ak=/200x113/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5355880/original/064059000_1758366884-WhatsApp_Image_2025-09-20_at_10.28.22_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488195/original/057422900_1769740878-Kelelawar_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5079611/original/075660400_1736152693-1735888251296_ciri-ciri-flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4993874/original/056837800_1730895197-fotor-ai-2024110619038.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5334428/original/084075100_1756715756-asian-researcher-in-laboratory-from-back.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493534/original/049743600_1770258315-Gemini_Generated_Image_8yw0xi8yw0xi8yw0.png)