Sukses

Instalasi Seni Humanize Us: Interaksi Manusia, Media Sosial, dan Pergolakan Jiwa

Liputan6.com, Jakarta Melalui instalasi seni, pengunjung diajak menyelami bagaimana ia memahami media sosial sekaligus ‘berperang’ dengan kesehatan mental yang dialami. Instalasi seni yang berbentuk labirin ini seakan menjembatani seseorang lebih dalam mengenal media sosial, yang sangat erat kaitannya dengan kesehatan mental.

Media sosial bagai pedang bermata dua, ada sisi baik dan buruknya. Sisi baiknya, media sosial menghubungkan seseorang dengan lebih banyak orang. Saling bertukar informasi dan memeroleh berita terbaru juga termasuk sisi positif media sosial.

Dokter Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter menulis, media sosial juga punya sisi gelap, yang mana memengaruhi kesehatan mental. Penelitian yang dilakukan Royal Society for Public Health di Inggris menunjukkan, di antara beberapa jenis media sosial, Instagram menempati posisi paling buruk bagi kesehatan mental.

“Instagram paling banyak membuat penggunanya merasa tidak percaya diri dengan bentuk tubuh hingga menimbulkan kecemasan serta berujung depresi. Instagram juga dituding menjadi tempat yang rawan terjadi “cyber bullying,” kata Sepriani dikutip dari laman KlikDokter.

Keberkaitan media sosial dan kesehatan mental pun diangkat dalam sebuah pameran instalasi seni Humanize Us, yang bertema Mental & Wellness. Dalam instalasi ada lima ruangan yang berbeda topik: The Origin, The Exaggeration, The Empathy, The Honesty, dan The Society.

“Setiap ruang instalasi terinspirasi dari pengalaman manusia, dari lahir sampai memahami cara memanfaatkan media sosial. Awalnya, acara ini tercetus saat merayakan anniversary Monstore yang ke-10. Bagaimana kalau bikin acara yang mengangkat isu sosial.  Akhirnya, kami menggagas ide, media sosial dan kesehatan mental,” kata Founder dari Monstore, Agatha Carolina saat konferensi pers Humanize Us di Plaza Indonesia, Jakarta, ditulis Sabtu (23/11/2019).

 

2 dari 5 halaman

Media Sosial dan Kebohongan

Menyelami pertemuan manusia dengan media sosial dan kesehatan mental, sebelum memasuki ruang instalasi, pengunjung disambut dengan ruang bernuansa putih. Ruangan serba putih ini dimaknai kita belum tahu apa-apa tentang media sosial. Bahkan belum lahir ke dunia.

Health Liputan6.com menjajal instalasi seni Humanize Us. Ruangan instalasi pun dibentuk labirin yang menggambarkan pertemuan manusia dengan medsos. Pengunjung diajak merasakan pengalaman, bagaimana bermedia sosial dan pergolakan jiwa.

Seringkali saat berselancar di media sosial, kita mungkin dianggap rekan dunia maya, sosok yang selalu riang dan penuh senyuman. Postingan yang kita unggah terkesan menyenangkan. Penghuni dunia maya pun tidak tahu bila kita mungkin depresi atau stres dengan berbagai postingan yang betebaran di medsos.

“Nah, labirin yang dibentuk ini sebagai refleksi dari jiwa mereka yang jujur. Yang ironisnya, kadang membohongi diri. Yang pasti pengunjung bisa menafsirkan pengalaman mereka sendiri saat bermedia sosial,” lanjut Olin, sapaan akrabnya.

Masuk pada ruang pertama, The Origin, gambar USG rahim terpajang di kiri-kanan dinding. Ruangan ini memberikan gambaran pertemuan kita dengan dunia dalam rahim. Saat masih janin, hanya ada belaian kasih sayang dan emosi dari ibu.

Komunikasi yang terbentuk juga berdasarkan bahasa emosi, perasaan, dan ekspresi. Sebuah ruang yang merefleksikan kembali manusia pada permulaan sebagai bayi yang polos dan jujur.

3 dari 5 halaman

Kejujuran, Kebebasan, dan Pergolakan

Ruang kedua, The Exaggeration berupa cermin bening dengan nuansa lampu LED berwarna oranye. Tertulis di bawah cermin Humanity, lalu di sampingnya ada ikon Komentar (Comment), Sukai (Like), dan Bagikan (Share).

Media cermin penanda interaksi kita pada kehidupan dunia maya. Di medsos, tentu kita berlomba-lomba ingin memeroleh banyak komentar dan like.Cermin dan media sosial memberikan manusia kebebasan menjadi apapun yang sesuai keinginan dan menyajikannya untuk dunia. Jujur atau tidak jujur, kebebasan tetaplah kebebasan.

Nuansa lampu berwarna merah langsung terasa saat memasuki ruang ketiga, The Empathy. Sempat terkejut saat asap keluar dari sebuah ventilasi kecil di bawah dinding. Wuusss….. asap putih pun menyembur, selimuti ruangan. Pandangan mata seakan kabur karena asap putih.

Di ruangan inilah terjadi pergolakan, terintimidasi dari penilaian yang kita pilih, medsos berubah menjadi sasaran ambisi. Berawal  dari pelampiasan, mengunggah foto dan teks, dan curahan hati. Kian lama menjadi rancu, kita terlalu banyak merespons apa yang diunggah di medsos.

Akibatnya, pandangan menjadi kabur. Kita terlalu banyak berempati pada hal yang fana, yang bukan dari diri kita sendiri.

4 dari 5 halaman

Refleksi Diri

Ruang keempat, The Honesty, ruang putih seperti ruangan sebelumnya kembali memberikan ruang untuk manusia berpikir. Tanpa intimidasi, kembali pada diri sebagai manusia sendiri. Hal ini sebagai refleksi diri.

Unsur putih dimaknai kembali suci dan tenang. Terpampang tulisan di pojok atas pintu, You Are, Who You Are (Siapa Anda?) Pertanyaan yang penuh pemikiran layaknya kita belajar filsafat: mengenal siapa diri sendiri.

Melewati ruangan - ruangan sebelumnya, The Honesty memberikan ketenangan. Ketenangan yang seharusnya ada dari dalam diri manusia. Contohnya, menerima diri kita apa adanya. Jujur memahami diri sendiri. Kemudian menerima kita dengan segala baik buruknya.

Memasuki ruang kelima, The Society, pengunjung di hadapkan pada ruangan tembus pandang. Empat ruangan sebelumnya terlihat jelas. Kita seakan melihat kembali apa yang dilakukan. Setiap aktivitas dan pertemuan.

Setiap ruang dengan keadaan yang terinspirasi dari kehidupan sosial manusia. Melihat kembali apa yang sudah dijalani—perasaan, emosi, dan ekspresi baik buruknya. Selain itu, pesan yang ingin dibawa. Bahwa yang kita sebut sebagai privasi itu menjadi makanan publik saat diunggah di media sosial.

Begitulah memaknai perjalanan labirin instalasi seni Humanize Us.

5 dari 5 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Cara Linda Mencintai Diri Sendiri Walau Sibuk Kerja sebagai Jurnalis
Artikel Selanjutnya
Outbond Perusahaan 6 Bulan Sekali Bantu Jurnalis Usir Stres