Potongan Prasasti Kuno Ungkap Jejak Perjanjian Damai Tertua di Dunia

Fragmen tablet kuno di Hattusa, Turki, mengungkap jejak Perjanjian Damai Kadesh, kesepakatan tertua di dunia.

Diterbitkan 22 September 2026, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Ankara - Sebuah fragmen tablet bertuliskan aksara paku yang ditemukan di Hattusa, ibu kota kuno Kekaisaran Het di Turki tengah, telah diidentifikasi sebagai bagian dari salinan Perjanjian Damai Kadesh.

Dikutip dari Anadolu, Selasa (22/9/2026), Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki Mehmet Nuri Ersoy mengatakan, fragmen tersebut ditemukan dalam penggalian arkeologi di Buyukkale, salah satu kawasan di kota kuno Hattusa.

Menurut kementerian, fragmen itu memuat sejumlah baris dari ketentuan perjanjian yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang yang melarikan diri dari satu negara dan mencari perlindungan di negara lainnya.

"Kami telah menemukan jejak perdamaian yang berasal dari ribuan tahun lalu di tanah Anatolia," kata Ersoy dalam unggahan di media sosial.

"Pemeriksaan ilmiah telah menentukan bahwa sebuah fragmen tablet bertuliskan aksara paku yang ditemukan selama penggalian di Buyukkale, Hattusa, Corum, merupakan bagian dari salah satu salinan Perjanjian Damai Kadesh," lanjutnya.

Ersoy mengatakan bagian yang masih dapat dibaca dari fragmen tersebut memuat referensi mengenai orang-orang yang melarikan diri dari wilayah Mesir dan Hatti, kerajaan kuno Het. Fragmen itu juga memuat ketentuan mengenai penghancuran rumah.

Menurut Ersoy, penemuan yang diumumkan pada 21 September, bertepatan dengan Hari Perdamaian Sedunia, menunjukkan peran panjang Anatolia dalam sejarah perdamaian dan diplomasi.

"Pernyataan mengenai penghancuran rumah-rumah masyarakat membawa pesan kuat dari ribuan tahun lalu hingga saat ini," ujarnya.

Dalam unggahannya, Ersoy juga menyinggung situasi di Palestina. Menurut dia, warisan kuno tersebut mengingatkan manusia mengenai tanggung jawab untuk melindungi kehidupan dan martabat manusia.

"Kami berharap masa depan di mana semua orang, khususnya saudara-saudari Palestina kami, dapat hidup dalam keamanan, perdamaian dan ketenangan," katanya.

Diidentifikasi Setelah Setahun Diteliti

Kementerian mengatakan fragmen tablet tersebut ditemukan di dekat Bangunan E di Buyukkale selama penggalian arkeologi.

Salah satu sisi fragmen masih bertahan dan menjalani pemeriksaan ilmiah secara mendetail selama sekitar satu tahun.

Para peneliti kemudian menentukan bahwa fragmen tersebut merupakan bagian dari salah satu salinan Perjanjian Damai Kadesh yang dibuat antara Raja Het Hattusili III dan Raja Mesir Ramesses II.

Perjanjian tersebut secara luas dikaitkan dengan berakhirnya konflik antara kerajaan Het dan Mesir setelah Pertempuran Kadesh yang berlangsung pada abad ke-13 SM. Perjanjian itu dianggap sebagai salah satu kesepakatan perdamaian tertulis paling awal yang diketahui.

Fragmen yang baru diidentifikasi tersebut memuat sejumlah baris dari ketentuan yang tercantum dalam Pasal 12 hingga 20 perjanjian, yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang yang melarikan diri dari salah satu dari kedua negara dan mencari perlindungan di negara lainnya.

Teks yang masih tersisa memang tidak utuh. Namun, bagian yang dapat dibaca merujuk pada orang-orang yang melarikan diri dari Mesir dan Hatti, serta memuat ketentuan mengenai perlindungan rumah dari penghancuran.

 

Menambah Fragmen Perjanjian di Hattusa

Versi Mesir dari Perjanjian Damai Kadesh ditulis menggunakan hieroglif pada dinding kuil di Mesir. Sementara itu, sejumlah fragmen tablet tanah liat yang memuat versi Akkadia dari perjanjian tersebut ditemukan di Hattusa dalam penggalian pertama di lokasi itu antara 1906 dan 1912.

Hattusa berada di dekat kota modern Bogazkale, Provinsi Corum. Kota tersebut merupakan ibu kota Kekaisaran Het, yang menjadi kekuatan besar di Anatolia dan kawasan sekitarnya pada milenium kedua SM.

Situs arkeologi Hattusa masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO pada 1986.

Fragmen-fragmen perjanjian yang telah ditemukan sebelumnya kini menjadi bagian dari koleksi Museum Arkeologi Istanbul, Museum Peradaban Anatolia di Ankara, Vorderasiatisches Museum di Berlin, serta Museum State Hermitage di St. Petersburg.

Fragmen yang baru diidentifikasi diharapkan dapat membantu upaya merekonstruksi salinan tablet tanah liat perjanjian yang ditemukan di Hattusa.

Penggalian di Buyukkale masih berlangsung. Para peneliti berharap dapat menemukan fragmen lain yang masih hilang dari perjanjian tersebut.