Melania Trump Pertemukan Rusia dan Ukraina di Gedung Putih

Pertemuan ini digelar setelah gencatan senjata enam hari memungkinkan ratusan warga dievakuasi dari Oleshky yang diduduki Rusia.

Diterbitkan 06 November 2026, 16:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Ibu Negara Amerika Serikat (AS) Melania Trump mempertemukan perwakilan Ukraina dan Rusia di Gedung Putih pada Kamis (5/11/2026). Pertemuan tersebut membahas keberhasilan misi kemanusiaan yang memungkinkan ratusan warga dievakuasi dari Kota Oleshky, Ukraina, yang berada di bawah pendudukan Rusia.

Pertemuan itu sekaligus menjadi kesempatan bagi Melania dan para pendukungnya untuk menonjolkan perannya dalam mewujudkan gencatan senjata selama enam hari. Gedung Putih menyebut kesepakatan tersebut sebagai "inisiatif diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Gencatan senjata di Oleshky merupakan penghentian sementara pertempuran di satu wilayah dengan durasi terpanjang sejak perang Rusia-Ukraina dimulai pada 2022.

"Mari kita melihat Oleshky sebagai secercah cahaya di tengah dunia yang diliputi kegelapan, yang mampu memperlihatkan sisi terbaik kemanusiaan," kata Melania di Gedung Putih seperti dilaporkan CBC.

Penasihat senior Melania, Marc Beckman, yang menjadi salah satu produser film dokumenter berjudul "Melania" pada 2026, menyambut pertemuan tersebut dengan antusias. Ia menyebutnya sebagai "momen luar biasa dalam sejarah AS".

Meski demikian, pertemuan itu tampaknya bukan sekadar upaya kemanusiaan, melainkan bagian dari strategi politik yang disengaja oleh Moskow maupun Kyiv.

"Cukup jelas bahwa Ukraina dan Rusia sama-sama ingin menjaga hubungan baik dengan Presiden Trump," kata Daniel Treisman, profesor di University of California, Los Angeles, yang penelitiannya berfokus pada politik Rusia.

Menurut Treisman, kedua negara bersedia memberikan sedikit kelonggaran atau sekadar melibatkan Melania dalam proses yang sebenarnya sudah berlangsung.

Tujuannya, kata dia, adalah "menciptakan situasi yang membuat Presiden Trump memandang mereka dengan lebih positif".

 

Gedung Putih Soroti Peran Melania Trump dalam Gencatan Senjata

Ketika Presiden Donald Trump dan Partai Republik tengah mengevaluasi kekalahan telak dalam pemilu paruh waktu AS yang membuat Partai Demokrat merebut kendali Kongres, Melania justru menjadi tuan rumah pertemuan yang dihadiri sejumlah perwakilan yang memuji langkah Washington.

Komisioner Hak Asasi Manusia Rusia Yana Lantratova dan Kepala Dana Investasi Langsung Rusia (Russian Direct Investment Fund) Kirill Dmitriev hadir dalam pertemuan tersebut.

Sementara itu, media Ukraina melaporkan bahwa Komisioner Hak Asasi Manusia Ukraina Dmytro Lubinets dan anggota senior parlemen Ukraina David Arakhamia turut menghadiri acara tersebut.

Dalam pernyataan terbukanya, Melania membahas gencatan senjata dan keberhasilan misi kemanusiaan di Oleshky.

"Kita harus memanfaatkan keberanian yang telah kita tunjukkan di Oleshky untuk menemukan titik temu melalui kepedulian bersama terhadap penderitaan orang-orang yang tidak bersalah. Bersama-sama, kita dapat menciptakan sesuatu yang lebih bertahan lama daripada gencatan senjata sementara," ujarnya.

Sepanjang masa jabatan kedua Trump, Melania relatif jarang tampil dalam kegiatan politik. Namun, ia mendapat pengakuan atas perannya dalam membantu mempercepat pemulangan anak-anak Ukraina yang terpisah dari keluarga mereka dan dibawa ke Rusia.

Melania pernah menulis surat kepada Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai penderitaan anak-anak yang terdampak perang. Surat tersebut diserahkan langsung oleh Trump kepada Putin ketika keduanya bertemu dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi di Alaska pada Agustus 2025.

Melania kemudian mengungkapkan bahwa dirinya memiliki "saluran komunikasi terbuka" dengan Putin terkait persoalan anak-anak Ukraina.

Keterlibatannya dalam gencatan senjata di Oleshky membuat peran diplomatik Melania mendapat perhatian yang jauh lebih besar.

Selain Gedung Putih yang mengaitkan keberhasilan kesepakatan tersebut dengan diplomasi Melania, Ukraina memberikan salah satu penghargaan kenegaraan tertingginya kepada ibu negara AS itu.

Pada Rabu (4/11), Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menganugerahkan Order of Princess Olha kepada Melania melalui keputusan presiden. Penghargaan itu diberikan atas "kontribusi pribadi yang signifikan dalam memberikan dukungan kemanusiaan bagi Ukraina".

Penasihat Melania, Beckman, turut menerima penghargaan Golden Heart atas perannya dalam mengoordinasikan bantuan.

Sebelumnya, Trump pernah mengumumkan sejumlah gencatan senjata di sektor energi. Namun, kesepakatan tersebut gagal bertahan karena Rusia terus menggempur jaringan energi Ukraina.

Berbeda dengan upaya-upaya sebelumnya, gencatan senjata di Oleshky berhasil dilaksanakan, meskipun hanya berlaku di wilayah terbatas dan berlangsung selama enam hari, yakni pada 27 Oktober hingga 1 November.

 

Di Balik Keberhasilan Evakuasi Ratusan Warga Oleshky

Oleshky merupakan kota yang porak-poranda akibat perang dan terletak di sebelah selatan Sungai Dnipro, yang menjadi garis depan pertempuran antara pasukan Ukraina dan Rusia di wilayah Kherson.

Pasukan Rusia merebut kota tersebut pada hari pertama invasi besar-besaran ke Ukraina, yakni 24 Februari 2022.

Sebelum perang, Oleshky memiliki sekitar 24.000 penduduk. Hampir lima tahun setelah invasi dimulai, diperkirakan hanya sekitar 2.000 orang yang masih bertahan di kota itu menjelang evakuasi.

Mereka terjebak akibat serangan pesawat nirawak atau drone yang terus berlangsung serta jalan-jalan yang dipenuhi ranjau.

Pertempuran membuat akses terhadap makanan dan obat-obatan sangat terbatas selama berbulan-bulan. Sejumlah warga mengaku terpaksa mencari tumbuhan liar untuk dimakan setelah persediaan makanan mereka habis.

Sebagian penduduk mengatakan pasokan makanan telah berhenti dikirim sejak Mei, sehingga ratusan orang menghadapi kelaparan parah.

Pada 30 Oktober, hampir 800 orang meninggalkan Oleshky menggunakan iring-iringan bus.

Sebagian mengungsi ke Rusia, sementara yang lain menempuh perjalanan melalui Semenanjung Krimea yang diduduki Rusia menuju Belarus, sebelum kembali memasuki wilayah Ukraina.

Meski evakuasi tersebut berhasil dilaksanakan, masih ada keraguan bahwa Melania merupakan satu-satunya pihak yang berperan dalam mewujudkan gencatan senjata.

Sebelum evakuasi berlangsung, Vatikan telah melakukan upaya diplomatik. Paus Leo berbicara melalui telepon secara terpisah dengan Zelenskyy dan Putin. Ia menghubungi Putin dari tempat tidur rumah sakit setelah menjalani operasi.

Direktur Eksekutif Pusat Strategi Pertahanan (Centre for Defence Strategies) di Kyiv, Oleksandr Khara, mengatakan kepada CBC News bahwa badan intelijen Ukraina dan Rusia sebenarnya telah melakukan persiapan awal di Oleshky sebelum Melania terlibat.

"Setelah itu, muncul gagasan yang bagus untuk melibatkan ibu negara sebagai semacam simbol dari tindakan kemanusiaan tersebut," kata Khara dalam wawancara melalui video.

"Saya yakin pihak AS memutuskan untuk mendukung upaya ini karena hal tersebut menunjukkan adanya kemungkinan gencatan senjata atau semacam perbaikan situasi di tengah perang ini," lanjutnya.

 

Peran Melania Trump Diapresiasi, tetapi Tak Luput dari Kritik

Khara tidak yakin gencatan senjata yang lebih permanen atau kesepakatan damai dengan Rusia dapat tercapai dalam waktu dekat.

Meski begitu, ia menilai peran Melania sebagai mediator sangat dihargai oleh Ukraina.

"Kami akan melakukan segala yang mungkin untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa warga Ukraina," ujarnya.

"Jika dia dapat membantu mencapai tujuan itu, tentu kami akan sangat senang melibatkannya."

Khara menambahkan, keterlibatan Melania membuat Kyiv lebih yakin bahwa Moskow akan mematuhi kesepakatan gencatan senjata tersebut.

Menurutnya, Kremlin berupaya menghindari tindakan yang dapat membuat Presiden Trump marah, mengingat Rusia berharap dapat menjalin kesepakatan ekonomi dengan Washington pada masa mendatang.

Rusia sendiri menyambut baik keterlibatan Melania dan menilai langkah tersebut dapat menjadi contoh bagi kesepakatan serupa pada masa mendatang.

Sebelumnya, pada Rabu, pihak Rusia mengatakan kepada media pemerintah bahwa sejumlah delegasi yang dijadwalkan menghadiri pertemuan di Gedung Putih pada Kamis belum menerima visa AS.

Media pemerintah Rusia turut menyampaikan pandangan positif mengenai keterlibatan Melania. Namun, sejumlah kalangan tetap melontarkan kritik.

"Bagaimana gencatan senjata di Oleshky dapat dianggap sebagai langkah menuju perdamaian jika pada dasarnya ini merupakan upaya pencitraan bagi ibu negara AS?" tulis komentator yang berbasis di Moskow, Maxim Shevchenko, melalui Telegram.

Sementara itu, Sergey Sanovich, peneliti di Hoover Institution, Stanford University, menilai bahwa terlepas dari perdebatan mengenai seberapa besar peran Melania dalam kesepakatan tersebut, hasil yang dicapai tetap merupakan upaya yang patut diapresiasi.

"Upaya seperti ini seharusnya lebih sering dilakukan," kata Sanovich kepada CBC News dalam wawancara melalui Zoom.

"Perundingan itu penting. Akan lebih baik ketika para politisi saling berbicara daripada tidak berkomunikasi sama sekali."

Â