Partai Republik AS Kalah Telak, Elon Musk Rugi Rp 8 Triliun

Elon Musk yang telah gelontorkan dana besar-besaran untuk Partai Republik terpukul kekalahan pemilihan paruh waktu.

Diterbitkan 05 November 2026, 21:45 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Elon Musk memberikan dana hampir US$ 450 juta, atau Rp 8,1 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.095), kepada kandidat Republik di pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS). Angka itu termasuk terbanyak dalam siklus pemilihan, Namun, jumlah itu masih tak cukup untuk mengalahkan kemenangan Partai Demokrat.

Melansir BBC, Kamis (5/11/2026), salah satu kemenangan yang paling mencolok diraih oleh James Talarico dari Partai Demokrat, yang mengalahkan Ken Paxton dari Partai Republik dalam posisi Senat AS di Texas. Musk menghabiskan setidaknya US$ 45 juta (Rp 814,2 miliar) demi mendukung Paxton, menurut analisis BBC terhadap data finansial kampanye.

Daerah pemilihan lain di mana Musk menghabiskan jutaan dolar AS antara lain Arizona, Michigan, Wisconsin, dan Minnesota. Catatan menunjukkan pengeluarannya berlanjut hingga Senin.

Lalu, pada Selasa malam, Musk mengakui kekalahannya dengan bergurau di X, laser luar angkasa untuk mengganggu pemilu itu tidak berhasil.

Dampak Kemenangan Demokrat Terhadap Bisnis Musk

Banyaknya jumlah kekalahan Republikan pekan ini mungkin akan berdampak signifikan pada Musk dan bisnisnya.

SpaceX telah meraup sekitar US$ 10 miliar atau Rp 180,9 triliun dalam kontrak pemerintahan baru sejak Trump dipilih untuk masa jabatan keduanya yang tidak berturut-turut. Beberapa pembuat kebijakan Partai Demokrat telah mengatakan peran besar perusahaan tersebut dalam pemerintahan dan keamanan nasional perlu di-investigasi.

Selain itu, perkembangan data center SpaceX juga berpotensi terhalang, layaknya pengembangan data center perusahaan teknologi lain.

Operasional SpaceX

 

Contohnya, di Georgia, di mana SpaceX memiliki operasional data center, gubernur dari Partai Demokrat yang baru saja terpilih memiliki janji untuk membatasi laju pembangunan gedung-gedung raksasa, serta keringanan pajak besar-besaran yang biasanya diberikan kepada perusahaan teknologi untuk membangun gedung tersebut.

Beberapa politikuslainnya mencalonkan diri dengan janji untuk membatasi data center, dan puluhan kebijakan negara untuk membatasi pengembangan pusat data tersebut disahkan pada hari Selasa.

Musk mengunggah pada X, Selasa, bahwa angan-angannya untuk membangun data center di luar angkasa “terdengar menggiurkan sekarang.”

Dampak Terhadap Perusahaan Teknologi AS

Selain itu, perusahaan teknologi yang berkecimpung dalam AI juga berpotensi mengalami hambatan pemerintahan dan regulasi kini Partai Demokrat berkuasa, meskipun kebijakan apapun masih membutuhkan persetujuan Trump.

Kepala solusi investasi AJ Bell, James Flintoft, menyoroti pengeluaran Musk yang tidak membuahkan hasil untuk calon Partai Republik serta besarnya kemenangan yang diraih Partai Demokrat sebagai pemicu “masa ketidakpastian bagi para investor saat mereka menilai apakah perusahaan teknologi akan menghadapi regulasi yang lebih ketat.”

Senator Ed Markey pada Rabu merespon pertanyaan di X tentang apakah eksekutif industri teknologi besar akan menjadi target investigasi. Dia mengatakan, “Mereka harus menanam hutan baru untuk menampung semua surat panggilan yang akan kita cetak.”

Sementara, saham teknologi naik pada Rabu pagi. Namun, Tesla turun 4,9% dan SpaceX turun 3,4%.

Musk Berhenti Mengunggah Terkait Politik

Sejak Rabu, Musk berhenti mengunggah tentang politik di X, dan kini lebih sering mempromosikan GrokBot, sebuah chatbot AI yang diproduksi xAI. Hal ini bertolak belakang dengan pemilihan 2025, di mana Musk akan mengunggah hingga ratusan kali dalam sehari mengenai politik.

Dia juga berhenti menyematkan unggahan yang telah disematkan sejak pekan lalu, yakni mengenai “kekhawatirannya” terhadap politikus Partai Demokrat yang unggul di lebih banyak wilayah pemilihan paruh waktu.

Kekhawatiran ini termasuk kemungkinan AS akan menerima lebih banyak imigran, membuat Washington DC dan Puerto Riko negara bagian terpisah, serta menambah jumlah hakim di Mahkamah Agung.

Unggahan lainnya yang mengajak 241 juta pengikutnya di X untuk “Pilih merah hari ini!” yang muncul Rabu juga dihapus dari profil Musk.

BBC telah menghubungi SpaceX untuk komen mengenai pengeluaran dan unggahan Musk.

Perspektif Lain Miliarder AS

Meskipun Musk mengalirkan jutaan dolar AS untuk mendukung kandidat Partai Republik di berbagai negara bagian AS, fokusnya nampak tertuju pada Texas. Beberapa tahun belakangan, Musk menjadikan negara bagian tersebut sebagai markas besar Tesla dan SpaceX, yang keduanya masih menjalankan operasi besar-besaran di California, tempat keduanya didirikan.

"Ada sesuatu yang amat salah dengan Talarico,” Musk mengunggah di X pada Oktober.

Talarico merespon, “Ada sesuatu yang amat salah dengan sistem politik yang membiarkan satu triliuner membeli Senator AS pribadinya.”

Pun demikian, tak semua miliarder di AS memiliki pandangan yang sama terhadap Partai Republik layaknya Trump.

Reid Hoffman, seorang miliarder teknologi dan pendiri LinkedIn, yang merupakan donor penting bagi Partai Demokrat, memuji hasil pemilu hari Selasa sebagai peristiwa yang “jauh melampaui ekspektasi kami.”

"Pemilihan ini adalah perlawanan hebat terhadap Trump dan anak buahnya,” tulis Hoffman di X dan LinkedIn.

"Sementara orang-orang seperti Elon menghabiskan dana yang luar biasa besar untuk mempertahankan para badut otoriter di kursi kekuasaan, kita yang percaya pada cita-cita Amerika tidak boleh menyerah," ia menambahkan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6