Laporan Liputan6.com dari Thailand: Merekam Lanskap Chiang Rai Lewat Aroma dan Rasa di Meja Tasabiang

Di Tasabiang, Chiang Rai, Thailand, resep warisan Lanna menjelma jadi sajian modern, membawa aroma rempah, kenangan masa kecil, dan cerita tanah kelahiran.

Diterbitkan 05 November 2026, 21:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Chiang Rai - Pada Selasa malam, 27 Oktober 2026, tubuh saya memang tak beranjak dari meja tinggi di salah satu sudut Tasabiang. Namun, sajian demi sajian justru mengajak lidah saya menyeberangi Sungai Mae Kok, menyusuri lanskap Chiang Rai, Thailand, melalui aroma rempah, bahan pangan lokal, dan resep warisan Lanna.

Restoran tepi sungai di Kahavadi Chiang Rai, Curio Collection by Hilton ini menawarkan cara berbeda untuk mengenali kuliner Thailand Utara. Tradisi menjadi pijakan, sementara kreativitas memberi ruang bagi setiap hidangan untuk tampil dengan karakter baru.

Di balik konsep tersebut, ada Chef Aek, sosok yang tumbuh dan besar di Chiang Rai. Baginya, makanan memiliki hubungan erat dengan keluarga, tempat asal, dan kenangan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Saya berkesempatan mengenal sedikit kisahnya melalui percakapan di sela kunjungan. Chef Aek bercerita dengan ramah tentang dirinya sebagai orang lokal yang mengenal Chiang Rai bukan hanya dari lanskap alamnya, melainkan juga dari kebiasaan makan dan tradisi masyarakatnya.

Perjalanan kulinernya bahkan bermula jauh sebelum ia mengenakan seragam chef. Keluarganya telah mengelola restoran lokal sejak generasi neneknya. Aroma kari yang dimasak perlahan, herba yang ditumbuk segar, hingga resep keluarga menjadi bagian dari keseharian yang membentuk ingatan dan selera makannya.

Warisan itulah yang kini ia bawa ke dapur Tasabiang. Chef Aek tidak sekadar memindahkan resep lama ke atas piring restoran. Ia mencoba merekam kembali rasa yang dikenalnya sejak kecil, lalu memberinya tafsir baru melalui teknik memasak, perpaduan bahan, dan penyajian yang lebih modern.

Hidangan Pembuka

Hidangan yang dulu akrab di meja makan keluarga kini menemukan ruang untuk dikenal lebih banyak orang. Saya salah satunya yang memulai perjalanan rasa dengan Poo Ong, custard kepiting khas Chiang Rai.

Teksturnya lembut menyerupai mousse dengan cita rasa gurih kepiting yang berpadu dengan sentuhan bawang putih hitam. Kerupuk sagu dan acar sayuran melengkapi sajian tersebut. Perpaduan tekstur lembut, renyah, dan sedikit asam membuat suapan pertama terasa menarik.

Petualangan berlanjut melalui tiga appetizer dengan karakter berbeda. Tam Ma Kruea menghadirkan terong bakar berbumbu pedas khas lokal dalam wadah potato cup yang renyah. Telur puyuh acar teh oolong menjadi pelengkap dengan sentuhan rasa yang lebih kompleks.

Tam Goong Rim Kok menawarkan fritter udang sungai berukuran kecil dengan balutan renyah. Salad herba lokal yang menyertainya memberi kesegaran untuk menyeimbangkan rasa gurih udang.

Saya juga mencicipi Yam Pak Good, salad pakis dengan udang sungai panggang, tomat Royal Project, chili jelly, dan bunga yang dapat dimakan. Sajian ini terasa segar dengan lapisan rasa pedas yang memberi karakter pada setiap suapan.

 

Sup dengan Black Sticky Rice

Bagian yang paling menarik perhatian saya justru hadir ketika hidangan berkuah mulai tersaji. Sebelumnya, saya hanya mengenal kebiasaan menyantap sup bersama khao kum atau black sticky rice melalui video seorang food vlogger favorit.

Namun kali ini, saya berkesempatan mencobanya sendiri. Tasabiang menyajikan Yam Chin Gai, sup kaldu ayam hitam pedas dengan roulade ayam organik dan bunga pisang muda. Ada pula Hang Lay Lamb Shank, kari khas Thailand Utara dengan daging domba yang dimasak perlahan, nanas Phu Lae, acar bawang putih, serta ketan hitam kukus.

Saya tidak ragu membulatkan sedikit ketan hitam dengan tangan, lalu mencelupkannya ke dalam kuah. Perlu berhati-hati karena nasinya masih panas. Tekstur ketan hitam cenderung padat dan rasanya relatif hambar.

Karakter tersebut justru memberi kesempatan bagi kuah untuk tampil lebih menonjol. Ketan hitam bukan penambah rasa yang dominan, melainkan elemen tekstur yang membuat pengalaman menyantap sup terasa berbeda.

 

Sajian Kaya Rempah sampai Dessert Manis

Hang Lay Lamb Shank menjadi salah satu sajian yang patut mendapat perhatian. Daging domba yang dimasak perlahan berpadu dengan kuah kari kaya rempah. Nanas Phu Lae dan acar bawang putih menghadirkan aksen yang memperkaya karakter hidangan.

Oua Gai kemudian menghadirkan interpretasi lain terhadap kuliner tradisional. Ayam panggang muda diisi dengan adonan berbumbu Sai Oua, sosis herbal khas Thailand Utara. Aroma asap dari herba lokal menambah kedalaman karakter hidangan ini.

Untuk mengakhiri jamuan, Doi Tung Macadamia Honey Mille-Feuille menjadi pilihan penutup. Lapisan pastry renyah diisi krim madu dengan tambahan macadamia Doi Tung, karamel asin, dan saus teh melati.

Tekstur berlapisnya memberikan kontras dengan kelembutan krim. Rasa manis madu, gurih kacang, dan aroma teh melati membuat hidangan penutup ini terasa istimewa.

 

Tak Hanya Tasabiang

Sepanjang bersantap, suasana restoran yang tenang memberi ruang untuk menikmati setiap sajian tanpa terburu-buru. Hidangan datang dengan tempo yang nyaman, sehingga saya bisa memperhatikan detail penyajian sekaligus mengenali karakter masing-masing menu.

Pengalaman kuliner di Kahavadi tak berhenti di Tasabiang. Larderley menjadi tempat saya menikmati sarapan setiap hari, sekaligus beberapa kali makan siang dan malam.

Restoran ini mengusung tradisi pinto Thailand, yakni kebiasaan menyajikan makanan dalam beberapa susun wadah untuk dinikmati bersama. Menunya merangkum hidangan Thailand, Asia, hingga internasional. Jangan lewatkan rekomendasi jus harian mereka yang menarik untuk dicoba.

Ada pula The Ledger, sebuah lounge yang terinspirasi dari buku catatan para pedagang. Tempat ini menghadirkan pilihan small plates dan signature cocktail dengan pengaruh kuliner dari berbagai belahan dunia. 

Ketiganya menawarkan karakter bersantap yang berbeda. Tasabiang mengajak saya menelusuri warisan kuliner Lanna melalui tangan seorang chef yang membawa kampung halamannya ke dapur modern. Larderley menghadirkan kehangatan hidangan untuk dinikmati bersama, sementara The Ledger menjadi persinggahan untuk mencicipi ragam rasa dari berbagai penjuru dunia.