Peternak Jawa Timur Mengeluh Harga Ayam Terjun ke Rp 17 Ribu per Kg

Peternak mengeluhkan biaya produksi tinggi tetapi harga jual belum mampu menutup biaya.

Diterbitkan 05 November 2026, 21:30 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kelompok peternak mengeluhkan rendahnya harga ayam di tingkat peternak yang berkisar Rp 17 ribu - Rp 18 ribu per kilogram (kg). Tekanan juga diklaim dirasakan peternak imbas tingginya harga pakan.

Koordinator Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) Jawa Timur, Barry Saripudin mengungkap harga ayam hidup dari kandang itu telah terjadi dalam tiga minggu terakhir. Beban dirasakan imbas harga pokok produksi (HPP) yang lebih mahal, sekitar Rp 22.500-Rp23.000 per kg.

“Dengan kondisi harga seperti sekarang, peternak mengalami kerugian sekitar R p5.500 hingga Rp 6.000 per kilogram. Kami sudah berada di ambang kebangkrutan. Biaya produksi terus tinggi, tetapi harga jual tidak mampu menutup biaya yang kami keluarkan,” kata Barry dalam keterangannya, Kamis (5/11/2026).

Di menerangkan, peternak harus membeli pakan dengan harga Rp 10 eibu per kg, jagung pakan Rp 7.800-Rp 8.000 per kg, serta soybean meal (SBM) impor Rp 10 ribu per kg. Barry mengeluhkan permintaan akan ayam hidup cenderung belum meningkat, sehingga harga di tingkat peternak turun.

Wakil Kepala Produksi Peternak Curug Maju Bersama, Agus Sunarto, turut merasakan tekanan. Dia memprediksi akan ada kelebihan produksi yang turut diperparah dengan melemahnya permintaan di tengah kondisi ekonomi saat ini.

“Biaya produksi sekarang sangat tinggi. Harga pakan terus naik dan DOC sudah di atas Rp 8.800 per ekor. HPP kami sekitar Rp 23.000 per kilogram, sedangkan harga ayam di kandang hanya Rp 17.500 per kilogram,” ujar Agus.

 

Usulan Peternak

Permindo kemudian merumuskan empat poin permintaannya kepada pemerintah. Pertama, pemerintah diminta menekan biaya produksi, termasuk harga dan ketersediaan bahan baku pakan, termasuk jika ada pertimbangan impor.

Kedua, pemerintah diminta membenahi tata niaga inpor ayam hidup tingkat hilir dengan pengawasan ketat. Peternak meminta stabilitas harga dari tingkat Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) sampai perantara pedagang dijaga.

Barry juga meminta pengendalian produksi ayam hidup di perusahaan besar atau integrator yntuk memberi ruang hasil peternak mandiri. Keempat, pemerintah diminta menjalankan mandat Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2024, khususnya kewajiban kepemilikan RPHU bagi peternak dengan chick-in 600 boks per minggu.

“Peternak tidak bisa terus diminta bertahan dalam kondisi rugi. Kami membutuhkan kebijakan yang benar-benar bekerja di lapangan, bukan sekadar imbauan. Jika biaya produksi tetap tinggi dan harga ayam terus jatuh, semakin banyak peternak mandiri yang akan kehilangan usahanya,” tandas Barry.

 

Mentan Amran Temui Peternak

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman terus menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah hadir langsung di tengah petani dan peternak. Kehadiran tersebut ditujukan untuk mendengarkan persoalan sekaligus memastikan penyelesaiannya dapat dirasakan di lapangan.

Karena itu, setiap keluhan yang disampaikan peternak perlu ditindaklanjuti dengan solusi nyata. Pemerintah tidak cukup hanya mendengarkan, tetapi juga harus memastikan persoalan mereka tertangani.

Pesan tersebut mengemuka dalam pertemuan Amran dengan peternak ayam petelur pada kegiatan Sinergi BUMN Pangan Bersama Peternak Ayam Petelur Mikro melalui Pembelian Telur Ayam dan Penyaluran Jagung SPHP. Acara berlangsung di Desa Slemanan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Kamis (5/11/2026).

Dalam pertemuan itu, peternak menyampaikan sejumlah tantangan yang relatif serupa. Mulai dari mahalnya jagung, harga telur yang tertekan, penyaluran jagung SPHP yang belum selalu lancar, hingga kekhawatiran terhadap keberlanjutan usaha peternak rakyat.

 

Harga Jagung SPHP Bantu Peternak

Ketua Koperasi Berkah Telur Blitar, Yesi Yuni Asuti, mengatakan keberadaan jagung SPHP sangat membantu peternak di tengah tingginya harga jagung di pasaran.

Menurut Yesi, harga jagung di luar SPHP terus mengalami kenaikan. Dari sekitar Rp7.000 per kilogram, naik menjadi Rp7.400, hingga mencapai Rp7.800-Rp7.900 per kilogram. Sementara jagung SPHP dapat ditebus peternak melalui Bulog dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram.

Karena itu, Yesi berharap penyaluran jagung SPHP dapat berjalan lebih lancar dan berkelanjutan agar peternak memiliki kepastian pasokan pakan.

“Ke depan kami meminta, memohon semoga penyaluran SPHP itu menjadi lebih lancar supaya kami mendapatkannya dan bisa kami berikan kepada ayam-ayam kami,” ujarnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6