3 Agustus 1914: Jerman Serang Prancis, Awal Mula Perang Dunia I

Deklarasi perang Jerman terhadap Prancis pada 3 Agustus 1914 menyulut Perang Dunia I.

Diterbitkan 03 Agustus 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Berlin - Dua hari setelah menyatakan perang kepada Rusia, Jerman juga menyatakan perang terhadap Prancis, mencatat 3 Agustus 1914 sebagai sejarah dunia. Hal ini terjadi untuk melanjutkan strategi yang telah lama direncanakan oleh mantan Kepala Staf Angkatan Darat Jerman, Alfred von Schlieffen, yaitu untuk perang dua front melawan Prancis dan Rusia.

Dikutip dari History.com. Senin (3/8/2026), sehari sebelumnya, Prancis telah mulai mempersiapkan  pasukannya untuk bergerak ke provinsi Alsace dan Lorraine, wilayah yang diserahkan kepada Jerman dalam perjanjian berakhirnya Perang Prancis-Prusia tahun 1871.

Dengan Jerman yang secara resmi berperang melawan Prancis dan Rusia, konflik yang awalnya berpusat di kawasan Balkan–yang awalnya dipicu oleh pembunuhan Franz Ferdinand dari Austria dan istrinya oleh seorang nasionalis Serbia pada 28 Juni 1914 serta ketegangan yang terjadi antara Austria, Hungaria, Serbia dan Rusia sebagai pendukung kuat Serbia dari kelompok Slavia–telah meletus menjadi perang besar-besaran.

Selain itu di 3 Agustus, gelombang pertama tentara Jerman berkumpul di perbatasan Belgia yang netral. Ini, sesuai dengan Rencana Schlieffen, akan dilintasi oleh pasukan Jerman dalam perjalanannya untuk menyerang Prancis. Sehari sebelumnya, Jerman telah memberikan ultimatum kepada Belgia dan rajanya, King Albert menuntut izin bagi tentara Jerman untuk melintasi wilayahnya.

Ancaman untuk Belgia ini, yang netralitasnya telah ditetapkan melalui perjanjian yang ditandatangani oleh negara-negara adidaya Eropa seperti Inggris, Prancis dan Jerman di tahun 1839, mempererat persatuan pemerintah Inggris yang awalnya terpecah belah dalam menentang agresi Jerman.

Beberapa jam sebelum Jerman menyatakan perang kepada Prancis, Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, Sir Edward Grey, menghadap Parlemen dan berhasil meyakinkan pemerintah dan bangsa Inggris untuk memberikan dukungan terhadap keterlibatan Inggris dalam perang jika Jerman melanggar netralitas Belgia.

“Lampu-lampu di seluruh Eropa mulai padam. Kita tak akan melihatnya menyala lagi selama kita masih hidup,” tutur Grey dalam ucapannya yang terkenal kepada seorang temannya di malam tanggal 3 Agustus. Esok harinya, Inggris memberikan ultimatumnya sendiri ke Berlin: hentikan invasi ke Belgia atau bersiaplah untuk perang dengan Inggris juga. Mereka menuntut jawaban paling lambat tengah malam hari itu.

 

Inggris Terlibat Akibat Tak Dapat Jawaban

Pada siang hari itu, Raja Albert secara tegas meminta bantuan kepada Prancis dan Inggris, sebagai penjamin netralitas Belgia sesuai dengan Perjanjian 1839. Jika melakukannya lebih awal atau terlalu cepat menghubungi Prancis dan Inggris, Belgia akan berisiko melanggar netralitas negaranya sebelum Jerman melakukannya.

Saat London tidak menerima jawaban ultimatumnya–saat itu tentara Jerman yang pertama sudah melintasi perbatasan Belgia di Gemmerich, 40 kilometer dari kota Liege pagi itu–Inggris menyatakan perang terhadap Jerman.

Di Agustus 1914, ketika para negara adidaya Eropa sudah mempersiapkan angkatan darat dan lautnya untuk berperang, tak ada seorangpun yang siap menghadapi pertempuran panjang. Kedua belah pihak mengandalkan konflik singkat dan menentukan yang akan berakhir menguntungkan mereka.

“Kalian akan pulang sebelum daun-daun berguguran dari pohon,” ucap Kaiser Wilhelm untuk meyakinkan pasukan yang berangkat ke medan perang di minggu pertama Agustus 1914.

Meskipun beberapa pemimpin militer seperti Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jerman Helmuth von Moltke dan rekannya dari Prancis, Joseph Joffre, telah memperkirakan konflik yang lebih panjang, mereka tidak merubah strategi perang untuk menghadapi kemungkinan tersebut.

Seorang Menteri Perang baru Inggris yang kontroversial, Lord Horatio Kitchener, memang bertindak berdasarkan keyakinan bahwa perang ini akan berlangsung lama. Sejak awal perang, meskipun menghadapi penolakan yang cukup besar, ia bersikeras angkatan bersenjata Inggris harus diperkuat. 

“Sebuah negara seperti Jerman, setelah memaksakan kehendaknya, hanya akan menyerah setelah dihancurkan habis-habisan. Hal ini akan memakan waktu yang sangat lama. Tak seorang pun yang masih hidup tahu berapa lama,” kata Kitchener.