Tren Avatar AI yang Tampilkan Wajah Mantan Kekasih Picu Perdebatan di China

Kehadiran replika kecerdasan buatan (AI) mulai mengaburkan batasan kesetiaan dalam hubungan.

Diterbitkan 04 Mei 2026, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Sebuah tren penggunaan kecerdasan buatan untuk menciptakan replika digital mantan kekasih tengah berkembang pesat di Tiongkok. Inovasi ini memungkinkan pengguna berinteraksi kembali dengan versi virtual dari sosok masa lalu mereka, namun sekaligus memunculkan perdebatan serius terkait etika, privasi, dan batasan hubungan emosional di era digital.

Teknologi tersebut memanfaatkan data pribadi seperti riwayat percakapan, foto, serta kenangan pengguna yang diunggah ke platform berbasis proyek sumber terbuka bernama Colleague.skill. Sistem kemudian melatih model kecerdasan buatan untuk meniru gaya bicara, karakter, hingga kepribadian mantan pasangan secara realistis.

Awalnya dikembangkan oleh insinyur Zhou Tianyi untuk mendukung kolaborasi kerja, teknologi ini kini berkembang menjadi sarana yang digunakan sebagian orang untuk pemulihan emosional setelah putus hubungan.

Meski dianggap membantu sebagian pengguna dalam mengelola penyesalan atau memahami hubungan masa lalu, kemunculan “mantan digital” ini juga memicu kekhawatiran baru. Sejumlah pihak menilai interaksi dengan replika AI tersebut dapat mengaburkan batas antara pemulihan emosional dan ketergantungan psikologis.

Konsultan pernikahan asal Guangdong, Wanqiu, menilai kerinduan terhadap hubungan lama tidak serta-merta dapat disebut sebagai perselingkuhan emosional. Namun ia mengingatkan bahwa penggunaan yang berlebihan tetap berisiko mengganggu hubungan nyata.

“Itu reaksi emosional yang normal. Selama tidak merusak hubungan saat ini, hal itu tidak bisa disebut perselingkuhan,” ujarnya, seperti dikutip dari South China Morning Post pada Senin (4/5/2026).

Namun demikian, ia juga memperingatkan potensi keterikatan berlebihan terhadap versi digital tersebut yang dapat menghambat seseorang membangun hubungan baru yang sehat di dunia nyata.

Di sisi lain, para kritikus menyoroti risiko pelanggaran privasi, terutama jika data mantan pasangan digunakan tanpa persetujuan. Secara hukum, praktik ini berpotensi melanggar regulasi perlindungan informasi pribadi yang berlaku di Tiongkok.

Selain itu, muncul pula fenomena yang disebut “patah hati siber”, yakni kondisi ketika perubahan atau pembaruan sistem AI membuat pendamping virtual terasa asing bagi penggunanya, sehingga menimbulkan dampak emosional baru.

Para pengamat menilai, meskipun teknologi AI semakin mampu mereplikasi interaksi manusia, aspek fundamental hubungan seperti pertumbuhan emosional dan pengalaman nyata tetap tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh dunia digital.