Israel Perluas Serangan ke Lebanon Timur, Gencatan Senjata Kian Runtuh

Serangan terbaru dari Israel ke Lebanon terjadi di Lembah Bekaa.

Diterbitkan 28 April 2026, 15:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beirut - Militer Israel memperluas operasi militernya ke wilayah timur Lebanon pada Senin (27/4/2026), menandai eskalasi terbaru dalam konflik dengan kelompok bersenjata Hizbullah di tengah gencatan senjata yang dinilai gagal menghentikan pertempuran.

Serangan terbaru terjadi di Lembah Bekaa, yang merupakan pertama kalinya wilayah tersebut menjadi sasaran sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada 16 April. Meski sempat menurunkan intensitas konflik, kesepakatan tersebut tidak sepenuhnya menghentikan baku tembak antara kedua pihak.

Juru bicara militer Israel menyatakan bahwa operasi menargetkan infrastruktur Hizbullah di Bekaa dan wilayah selatan Lebanon. Sumber keamanan menyebut serangan terjadi di sekitar kota Nabi Chit, dekat perbatasan Lebanon-Suriah, tanpa laporan korban jiwa sejauh ini, dikutip dari laman Japan Today, Selasa (28/4).

Sementara itu, kantor berita resmi Lebanon melaporkan serangan terpisah di wilayah selatan yang menyebabkan sedikitnya tiga orang terluka.

Di sisi lain, Hizbullah mengklaim telah menyerang tank Israel di Lebanon selatan menggunakan drone. Militer Israel mengonfirmasi adanya drone yang meledak di dekat pasukannya, namun tidak menimbulkan korban.

Konflik yang meningkat sejak awal Maret itu telah menewaskan lebih dari 2.500 orang di Lebanon. Ketegangan dipicu setelah Hizbullah meluncurkan serangan ke Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran, yang kemudian dibalas dengan operasi militer besar-besaran oleh Israel di wilayah Lebanon.

Situasi ini memperdalam perpecahan politik di dalam negeri Lebanon, terutama terkait peran dan persenjataan Hizbullah serta kemungkinan pembicaraan damai dengan Israel.

 

Upaya Diplomasi

Upaya diplomasi terus berlangsung. Perwakilan Lebanon dan Israel di Amerika Serikat dilaporkan telah menggelar dua pertemuan guna membahas kelanjutan gencatan senjata dan membuka jalan menuju negosiasi langsung.

Namun, Hizbullah menolak keras wacana tersebut. Pemimpin kelompok itu, Naim Qassem, menyebut negosiasi langsung sebagai “konsesi yang memalukan dan tidak perlu”.

“Pembicaraan tersebut tidak mewakili kami dan tidak relevan bagi kami. Kami akan melanjutkan perlawanan defensif kami,” ujarnya dalam pernyataan tertulis.

Sebaliknya, Presiden Lebanon Joseph Aoun membela langkah pemerintah untuk terlibat dalam dialog. Ia menegaskan bahwa negosiasi bukan bentuk pengkhianatan, melainkan upaya melindungi kepentingan nasional.

“Apa yang kami lakukan bukanlah pengkhianatan. Justru pengkhianatan adalah menyeret negara ke dalam perang demi kepentingan eksternal,” kata Aoun, dalam pernyataan yang diduga menyindir peran Hizbullah dalam konflik regional.

Dengan pertempuran yang terus berlanjut dan posisi kedua pihak yang bertolak belakang, prospek perdamaian di kawasan tersebut masih belum menunjukkan titik terang.