Donald Trump Unggah lalu Hapus Gambar AI Dirinya Bergaya Yesus

Seperti apa penjelasan Trump soal penghapusan gambar AI tersebut? Berikut selengkapnya.

Diterbitkan 14 April 2026, 10:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghapus unggahan di media sosialnya setelah menuai kritik karena menampilkan dirinya dalam gambar bergaya religius yang menyerupai sosok Yesus.

Unggahan tersebut berupa gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang dipublikasikan di platform Truth Social miliknya pada Minggu (12/4/2026). Dalam gambar itu, Trump digambarkan mengenakan jubah putih dan merah yang mengalir, sambil meletakkan tangan pada seorang pria yang tampak sakit, menyerupai praktik penyembuhan iman yang umum dikenal di AS.

Gambar tersebut juga menampilkan cahaya di kedua tangan Trump, termasuk pada tangan yang berada di atas kepala pria tersebut. Di latar belakang, terlihat berbagai simbol AS seperti Patung Liberty, bendera AS berukuran besar, kembang api, jet tempur, seseorang yang berdoa dengan tangan terkatup, serta elang botak. Selain itu, tampak pula sosok-sosok menyerupai pejuang melayang di awan di atas kepala Trump.

Unggahan ini memicu reaksi keras di media sosial, termasuk kritik langka dari para pengikut Trump yang religius.

Menanggapi hal tersebut, Trump menghapus unggahan tersebut pada Senin (13/4). Saat ditanya oleh wartawan di Gedung Putih, ia membantah bahwa dirinya berusaha menggambarkan diri sebagai Yesus dan menyalahkan media atas interpretasi tersebut.

"Saya memang mengunggahnya dan saya pikir itu saya sebagai dokter yang melakukan tugas seperti Palang Merah," ujar Trump seperti dikutip dari DW.

"Itu seharusnya saya sebagai dokter yang membuat orang menjadi lebih baik. Dan saya memang membuat orang menjadi lebih baik. Saya membuat banyak orang menjadi jauh lebih baik."

Ia kemudian mengatakan kepada CBS News bahwa ia menghapus gambar tersebut karena ia "tidak ingin ada siapa pun yang menjadi bingung. Orang-orang memang bingung."

Kritik terhadap gambar tersebut muncul dengan cepat, termasuk dari tokoh-tokoh yang dianggap dekat dengan Trump dan pemerintahannya.

"Ini seharusnya segera dihapus," sebut Sean Feucht, seorang aktivis Kristen yang sedang mengerjakan rangkaian acara berbasis keagamaan untuk memperingati 250 tahun Deklarasi Kemerdekaan AS tahun ini.

"Tidak ada konteks di mana ini bisa diterima."

Riley Gaines, seorang aktivis konservatif terkemuka, menulis bahwa "Tuhan tidak boleh dipermainkan."

Sebagian besar kritik juga datang dari media berita berbasis keagamaan di AS.

"Ini sudah keterlaluan. Ini melewati batas," tulis David Brody, seorang jurnalis dari Christian Broadcasting Network. "Seorang pendukung bisa saja mendukung misinya, tetapi tetap menolak hal ini."

 

Dukungan Solid Kaum Evangelikal untuk Trump

Ini bukan pertama kalinya Trump menggunakan citra religius dalam unggahannya. Selama persidangan kasus penipuan bank pada 2023, presiden tersebut mengunggah sebuah sketsa dari seorang pendukung yang memperlihatkan dirinya duduk di samping Yesus di ruang sidang.

Trump sendiri selama ini mendapat dukungan kuat dari komunitas Kristen Evangelikal dan ia secara rutin bertemu dengan para penasihat keagamaan, yang berulang kali menggambarkannya dengan membandingkannya dengan kisah atau tokoh dalam Alkitab.

Komunitas Kristen Evangelikal, terutama kulit putih, merupakan basis dukungan paling setia bagi Trump. Pada pemilu 2016, sekitar 81 persen pemilih dari kelompok ini memilihnya. Pada pemilu terakhir, November 2024, dukungan komunitas Kristen Evangelikal kulit putih terhadap Donald Trump tetap solid dan menjadi salah satu faktor penentu kemenangannya untuk masa jabatan kedua

Hingga Januari 2026, survei Pew Research Center menunjukkan tingkat persetujuan mereka terhadap kinerja Trump masih tetap tinggi di angka 69 persen.

Dalam jamuan makan siang Paskah di Gedung Putih, Paula White-Cain, seorang tokoh Kristen Evangelikal yang dikenal melalui siaran televisi dan menjadi penasihat spiritualnya, membuat salah satu pernyataan tersebut.

"Anda dikhianati, ditangkap, dan dituduh secara salah. Ini adalah pola yang familiar seperti yang dialami oleh Tuhan dan Juruselamat kita," kata White-Cain, merujuk pada kisah Yesus dan mengaitkannya dengan Trump.