Pasukan Israel Pukuli Perempuan Lansia Palestina hingga Tewas

Intensitas kekerasan di Tepi Barat oleh Israel mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan pada awal 2026.

Diterbitkan 08 April 2026, 21:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Ramallah - Seorang perempuan lanjut usia (lansia) asal Palestina berusia 68 tahun dilaporkan tewas setelah mengalami kekerasan yang diduga dilakukan oleh tentara Israel dalam sebuah penggerebekan di rumahnya di kota Jayyous, wilayah Tepi Barat yang diduduki, pada Selasa (7/4/2026).

Korban, Sabriya Shamasneh, berada di dalam rumahnya ketika pasukan Israel memasuki kediamannya secara paksa dalam operasi militer yang berlangsung pada dini hari. Menurut keterangan keluarga, penggerebekan dilakukan dengan cara agresif, disertai penggeledahan dan interogasi terhadap penghuni rumah.

Suami korban, Walid Shamasneh, mengatakan kepada media lokal bahwa sebelum penggerebekan terjadi, menantunya sempat mendatanginya dalam keadaan ketakutan. Ia mengira ada "pencuri" di luar rumah setelah mendengar suara mencurigakan dan melihat gerbang taman depan telah dirusak.

Tidak lama kemudian, pasukan Israel mendobrak pintu depan rumah dan masuk, membuat seluruh keluarga ketakutan.

"Seorang perwira Israel mulai menanyakan nama-nama orang yang tidak saya kenal. Kemudian mereka memaksa kami semua berkumpul di sudut ruangan sementara mereka menggeledah kamar-kamar lainnya," ujar Walid seperti dikutip dari Middle East Eye.

Dalam situasi tersebut, Sabriya sempat mencoba bergerak dan memanggil putranya, Hassan, karena khawatir ia telah ditangkap. Namun, menurut kesaksian keluarga, tentara merespons dengan mendorongnya secara keras menggunakan senapan hingga ia terjatuh.

Benturan keras menyebabkan kepala Sabriya menghantam dinding dan membuatnya tidak sadarkan diri. Walid mengaku panik dan berteriak meminta bantuan kepada para tentara, namun permintaannya diabaikan.

Setelah pasukan meninggalkan rumah, suami dan anak korban segera membawanya ke Darwish Nazzal Governmental Hospital di Kota Qalqilya. Keluarga menyebut ambulans tidak dapat mencapai lokasi karena banyaknya kendaraan militer Israel yang menghalangi akses.

Di rumah sakit, Sabriya dinyatakan meninggal dunia akibat luka yang dideritanya selama penggerebekan. Kejadian tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga setempat.

Saat ini, keluarga masih menunggu kedatangan putri Sabriya dari Yordania sebelum melaksanakan pemakaman, sementara masyarakat kota turut berduka atas peristiwa tersebut.

 

Kekerasan Kian Intensif

Dalam penggerebekan yang sama di Jayyous, seorang pemuda juga dilaporkan mengalami kekerasan oleh tentara dan menderita luka memar serta patah tulang.

Warga Palestina menyebut dalam beberapa waktu terakhir terjadi peningkatan intensitas penggerebekan di berbagai kota dan desa, disertai tindakan yang dinilai semakin agresif selama proses penggeledahan rumah, termasuk kekerasan terhadap penduduk.

Operasi diiringi dengan kampanye penangkapan besar-besaran oleh pasukan Israel di Qalqilya dalam beberapa pekan terakhir, yang menargetkan puluhan warga Palestina, termasuk perempuan.

Sehari sebelumnya, di Kota Qalqilya, sejumlah kerabat warga Palestina yang sebelumnya tewas oleh pasukan Israel—termasuk para ibu mereka—ditangkap dalam tindakan yang dinilai banyak pihak sebagai bentuk intimidasi, bahkan setelah kematian anggota keluarga mereka.

Bulan lalu, militer Israel juga menahan 15 perempuan dari kota tersebut dan desa-desa sekitarnya, termasuk istri tahanan dan aktivis. Sebagian besar telah dibebaskan, namun satu orang masih ditahan tanpa proses pengadilan.

Selain itu, pada November, seorang perempuan lanjut usia lainnya, Haniya Hanoun, dilaporkan meninggal dunia setelah tentara Israel menggerebek rumahnya di Desa al-Mazraa al-Gharbiya, di utara Ramallah. Ia mengalami pemukulan berat di hadapan keluarganya, sementara cucunya ditangkap dalam kejadian tersebut.  Â