1.216 Kebakaran Terjadi di Jakarta hingga Agustus 2026

Jakarta Barat menjadi wilayah dengan kebakaran terbanyak, sementara listrik menjadi dugaan penyebab dalam 649 kejadian.

Diterbitkan 23 September 2026, 23:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • DKI Jakarta mencatat 1.216 kejadian kebakaran dari Januari hingga Agustus 2026.
  • Jakarta Barat menjadi wilayah dengan kasus kebakaran terbanyak, diikuti lonjakan Juli-Agustus.
  • Bangunan perumahan objek terbanyak, dengan listrik sebagai dugaan penyebab utama.

Liputan6.com, Jakarta - Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta mencatat 1.216 kejadian kebakaran di Jakarta sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Dari lima wilayah administrasi, Jakarta Barat menjadi daerah dengan kejadian kebakaran terbanyak, yakni 368 kasus atau 30,26 persen.

“Untuk kejadian kebakaran berdasarkan wilayah, Jakarta Barat sebanyak 368 kejadian, Jakarta Timur 299 kejadian, Jakarta Selatan 252 kejadian, Jakarta Utara 163 kejadian, dan Jakarta Pusat 134 kejadian,” kata Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta Bayu Meghantara dalam keterangannya, Rabu (23/9/2026).

Bayu menyebut jumlah kebakaran mengalami peningkatan pada pertengahan hingga akhir periode pencatatan. Setelah mencapai 141 kejadian pada Juni, jumlah kasus melonjak menjadi 217 kejadian pada Juli dan kembali naik menjadi 240 kejadian pada Agustus.

“Kalau berdasarkan kejadian per bulan, Januari ada 129 kejadian, Februari 93, Maret 126, April 132, Mei 138, Juni 141, Juli 217, dan Agustus 240 kejadian,” kata Bayu.

Jumlah kebakaran pada Agustus menjadi yang tertinggi sepanjang 2026. Sebanyak 457 kejadian tercatat hanya dalam dua bulan, yakni Juli dan Agustus, atau sekitar 37,6 persen dari total kejadian selama delapan bulan.

 

Bangunan Perumahan Terbanyak Terbakar

Dari sisi objek yang terbakar, bangunan perumahan menjadi objek dengan kejadian terbanyak, yakni 358 kasus atau 29,44 persen. Disusul bangunan umum dan perdagangan sebanyak 230 kasus, instalasi listrik luar gedung 194 kasus, serta sampah 174 kasus.

“Kalau berdasarkan objek yang terbakar, bangunan perumahan 358 kejadian, bangunan umum dan perdagangan 230, instalasi listrik luar gedung 194, sampah 174, kendaraan 76, tumbuhan 62, lainnya 62, lapak 35, dan bangunan industri 25 kejadian,” jelas Bayu.

Sementara itu, berdasarkan dugaan penyebab, listrik menjadi faktor yang paling banyak, yakni 649 kejadian atau 53,37 persen.

“Untuk dugaan penyebab, listrik sebanyak 649 kejadian, membakar sampah 171, gas 103, lainnya 100, kelalaian manusia 88, penyalaan sendiri 48, rokok 46, dan penyalaan kembali 11 kejadian,” ujar Bayu.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6