Iran Tutup Sementara Wilayah Udaranya di Tengah Ketegangan dengan AS

Sejauh ini tidak ada penjelasan dari Iran di balik keputusan menutup wilayah udaranya.

Diterbitkan 15 Januari 2026, 09:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Iran menutup sementara wilayah udaranya untuk seluruh penerbangan mulai pukul 01.45 dini hari waktu setempat Iran (Iran Standard Time/IRST) pada Kamis (15/1/2026). Penutupan ini berlaku untuk semua penerbangan, kecuali penerbangan internasional yang masuk dan keluar Iran dengan izin resmi.

Informasi tersebut disampaikan melalui sebuah pemberitahuan yang dipublikasikan di situs web otoritas penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA), seperti dikutip dari laporan CNA.

Dalam pemberitahuan itu disebutkan bahwa larangan terbang dijadwalkan berlangsung hingga pukul 04.00 dini hari waktu setempat atau sekitar dua jam lebih. Namun demikian, FAA menegaskan bahwa masa penutupan wilayah udara Iran tersebut masih dapat diperpanjang, tergantung pada perkembangan situasi keamanan.

Pada Rabu (14/1), seorang pejabat AS mengatakan bahwa AS mulai menarik sebagian personelnya dari pangkalan militer di Timur Tengah. Langkah ini dilakukan setelah seorang pejabat senior Iran memperingatkan negara-negara tetangga bahwa Iran akan menyerang pangkalan AS jika AS melancarkan serangan. 

Eskalasi ketegangan antara AS dan Iran kembali terjadi menyusul intervensi AS dalam aksi demonstrasi di Iran, yang dipicu oleh krisis ekonomi negara itu.

Di lain sisi, serangan rudal dan drone yang semakin banyak terjadi di zona konflik dinilai menimbulkan risiko tinggi terhadap keselamatan penerbangan sipil. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap operasional maskapai penerbangan internasional yang melintasi kawasan tersebut.

Maskapai terbesar India, IndiGo, menyatakan bahwa sejumlah penerbangan internasionalnya terdampak oleh penutupan mendadak wilayah udara Iran. Sementara itu, berdasarkan data pelacakan dari Flightradar24, sebuah penerbangan milik maskapai Rusia, Aeroflot, yang sedang menuju Teheran terpaksa kembali ke Moskow setelah kebijakan penutupan wilayah udara tersebut diberlakukan.

Sebelumnya pada hari yang sama, pemerintah Jerman mengeluarkan arahan baru yang memperingatkan maskapai-maskapai negaranya agar tidak memasuki wilayah udara Iran. Arahan tersebut dikeluarkan tidak lama setelah Lufthansa menyesuaikan kembali operasi penerbangannya di kawasan Timur Tengah menyusul meningkatnya ketegangan regional.

 

Dampak Ketegangan terhadap Penerbangan

AS sendiri telah melarang seluruh penerbangan komersialnya untuk melintasi wilayah udara Iran dan hingga kini tidak terdapat penerbangan langsung antara kedua negara.

Sejumlah maskapai lain, termasuk flydubai dan Turkish Airlines, telah membatalkan beberapa penerbangan menuju Iran dalam sepekan terakhir.

"Beberapa maskapai telah mengurangi atau menghentikan layanan mereka, dan sebagian besar operator penerbangan menghindari wilayah udara Iran," ujar Safe Airspace, sebuah situs yang dikelola oleh OPSGROUP, organisasi berbasis keanggotaan yang menyediakan informasi risiko penerbangan.

Menurut mereka, situasi ini dapat mengindikasikan meningkatnya aktivitas keamanan atau militer, termasuk risiko peluncuran rudal atau penguatan pertahanan udara, yang dapat meningkatkan kemungkinan salah identifikasi terhadap pesawat sipil.

Lufthansa menyatakan pada Rabu bahwa pihaknya akan menghindari wilayah udara Iran dan Irak hingga pemberitahuan lebih lanjut. Maskapai tersebut juga hanya akan mengoperasikan penerbangan siang hari ke Tel Aviv dan Amman mulai Rabu hingga Senin (19/1), guna menghindari keharusan kru menginap. Lufthansa menambahkan bahwa sejumlah penerbangan kemungkinan akan dibatalkan sebagai dampak dari kebijakan tersebut.

Maskapai Italia, ITA Airways, yang kini saham mayoritasnya dimiliki oleh Lufthansa Group, menyampaikan bahwa pihaknya akan menangguhkan penerbangan malam hari ke Tel Aviv hingga Selasa (20/1).