China Minta Warganya Tak Bepergian ke Jepang, Ini Alasannya

Pernyataan terbaru dari PM Jepang Sanae Takaichi yang membuat China merilis imbauan tersebut.

Diterbitkan 15 November 2025, 12:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - China mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya dan memanggil Duta Besar Jepang di Beijing, menyusul pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang menyebut Jepang dapat mengerahkan Pasukan Bela Diri jika China menyerang Taiwan. Pernyataan itu memicu perang kata-kata yang terus membesar sepanjang pekan.

Ketegangan ini memuncak setelah Sanae Takaichi, dalam sidang parlemen pekan lalu, menyatakan bahwa penggunaan kekuatan atau kehadiran kapal perang China di sekitar Taiwan dapat dikategorikan sebagai “situasi yang mengancam kelangsungan hidup” Jepang — status hukum yang memungkinkan Tokyo mengerahkan pasukan militernya.

Komentar tersebut langsung dikecam Beijing sebagai “mengerikan”. Ketegangan makin meningkat ketika Xue Jian, Konsul Jenderal China di Osaka, menulis komentar bernada ancaman yang ditafsirkan sebagai ajakan untuk “memenggal kepala” Takaichi. Unggahan itu kemudian dihapus, tetapi dampaknya terlanjur meluas.

Jepang dan China saling melayangkan protes diplomatik, sementara Takaichi menolak mencabut komentarnya dan menyebutnya sejalan dengan posisi Jepang selama ini, dikutip dari laman BBC, Sabtu (15/11/2025).

Beijing menanggapi lebih keras lagi dengan memposting peringatan kepada Jepang untuk “berhenti bermain api”, bahkan menyebut potensi keterlibatan Jepang di Selat Taiwan sebagai “tindakan agresi”.

Di sisi Jepang, pemerintah menegaskan bahwa kebijakannya terkait Taiwan tidak berubah dan tetap mendorong penyelesaian damai melalui dialog. Tokyo juga mendesak Beijing mengambil tindakan terhadap komentar Xue Jian.

Situasi memanas itu dilengkapi aksi China yang pada Jumat malam menyarankan warganya agar menghindari perjalanan ke Jepang dalam waktu dekat, dengan alasan meningkatnya “pernyataan provokatif” Tokyo soal Taiwan.

 

Latar Ketegangan yang Panjang

Pertikaian terbaru ini menyinggung kembali sejarah panjang permusuhan antara Jepang dan China — dari konflik berabad-abad lalu hingga pendudukan brutal Jepang pada era Perang Dunia II. Beban sejarah itu terus membayangi hubungan kedua negara.

Kenaikan Takaichi yang dikenal konservatif dan dekat dengan almarhum Shinzo Abe turut memicu kekhawatiran Beijing. Kebijakannya yang pro-AS dan dorongan meningkatkan belanja pertahanan Jepang dipandang sebagai sinyal bahwa ketegangan antara Tokyo dan Beijing berpotensi meningkat.

Dengan dua kekuatan besar Asia yang saling berbalas ancaman, dinamika keamanan di kawasan tampaknya memasuki babak baru yang lebih sensitif — terutama terkait masa depan Taiwan.