Demo Gen Z Tewaskan 1 Orang dan Lukai 100 Lainnya, Presiden Peru Tolak Mundur

Sosok Presiden Jeri dipandang kontroversial. Mengapa? Simak penjelasannya berikut ini.

Diterbitkan 17 Oktober 2025, 09:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Lima - Presiden baru Peru Jose Jeri menolak mengundurkan diri pada Kamis (16/10/2025), setelah kematian seorang pengunjuk rasa dalam demo Gen Z yang menuntutnya mundur.

Sekitar 100 orang juga terluka, termasuk 80 petugas polisi dan 10 jurnalis, menurut pihak berwenang yang mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki penembakan yang menewaskan pengunjuk rasa tersebut.

"Tanggung jawab saya adalah menjaga stabilitas negara; itulah tanggung jawab dan komitmen saya," kata Jeri kepada pers lokal seperti dilansir Associated Press setelah mengunjungi Parlemen Peru, di mana dia mengatakan akan meminta kewenangan untuk memerangi kejahatan.

Demo Gen Z dimulai sebulan lalu dengan tuntutan perbaikan sistem pensiun dan kenaikan upah bagi kaum muda, lalu berkembang menjadi bentuk kekecewaan rakyat Peru yang lelah dengan kejahatan, korupsi, serta puluhan tahun ketidakpercayaan terhadap pemerintah mereka. 

Setelah Jeri—presiden ketujuh dalam waktu kurang dari satu dekade—dilantik pada 10 Oktober, para pengunjuk rasa menyerukan agar dia dan anggota parlemen lainnya mengundurkan diri.

Protes Berubah Menjadi Kekerasan

Kejaksaan Peru mengumumkan pada Kamis bahwa mereka sedang menyelidiki kematian Eduardo Ruiz, seorang pengunjuk rasa berusia 32 tahun yang juga seorang penyanyi hip-hop. Menurut jaksa, dia ditembak dengan senjata api selama demonstrasi besar yang diikuti ribuan anak muda.

Dalam pernyataannya di platform media sosial X, kejaksaan menyebut telah memerintahkan pemindahan jenazah Ruiz dari rumah sakit di Lima dan mengambil bukti audiovisual serta balistik di lokasi kejadian, sebagai bagian dari penyelidikan atas dugaan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia. 

Media lokal dan kamera keamanan menayangkan rekaman Ruiz yang tampak roboh di jalan di Lima setelah seorang pria yang melarikan diri dari sekelompok pengunjuk rasa melepaskan tembakan. Saksi mata mengatakan pria bersenjata itu melarikan diri karena dituduh sebagai polisi berpakaian preman yang menyusup di antara demonstran.

Kantor Ombudsman Peru menyebutkan bahwa setidaknya 24 pengunjuk rasa dan 80 petugas polisi terluka dalam demonstrasi. Sementara itu, Asosiasi Jurnalis Nasional mengungkapkan bahwa enam jurnalis terkena peluru karet dan empat lainnya diserang oleh polisi.

Presiden menyatakan penyesalan atas kematian pengunjuk rasa.

Presiden Baru yang Kontroversial

Protes di Peru terjadi di tengah gelombang demonstrasi yang melanda berbagai negara di dunia, didorong oleh ketidakpuasan generasi muda terhadap pemerintah dan kemarahan kaum muda. Aksi-aksi protes juga terjadi di Nepal, Filipina, Indonesia, Kenya, Peru, dan Maroko, dengan para pengunjuk rasa kerap membawa bendera hitam bergambar simbol anime "One Piece" — tengkorak bajak laut yang mengenakan topi jerami.

Di alun-alun utama Lima, seorang teknisi listrik berusia 27 tahun bernama David Tafur mengatakan dia memutuskan untuk bergabung dalam demonstrasi setelah mengetahui kabar tersebut via TikTok.

"Kami berjuang demi hal yang sama — melawan para koruptor — yang di sini juga adalah para pembunuh," katanya, merujuk pada protes berdarah tahun 2022 dan tindakan keras pemerintah yang menewaskan 50 orang.

Ketegangan yang meningkat terjadi hanya beberapa hari setelah Kongres Peru menyingkirkan Presiden Dina Boluarte, yang dikenal sebagai salah satu presiden paling tidak populer di dunia karena menekan protes dan gagal mengendalikan kejahatan.

Jeri, presiden Kongres berusia 38 tahun, kemudian mengambil alih jabatan tersebut dengan janji untuk menekan gelombang kejahatan yang baru-baru ini meningkat. Dia melantik Ernesto Alvarez, seorang mantan hakim ultrakonservatif yang aktif di media sosial, sebagai perdana menteri.

Alvarez belum berkomentar tentang situasi ini, namun sebelumnya dia pernah menyebut bahwa Gen Z di Peru adalah gerombolan yang ingin merebut demokrasi dengan paksa dan tidak mewakili anak muda yang belajar dan bekerja.

Kritik terhadap Jerí dan pemerintahannya segera muncul karena ida pernah menghadapi penyelidikan setelah dituduh memperkosa seorang perempuan. Kantor kejaksaan menutup kasus tersebut pada Agustus, meskipun pihak berwenang masih menyelidiki pria lain yang bersama Jeri pada hari dugaan pemerkosaan itu terjadi. Para pengunjuk rasa juga mengecam Jeri karena, sebagai anggota legislatif, dia pernah memberikan suara mendukung enam undang-undang yang menurut para ahli justru melemahkan upaya pemberantasan kejahatan.

Para demonstran menuntut agar Jeri dan para anggota parlemen lainnya mengundurkan diri dan mencabut undang-undang yang mereka anggap menguntungkan kelompok kriminal.

Selama demonstrasi, lebih dari 20 perempuan meneriakkan "Pemerkosa adalah Jeri" atau "Jeri adalah biola" — ungkapan slang di Peru di mana kata "biola" berarti pemerkosa. Para pengunjuk rasa menyalakan kembang api ke arah polisi, yang membalas dengan gas air mata dan peluru karet.

Kemarahan yang Memuncak

Kemarahan dipicu oleh puluhan tahun frustrasi rakyat Peru, yang telah menyaksikan para pemimpin mereka berulang kali tersandung skandal korupsi, menimbulkan rasa sinisme dan kekecewaan mendalam di kalangan generasi muda.

"Setelah isu pensiun, berbagai kekecewaan lain ikut muncul — mulai dari persoalan keamanan, lemahnya kinerja negara, hingga maraknya korupsi," ujar Omar Coronel, profesor sosiologi di Universitas Katolik Pontifikal Peru yang meneliti gerakan sosial.

Adegan kekerasan dalam protes mengingatkan kembali pada demonstrasi berdarah di bulan-bulan awal pemerintahan Boluarte, ketika 50 pengunjuk rasa tewas.

Di tengah kerumunan, para demonstran mengangkat spanduk bertuliskan "Berdemonstrasi adalah hak, membunuh adalah kejahatan". Seorang perempuan bahkan membawa poster dengan tulisan tajam: "Dari pembunuh ke pemerkosa, kotoran yang sama", menuding pergantian pemerintahan tak membawa perubahan.

"Bagi saya, ini adalah bentuk kemarahan atas penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, dan pembunuhan," kata Tafur, salah seorang pengunjuk rasa. Â