Liputan6.com, Kabul - Penguasa Taliban Afghanistan menyerukan bantuan internasional setelah gempa menewaskan lebih dari seribu orang dan meratakan sejumlah desa. Tragedi ini semakin menambah penderitaan di negara yang telah lama dilanda perang, kekurangan pangan, dan pemangkasan bantuan asing.
Menurut laporan Masyarakat Bulan Sabit Merah Afghanistan pada Selasa (2/9/2025), sedikitnya 1.124 orang tewas dan 3.251 lainnya terluka akibat gempa magnitudo 6,0 yang mengguncang kawasan perbatasan dengan Pakistan pada Minggu (31/8) malam pukul 23.47 waktu setempat. Getaran kuat bahkan terasa hingga Kabul, disusul sejumlah gempa susulan.
Upaya penyelamatan di daerah pegunungan yang paling parah terdampak berjalan lambat. Hujan lebat, tanah longsor, serta jalan-jalan yang rusak membuat tim bantuan kesulitan menjangkau lokasi.
Advertisement
Kondisi ini diperburuk oleh berkurangnya bantuan internasional. Sejak Taliban mengambil alih kekuasaan pada 2021, banyak negara menghentikan dukungan mereka, di tengah kekhawatiran terhadap aturan represif rezim tersebut.
Baru-baru ini, pemangkasan bantuan dari Amerika Serikat (AS) semakin mempersempit ruang gerak operasi kemanusiaan, sementara 43 juta penduduk Afghanistan harus hidup di bawah tekanan krisis berlapis.
Berikut adalah fakta terbaru mengenai gempa dan operasi penyelamatan di Afghanistan seperti dilansir CNN.
Pusat Gempa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5334709/original/014961000_1756730766-2.jpg)
Pusat gempa terletak sekitar 27 kilometer di timur laut Jalalabad, sebuah kota berpenduduk 200.000 jiwa di Provinsi Nangarhar, dekat perbatasan Pakistan. Menurut Survei Geologi AS (USGS), kawasan pegunungan ini memang dikenal rawan aktivitas seismik.
USGS melaporkan, gempa tergolong dangkal dengan kedalaman sekitar 8 kilometer. Gempa dangkal biasanya menimbulkan kerusakan lebih parah dibanding gempa dalam.
Dampak terberat dirasakan di Provinsi Kunar, di mana tiga desa rata dengan tanah, menurut otoritas lokal yang dikutip Reuters. Laporan kerusakan dan korban juga datang dari Provinsi Laghman, Nuristan, dan Panjshir, sebagaimana disampaikan pemerintah Taliban dan pekerja kemanusiaan.
Getaran gempa bahkan terasa hingga ke sejumlah kota di Pakistan, kata Departemen Meteorologi Pakistan dalam pernyataan resminya. Tidak lama setelah gempa utama, wilayah itu kembali diguncang sedikitnya lima kali gempa susulan, dengan yang terkuat bermagnitudo 5,2.
Ini menjadi gempa besar ketiga yang menghantam Afghanistan sejak 2021. Negara itu terus bergulat dengan rentetan bencana alam maupun krisis buatan manusia—mulai dari kemiskinan, konflik, kekeringan, hingga pemulangan paksa jutaan pengungsi oleh Pakistan dan Iran. Sebelumnya, gempa besar pada 2022 dan 2023 telah menewaskan lebih dari 3.000 orang di Provinsi Paktika dan Herat.
Advertisement
Guncangan Terasa hingga Ibu Kota
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5334711/original/099273700_1756730769-7.jpg)
Menurut USGS, hampir setengah juta orang kemungkinan merasakan guncangan kuat hingga sangat kuat, yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar pada bangunan yang dibangun secara sederhana.
Yousaf Hammad, juru bicara Otoritas Manajemen Bencana Nasional Afghanistan, memperingatkan bahwa jumlah korban tewas maupun terluka kemungkinan masih akan bertambah.
"Para korban luka sedang dievakuasi, jadi angka-angka ini bisa berubah secara signifikan," ujarnya kepada AP.
Foto-foto dari lokasi kejadian memperlihatkan deretan rumah bata tersapu lumpur, sementara warga memanjat tumpukan beton yang runtuh. Banyak saksi mata bercerita bagaimana mereka meraba-raba mencari anggota keluarga yang terjebak di bawah reruntuhan, menunggu berjam-jam sebelum petugas darurat berhasil mencapai wilayah yang paling terdampak.
"Saya setengah terkubur dan tidak bisa keluar," kata Sadiqullah, warga Nurgal di Provinsi Kunar, kepada AP.
Dia menambahkan, istri dan dua putranya tewas.
Dari Kabul, sekitar 160,93 km dari pusat gempa, seorang warga bernama Ahmad Zameer (41) menceritakan kepada CNN bahwa guncangan membuat semua penghuni apartemen berlarian ke jalan karena takut terjebak di dalam gedung.
Video yang diperoleh CNN menunjukkan warga di Kunar menggali dengan sekop untuk mencari penyintas di bawah reruntuhan. Rekaman lain memperlihatkan suasana kacau ketika petugas berusaha mengevakuasi korban luka dengan tandu sebelum diterbangkan dengan helikopter ke rumah sakit.
Pemangkasan Bantuan Menghambat Upaya Penyelamatan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5334708/original/057867200_1756730764-6.jpg)
Negara yang dilanda perang itu tengah berada dalam krisis kemanusiaan yang semakin parah sejak Taliban merebut kekuasaan pada 2021 setelah penarikan pasukan AS.
Banyak kelompok bantuan internasional, yang berhati-hati bekerja sama dengan rezim represif yang dikenal karena penganiayaan terhadap perempuan dan anak perempuan, sejak itu meninggalkan negara tersebut.
Awal tahun ini, Gedung Putih menghentikan lebih dari USD 1,7 miliar kontrak bantuan AS yang mendukung puluhan program di Afghanistan. Inggris, Prancis, dan Jerman segera mengikuti langkah tersebut.
Menurut Reuters, bantuan kemanusiaan ke Afghanistan menyusut menjadi USD 767 juta pada 2025, turun dari USD 3,8 miliar pada 2022
Thamindri De Silva, Direktur Nasional World Vision Afghanistan, mengatakan banyaknya tantangan yang dihadapi negara itu membuat organisasi kemanusiaan sulit membantu rakyat Afghanistan.
"Ini bukan guncangan pertama yang kami hadapi tahun ini. Kami sedang mengalami kekeringan. Kami mendukung respons untuk para pengungsi yang kembali. Kami masih bekerja dengan orang-orang yang terdampak gempa di Herat. Ada krisis malnutrisi besar di negara ini," kata De Silva kepada CNN.
"Jadi, ini bukan hanya soal kekurangan dana, tapi akumulasi guncangan demi guncangan di negara ini, yang membuat sumber daya yang sudah sangat tipis makin terbebani."
Kantong jenazah adalah salah satu kebutuhan terbesar dalam hal pasokan, kata dia, selain kebutuhan pokok seperti pakaian, produk kebersihan, dan peralatan memasak.
Advertisement
Taliban Menyerukan Bantuan Internasional
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5334713/original/076907400_1756730773-4.jpg)
Taliban sendiri telah mengajukan permohonan kepada dunia untuk mengirimkan lebih banyak bantuan. Namun sejauh ini, respons internasional masih terbatas.
"Kami membutuhkannya karena di sini banyak orang kehilangan nyawa dan rumah," ujar juru bicara Kementerian Kesehatan Sharafat Zaman kepada Reuters.
Sebagai bentuk respons, Inggris mengumumkan dana darurat baru senilai 1 juta poundsterling pada Selasa. Dana tersebut akan disalurkan melalui UN Population Fund dan Palang Merah Internasional.
"Inggris tetap berterima kasih kepada para pekerja bantuan di lapangan, yang membantu kami memberikan dukungan kepada rakyat Afghanistan yang paling rentan," kata Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan pihaknya siap memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan Afghanistan dan dalam kapasitasnya.
India juga telah mengirimkan 1.000 tenda keluarga ke Kabul dan 15 metrik ton bantuan pangan ke Provinsi Kunar. Menteri Luar Negeri Subrahmanyam Jaishankar mengatakan bahwa lebih banyak bantuan akan menyusul.
Dari Washington, Biro Urusan Asia Selatan dan Tengah Kementerian Luar Negeri AS menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada rakyat Afghanistan melalui unggahan di X. Namun hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai bantuan langsung dari AS.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5411187/original/066520500_1763004762-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-13T103028.882.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4461201/original/062506100_1686446588-cek_fakta_timnas_argentina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5566966/original/026954400_1777262107-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-27T105347.703.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111045/original/054516000_1783054306-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-03T114409.776.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5334707/original/077163800_1756730762-9.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409523/original/014973200_1479454255-China.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411698/original/040353100_1479708120-Inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309678/original/024525200_1782176074-AP26174009363435-Prancis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5370720/original/047083500_1759567179-Piala_Dunia_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258039/original/088971800_1781299445-AP26163759108481-Kanada.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262481/original/011971700_1781803398-Croatia_s_Luka_Modric.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9238165/original/069215800_1783129384-mes9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264340/original/096862300_1782107767-salah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9243416/original/040076400_1783136603-063_2284562735.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5248356/original/073589100_1749606013-AP25162020726631.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9235541/original/012266500_1783127691-063_2284556932.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9233776/original/041944300_1783126285-000_B98N9AV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261569/original/090643200_1781746025-ghana_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260058/original/067995400_1781541268-belanda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9044346/original/035374700_1783013468-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8511937/original/048297600_1782434870-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8926621/original/017378400_1782957917-gempa_jayapura.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8451107/original/036314100_1782347531-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8480782/original/096159500_1782392590-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8769101/original/055174700_1782831715-Gempa_BMKG.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8453238/original/073560000_1782350375-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458998/original/041303900_1782358121-Untitled.jpg)