Sukses

Kanselir Jerman Kembali Gemetaran untuk Ketiga Kalinya, Gangguan Kesehatan?

Liputan6.com, Berlin - Kanselir Jerman Angela Merkel bersikeras mengklaim dirinya dalam kondisi sehat meski dirinya kembali terlihat gemetaran untuk ketiga kalinya dalam beberapa pekan terakhir.

Merkel terlihat gemetaran saat penghormatan militer untuk menyambut kunjungan Perdana Menteri Finlandia Antti Rinne, di halaman depan Gedung Kanselir Jerman pada Rabu 10 Juli 2019 pagi waktu setempat.

Kali ini, gemetaran yang dialami Merkel dilaporkan tidak seintens dua kejadian serupa sebelumnya, dan goncangannya berhenti tatkala ia menggerakkan tubuh, demikian sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Kamis (11/7/2019).

"Saya baik-baik saja dan Anda tidak perlu khawatir," katanya dalam konferensi pers setelah pertemuan, menambahkan bahwa ia sedang melalui fase psikologis "memproses" episode gemetar pertamanya bulan lalu.

Insiden gemetaran Merkel telah memicu spekulasi tentang kondisi kesehatannya. Pada 18 Juni, dia terlihat tanpa sadar mengguncangkan penghargaan militer untuk presiden Ukraina yang berkunjung kala itu, Volodymyr Zelenskiy.

Dia kemudian menuduh dehidrasi sebagai penyebabnya, namun mengaku merasa lebih baik setelah minum air.

Sekitar sepekan setelahnya, Merkel kembali terlihat gemetaran ketika melakukan pertemuan dengan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier, di Istana Bellevue di Berlin.

Mengutip sumber-sumber di kalangan pemerintah, surat kabar Stuttgarter Nachrichten mengatakan pada saat itu, bahwa gemetaran Merkel dipicu oleh insiden serupa sebelumnya, di mana ia menyebutnya sebagai "proses psikologis".

Dia juga pernah terlihat gemetaran selama upacara militer dalam kondisi cuaca lembab di Mexico City, dalam kunjungannya pada 2017 lalu.

 

2 dari 3 halaman

Reputasi Etika Kerja dan Stamina

Sejak menjabat sebagai kanselir Jerman pada tahun 2005, Angela Merkel kerap membanggakan etika kerja dan stamina yang ia klaim mampu "melakukan negosiasi hingga tengah malam".

Klaimnya tersebut memang benar adanya, dan dikenal luas oleh para pemimpin dunia lainnya, Bahkan, Merkel sesumbar memiliki kapasitas "seperti unta" untuk menahan kantuk.

Sebagian sebagai akibat dari reputasi ini, tiga insiden gemetaran yang terekam kamera televisi telah memicu spekulasi tentang apakah padatanya jadwal mulai berdampak buruk.

Meski sempat dianggap angin lalu dalam pemberitaan pertama kalinya, insiden gemetaran yang dialami Merkel kini justru menjadi bahan perdebatan oleh para ahli medis, yang berspekulasi tentang penyebabnya.

Sementara itu, pejabat Partai Hijau Jerman Annalena Baerbock menduga serangkaian insiden gemetaran yang dialami Merke, bisa jadi terkait dengan krisis iklim. Dia mengatakan dalam sebuah konferensi pers, bahwa "suhu panas memicu konsekuensi kesehatan terhadap masyarakat luas", termasuk pada sang kanselir.

Namun, komentar itu dikritik karana dianggap tidak pada tempatnya, dan Baerbock pun telah meminta maaf secara terbuka.

3 dari 3 halaman

Sulit Mengetahui Penyebab Gemetaran Merkel

Menurut Peter Roberts, profesor farmakologi emeritus di University of Bristol, hanya sedikit informasi yang dinyatakan oleh Angela Merkel, sehingga sulit untuk mengetahui apa yang mungkin menjadi penyebabnya.

"Efek awal yang disebabkan oleh dehidrasi, diikuti oleh kecemasan bahwa itu mungkin terjadi lagi, bahkan mungkin menjadi penyebabnya. Respon stres adalah mekanisme bertahan hidup yang dasar, dan muncul segera setelah ancaman dirasakan, termasuk ketakutan bahwa sesuatu akan terjadi," ujar Roberts berusaha mengaitkan dengan rumusan psikologi.

Dengan tidak adanya patologi yang mendasarinya, Roberts mengatakan gemetaran yang tidak terkendali bisa menjadi hasil dari respons stres yang normal.

"Masalahnya adalah bahwa tubuh kita berperilaku seperti ini sebagai respons terhadap ancaman nyata dan yang ditakuti. Memang, ketakutan bahwa tubuh seseorang akan mulai berperilaku dengan cara yang tampaknya tidak normal, dapat memicu gemeteran," lanjutnya menjelaskan.

Loading
Artikel Selanjutnya
Jerman Tolak Permintaan AS untuk Terlibat Perang Lawan ISIS di Suriah
Artikel Selanjutnya
Facebook Didenda Rp 31 Juta Gara-Gara Ujaran Kebencian di Jerman