Sukses

Satu-satunya 'Teman Sejati' yang Muncul Saat Mati

Liputan6.com, Singapura - Meski kematian adalah topik yang tak nyaman dibahas, orang berharap pada saat-saat terakhirnya bisa dikelilingi oleh orang-orang yang paling dicintainya, baik kerabat maupun sahabat.

Di Singapura, seorang bujangan lanjut usia meninggal dunia seorang diri. Tidak ada yang menangisi kepergiannya. Tapi, untunglah seorang warga terketuk hatinya untuk setidaknya memberi penghormatan terakhir.

Dikutip dari Asia One pada Jumat (22/4/2016), seorang direktur pemakaman dan pemilik rumah duka Seng Xiang Services memberikan layanan dukaan selayaknya kepada Hong (74) yang meninggal dalam kesendiriannya tersebut.

Bersama-sama dengan putranya yang sedang libur, pada Sabtu lalu Tommy Yu (51) melakukan layanan kedukaan itu secara pro bono atau tanpa memungut biaya.

Yu sama sekali tidak mengenal Hong, namun ia memperlakukan almarhum seakan sebagai salah satu anggota keluarga.

Tommy Yu (51) sedang menunggu jenazah Hong di Mandai Crematorium. (Sumber Asia One)

Yu menyematkan karangan bunga di atas peti mati Hong, sembari membisikkan agar mendiang tak khawatir dan bisa pergi dalam damai.

Yu, yang sudah menikah dan memiliki 3 orang anak, ternyata mudah tersentuh hatinya menghadapi kaum lanjut usia yang miskin dan tanpa dukungan keluarga.

Sekitar 30 tahun lalu, ia membentuk suatu kelompok masyarakat bernama Love and Unity Volunteers Establishment (Luve) guna merawat kaum lanjut usia terpencil dan berkebutuhan di kawasan Bukit Merah.

Jelaslah bahwa layanan sukarela yang diberikannya tidak terbatas di Bukit Merah.

Petugas rumah sakit atau panti jompo mengabari Tommy Yu sekiranya ada kaum lanjut usia yang meninggal dunia tanpa sanak saudara yang diketahui.(Sumber Asia One)

Pekerja sosial di rumah sakit dan panti jompo mengabarkan Yu tentang kaum lanjut usia yang meninggal tanpa sanak saudara.

Segera sesudah menerima berita, ia menjemput dan membawa mendiang kepada petugas pemandi jenazah. Ia kemudian memakaikan pakaian layak dan menaruh  jenazah itu dalam peti mati.

Pakaian yang dikenakan pada jenazah biasanya berasal dari sanak saudara.”

“Walaupun pemakaman dilakukan secara sukarela, saya memiliki standar saya sendiri. Untuk setiap pemakaman yang saya lakukan, jasadnya harus berpakaian dan bersepatu. Kita tidak ingin jenazahnya tanpa pakaian, bukan?”

Untuk keperluan Hong, Yu pergi ke suatu toko setempat dan membelikan kaos polo, celana Bermuda berwarna coklat, dan sandal hitam.

Tommy Yu (51) bahkan membelikan pakaian untuk seorang lanjut usia yang meninggal dunia tanpa diketahui sanak saudaranya. (Sumber Asia One)

Satu lagi standar yang ia junjung adalah mobil duka berjendela kaca, diiringi lantunan musik selagi peti mati menuju ruang kremasi.

“Orang lain bisa melakukannya secara lebih murah, tapi membawa jenazah itu dalam bak terbuka atau van. Walaupun mendiang tidak memiliki sanak saudara, saya tidak bisa memperlakukannya secara sembarangan. Setiap orang layak pergi secara terhormat.”

Yu mengira-ngira ia melakukan sekitar 20 hingga 30 pemakaman pro bono setiap tahunnya. Setiap kasus memerlukan biaya sekitar 1.300 dolar Singapura  atau Rp 12,7 juta untuk membayar pengangkutan, peti mati, dan ongkos pemandian jenazah.

“Kalau hanya ada 2 atau 3 setahun, tentu tidak masalah, saya bisa menanggung biayanya sendiri. Ada kesulitan keuangan ketika melakukan lebih dari 20 layanan kedukaan setiap tahun karena tiap pemakaman perlu uang,” kata dia.