Indonesian Airlines Meminta Maaf

Presdir Indonesian Airlines (IA) Rudy Setyopurnomo minta maaf kepada seluruh calon jemaah haji yang menggunakan maskapai tersebut. IA berniat memperbaiki diri.

Diterbitkan 27 Januari 2003, 14:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Pelayanan untuk jemaah haji ONH Plus tahun ini boleh dibilang sangat mengecewakan. Dibilang begitu lantaran Indonesian Airlines (IA), satu di antara maskapai penerbangan yang dipercaya mengangkut calon jemaah haji ONH Plus bermasalah. Saat mengangkut rombongan pertama, 22 Januari silam, pesawat IA tak diizinkan mendarat di Jeddah, Arab Saudi. Ini membuat jadwal pemberangkatan calon jemaah haji terganggu. Belakangan, IA akhirnya menyewa pesawat Garuda Indonesia untuk mengangkut sisa jemaah haji ONH Plus. "Saya minta maaf," kata Rudy Setyopurnomo, Presiden Direktur IA, saat berdialog dengan reporter SCTV Ira Koesno dalam Liputan 6, Senin (27/1) siang.

Menurut Rudy, kasus tersebut terjadi lantaran pihaknya telat mengurus administrasi pendaratan pesawat di Arab Saudi. Dengan kata lain, ada perubahan kebijakan dari pemerintah Arab Saudi menyangkut bank garansi. "Staf kami di sana (Arab Saudi) mengatakan bahwa perhitungan berubah. Ini terjadi begitu saja," kata Rudy, mengelak.

Rudy juga menjelaskan, permasalahan itu tak bisa diselesaikan dengan cepat. Soalnya, ketika hendak diurus, bank di Arab Saudi tutup. Untungnya, kini persoalan bank garansi sudah selesai. Menurut dia, IA yang sesuai kesepakatan semula hanya membayar 300 ribu real, menyusul perubahan bank garansi, kini menyetor 1 juta real. Dengan begitu, pesawat IA boleh mendarat di Jeddah [baca: Calon Haji ONH Plus Sudah Bisa Berangkat].

Persoalan yang mendera IA dalam kasus Haji ONH Plus 2003 ini memang sudah selesai menyusul kepastian diberangkatkannya semua calon jemaah. Tapi, sekitar 1.100 calon jemaah haji sudah menyatakan mengundurkan diri. Mereka kesal karena IA tak mampu menepati janjinya memberangkatkan sesuai jadwal yang disepakati. Bahkan, 13 travel penyelenggara ONH Plus akan menggugat IA ke pengadilan. Itulah sebabnya, Rudy minta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat pengguna pesawat terbang IA. Menurut Rudy, namanya bisnis, wajar kiranya bila naik-turun. Kadang di atas, kadang di bawah. Karena itu, kasus tersebut justru akan membuat awak IA memperbaiki diri dan memberikan yang terbaik buat konsumen. "(Sejauh ini), saya yakin servis saya yang terbaik, kata Rudy, yakin.

Dalam bisnis penerbangan di Tanah Air, IA memang sebuah nama baru. IA berdiri baru sekitar sepuluh bulan silam. Yang menarik, dalam usia sedini itu dan hanya memiliki dua armada, IA sudah dipercaya buat mengangkut jemaah haji. Padahal, ada maskapai lain yang juga sejak bertahun-tahun mengajukan permintaan serupa kepada pemerintah Arab Saudi tapi selalu ditolak, seperti yang dialami Merpati Airlines.

Dugaan ini, lagi-lagi, dibantah Rudy. "Indonesian Airlines memang baru. Tapi saya dan kawan-kawan sudah puluhan tahun di Garuda. Ini pekerjaan kami sehari-hari," ujar Rudy. Dia juga mengatakan, pada awalnya pihak Arab Saudi berniat meminjam satu pesawat IA. Niat tersebut, menurut Rudy tak mungkin ditolak. Yang ada, tambahnya, IA cuma perlu negosiasi harga. Kemudian, pemerintah Arab Saudi mengizinkan IA untuk mengangkut minimum 5.000 jemaah haji. "Mereka juga bilang Merpati minta [fasilitas serupa], tapi tidak dikasih. Saya tanya kenapa, mereka bilang tidak tahu. Menurut mereka, pekerjaan saya bagus sekali," kata Rudy.(SID)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6