Penyandang Disabilitas Netra Andalkan Memori Auditif untuk Hafal Teks Arab

Barzanji adalah lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, peneliti sebut penyandang disabilitas bisa hafal tanpa lihat teks Arab.

Diterbitkan 07 Juli 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penyandang disabilitas netra mampu melantunkan dan menghafal Barzanji hanya melalui pendengaran tanpa melihat tulisan Arab.

Barzanji adalah doa-doa dan pujian bagi Nabi Muhammad SAW yang dikemas dalam buku kecil dan biasanya dilantunkan dengan irama.

Menurut Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PR KKP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hamsiati, mengatakan bahwa kemampuan penyandang disabilitas netra menghafal dan melantunkan Barzanji melalui pendengaran, pengulangan lisan, dan memori auditif menunjukkan bahwa resepsi terhadap teks Arab dapat berlangsung tanpa keterlibatan visual. Temuan ini memperluas kajian Living Arabic Literature sekaligus memberikan perspektif baru dalam memahami pengalaman keagamaan penyandang disabilitas di Indonesia.

Hamsiati menjelaskan, selama ini penelitian mengenai Barzanji lebih banyak menyoroti aspek ritual, sejarah teks, dan tradisi Maulid di masyarakat Muslim. Sementara itu, pengalaman personal penyandang disabilitas dalam berinteraksi dengan teks Arab masih relatif jarang mendapat perhatian.

"Penelitian ini bertujuan menjelaskan proses hafalan Barzanji pada seorang tunanetra, bagaimana ia memaknai teks yang dihafalnya, serta manfaat spiritual, psikologis, dan sosial yang diperoleh melalui keterlibatannya dalam tradisi pembacaan Barzanji," ujar Hamsiati mengutip laman BRIN, Senin (6/7/2026).

Cara Disabilitas Netra Hafal Barzanji

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain intrinsic case study. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap Abdul Hamid, seorang penyandang disabilitas netra penghafal Barzanji di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Informasi juga diperoleh dari anggota keluarga, tokoh agama, dan masyarakat yang mengenal serta menyaksikan keterlibatan Abdul Hamid dalam berbagai kegiatan pembacaan Barzanji.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menghafal Barzanji dibangun melalui pendengaran, repetisi lisan, dan pengalaman performatif dalam majelis Barzanji. Kemampuan tersebut berkembang sejak masa kanak-kanak melalui kebiasaan mengikuti pembacaan Barzanji di lingkungan sekitarnya, kemudian semakin kuat melalui rutinitas mendengarkan rekaman dan mengulang bacaan secara berkelanjutan.

Menurut Hamsiati, hubungan informan dengan teks tidak dibangun melalui visualisasi tulisan, melainkan melalui suara, ritme, dan memori auditif yang terus diasah dalam praktik keagamaan sehari-hari.

Penelitian ini juga menemukan bahwa pemaknaan terhadap Barzanji tidak selalu bertumpu pada pemahaman literal atas seluruh isi teks. Meskipun tidak memahami arti setiap kata, informan mampu mengenali tema-tema utama dalam setiap bagian Barzanji, terutama yang berkaitan dengan kisah dan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.

"Pemaknaan terhadap Barzanji berkembang dalam bentuk pengalaman afektif spiritual yang menghadirkan ketenangan batin serta kedekatan emosional dengan Nabi Muhammad," kata Hamsiati.

Manfaat Psikologis dan Sosial

Selain memberikan pengalaman spiritual, keterlibatan dalam tradisi pembacaan Barzanji juga menghadirkan manfaat psikologis dan sosial. Informan mengaku lebih percaya diri, sementara kemampuannya melantunkan Barzanji mendorong penerimaan dan pengakuan yang lebih luas dari masyarakat.

Berdasarkan keterangan tokoh agama dan masyarakat setempat, Abdul Hamid kerap dilibatkan dalam berbagai kegiatan pembacaan Barzanji dan sering diundang untuk berpartisipasi dalam beragam acara keagamaan di kampungnya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa resepsi terhadap sastra Arab dapat berlangsung secara embodied dan nonvisual. Pengalaman berinteraksi dengan teks tidak hanya melibatkan aspek kognitif, tetapi juga suara, emosi, memori, serta praktik sosial yang terus hidup dalam keseharian.

Hamsiati menilai hasil penelitian ini memperluas kajian Living Arabic Literature sekaligus memperkaya studi Disability and Religion dalam konteks masyarakat Muslim Indonesia. Menurutnya, penelitian lanjutan dengan melibatkan lebih banyak informan dari latar sosial dan tradisi keagamaan yang beragam diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai resepsi nonvisual terhadap teks-teks Arab di kalangan penyandang disabilitas Muslim.