Apa Itu Ableisme? Kenali Bentuk dan Dampaknya bagi Penyandang Disabilitas

Sebagian masyarakat termasuk kreator konten kerap menjadikan kondisi disabilitas sebagai candaan yang mengarah pada ableisme.

Diterbitkan 09 Juni 2026, 13:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa waktu terakhir, ramai di media sosial seorang kreator konten berpura-pura memiliki disabilitas dalam video yang diunggahnya. Perilaku yang dilakukan kreator konten tersebut oleh netizen lain sebagai ableism

Apa itu ableism atau ableisme?

Menurut pendiri yayasan disabilitas Lingkar Sosial (Linksos), Ken Kerta, ableisme adalah sikap, pandangan, atau praktik yang menempatkan penyandang disabilitas dalam posisi yang lebih rendah, dianggap tidak setara, atau menjadi objek perlakuan diskriminatif. 

Ableisme tidak selalu muncul dalam bentuk diskriminasi terbuka, tetapi dapat hadir melalui candaan, bahasa, gambaran media, maupun konten digital yang memperkuat stereotip terhadap difabel.

Dalam konteks media sosial, ableisme dapat terjadi ketika karakteristik tertentu yang berkaitan dengan disabilitas—seperti cara bergerak, ekspresi wajah, cara berkomunikasi, atau perilaku tertentu—digunakan sebagai bahan hiburan tanpa memahami dampaknya bagi kelompok yang direpresentasikan.

Menormalisasi candaan yang mengarah pada ableisme dapat berdampak pada:

  1. Meningkatnya prasangka terhadap penyandang disabilitas
  2. Memperkuat jarak sosial antara difabel dan masyarakat umum
  3. Membuat penyandang disabilitas merasa tidak aman atau tidak dihargai di ruang publik maupun ruang digital
  4. Menghambat upaya mewujudkan lingkungan yang inklusif.

“Ruang digital memiliki pengaruh besar dalam membangun budaya masyarakat. Karena itu, setiap kreator memiliki peran penting dalam memastikan konten yang dibuat tidak memperkuat diskriminasi,” kata Ken mengutip keterangan yang disampaikan Ken kepada Liputan6.com ditulis pada Selasa (9/6/2026).

Penyandang Disabilitas Punya Martabat

Stigma terhadap difabel masih menjadi tantangan dalam kehidupan sosial. Ketika representasi disabilitas digunakan sebagai bahan candaan, hal tersebut berpotensi memperkuat anggapan keliru bahwa kondisi disabilitas adalah sesuatu yang lucu, aneh, atau layak dijadikan tontonan.

“Padahal, penyandang disabilitas adalah individu yang memiliki martabat, kemampuan, hak, serta kesempatan yang sama untuk berpartisipasi di masyarakat,” ujar Ken.

Maka dari itu, Ken mengajak para kreator konten, pengguna media sosial, dan masyarakat luas untuk bersama-sama membangun budaya digital yang lebih ramah terhadap keberagaman.

Kreativitas tetap dapat berkembang tanpa menjadikan kelompok tertentu sebagai objek olok-olok. Kreator dapat menghadirkan humor, hiburan, dan tren digital tanpa mereproduksi stigma terhadap kelompok rentan

“LINKSOS juga mendorong para kreator untuk meningkatkan pemahaman tentang representasi disabilitas, melibatkan perspektif difabel dalam pembuatan konten, serta menjadikan media sosial sebagai ruang edukasi, kolaborasi, dan perubahan sosial,” ujarnya.

“Difabel bukan bahan candaan. Difabel adalah bagian dari masyarakat yang memiliki hak untuk dihormati, didengar, dan dilibatkan,” imbuhnya.