Melihat Pola Historis Bitcoin di Kuartal IV, Benarkah Selalu Naik?

Data historis menunjukkan kuartal IV menjadi periode terbaik Bitcoin, tetapi empat dari 13 tahun terakhir justru mencatat penurunan.

Diterbitkan 05 November 2026, 06:12 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kuartal IV atau periode Oktober-Desember secara historis menjadi kuartal dengan rata-rata imbal hasil tertinggi bagi Bitcoin. Data pergerakan harga BTC pada 2013-2025 menunjukkan rata-rata kenaikan sekitar 172 persen.

Namun, angka tersebut dipengaruhi lonjakan ekstrem pada 2013 dan 2017. Jika menggunakan median, kenaikannya lebih moderat, yakni sekitar 47 persen.

Dari 13 tahun pengamatan, mengutip CoinMarketCap, Kamis (5/11/2026), Bitcoin mencatat kenaikan pada sembilan kuartal IV atau sekitar 69 persen. Sementara itu, empat periode lainnya berakhir di zona negatif.

Kinerja Bitcoin pada kuartal IV 2013-2025:

  • 2013: naik 1.750 persen
  • 2014: turun 43 persen
  • 2015: naik 17 persen
  • 2016: naik 58 persen
  • 2017: naik 217 persen
  • 2018: turun 44 persen
  • 2019: turun 18 persen
  • 2020: naik 168 persen
  • 2021: naik 7 persen
  • 2022: turun 15 persen
  • 2023: naik 56 persen
  • 2024: naik 47 persen
  • 2025: turun 22 persen

November secara historis menjadi bulan dengan kinerja terkuat. Berdasarkan data historis Phemex, rata-rata kenaikan Bitcoin pada November mencapai 46 persen selama 2013-2025. Oktober mencatat rata-rata kenaikan 20 persen, sedangkan Desember sekitar 8 persen.

 

Mengapa Kuartal IV Kerap Jadi Periode Positif?

Ada sejumlah faktor yang dinilai mendukung kinerja Bitcoin menjelang akhir tahun. Salah satunya adalah penyesuaian alokasi investasi oleh pengelola aset. Manajer investasi yang tertinggal dari tolok ukur kinerja hingga kuartal III terkadang meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko pada kuartal IV.

Selain itu, siklus halving Bitcoin juga kerap menjadi perhatian. Kenaikan harga paling kuat secara historis cenderung terjadi 12-18 bulan setelah halving. Namun, pola ini tidak selalu berjalan sesuai perkiraan. Halving April 2024 seharusnya menempatkan periode kenaikan potensial pada kuartal IV 2025 hingga pertengahan 2026. Kenyataannya, Bitcoin justru melemah 22 persen pada kuartal IV 2025.

Perhatian media dan investor ritel juga dapat memperkuat kenaikan harga. Penguatan pada Oktober berpotensi menarik minat pembeli yang berlanjut hingga November.

Meski demikian, sejarah mencatat sejumlah pengecualian. Pada 2014, Bitcoin turun 43 persen setelah runtuhnya Mt. Gox. Pada 2018, harga terkoreksi 44 persen akibat berakhirnya gelembung ICO dan perang hash Bitcoin Cash.

Pada 2022, keruntuhan FTX turut menekan Bitcoin hingga turun 15 persen. Sementara pada 2025, tekanan suku bunga dan aksi ambil untung membuat BTC terkoreksi 22 persen.

 

Bagaimana Prospek Bitcoin Kuartal IV 2026?

Artikel sumber menyoroti sejumlah kondisi yang membedakan kuartal IV 2026 dari periode sebelumnya. Salah satunya adalah pemulihan setelah koreksi pada kuartal IV 2025. Dalam beberapa siklus sebelumnya, kuartal IV yang negatif pernah diikuti kinerja lebih kuat pada tahun berikutnya. Namun, pola ini hanya terjadi dalam jumlah pengamatan terbatas.

Faktor lainnya adalah kehadiran ETF Bitcoin spot sejak Januari 2024. Produk tersebut menciptakan basis pembeli institusional yang lebih berkelanjutan dibandingkan siklus sebelumnya.

Selain itu, hingga Oktober 2026, artikel sumber menyebut belum terlihat ancaman struktural besar seperti keruntuhan bursa atau kegagalan protokol yang pernah menekan pasar pada periode negatif sebelumnya. Meski begitu, kondisi tersebut bukan jaminan harga akan naik.

 

Cara membaca pola historis Bitcoin

Pola kuartal IV sebaiknya dipandang sebagai salah satu bahan pertimbangan, bukan sinyal otomatis untuk membeli Bitcoin. Sebab, 31 persen periode pengamatan justru berakhir dengan penurunan.

Bagi investor yang menerapkan strategi dollar-cost averaging (DCA), pola musiman ini tidak harus mengubah jadwal pembelian rutin. Sementara investor yang ingin masuk sekaligus perlu mempertimbangkan risiko koreksi dan menentukan ukuran investasi secara cermat.

Bagi pemegang ETF Bitcoin, arus dana masuk dan keluar ETF dapat menjadi indikator untuk memantau minat investor institusional. Arus dana keluar bersih yang berlangsung terus-menerus pada Oktober dapat menjadi sinyal bahwa pola kenaikan musiman belum terbentuk pada 2026.