Bitcoin Terpuruk, Oktober 2026 Jadi Bulan Suram Kripto?

Oktober diprediksi positif untuk pergerakan harga bitcoin (BTC). Namun, koreksi bitcoin pada 30 Oktober 2026 menimbulkan kekhawatiran.

Diterbitkan 01 November 2026, 18:02 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Oktober menjadi bulan yang suram bagi kripto kapitalisasi pasar terbesar yakni bitcoin (BTC) menyusul kerugian tahun lalu. Sementara itu, reputasi Oktober sebagai Uptober atau Oktober yang naik didasarkan pada rekor historis yang kuat.

Namun, pada 30 Oktober 2026 setelah Binance mengungkan ada insiden keamanan, bitcoin menyentuh US$ 77.646 atau Rp 1,4 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadpa rupiah di kisaran 18.130). Sementara itu, harga ether merosot ke US$ 2.238,76 dan binance coin (BNB) diperdagangkan pada harga US$ 694, merosot lebih dari 8% dalam kurun waktu 24 jam.

Mengutip Crypto.news, Minggu (1/11/2026), penurunan harga kripto ini terjadi bersamaan dengan aksi jual besar-besaran di wall street. Hal ini seiring kekhawatiran mengenai pengeluaran untuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menekan saham sektor teknologi. Hingga penutupan perdagangan Jumat, indeks Nasdaq merosot 2,9% dan berada 7,8% di bawah rekor penutupan tertinggi pada 6 Oktober 2026.

Data CoinGlass menunjukkan Bitcoin mencatatkan kenaikan dalam 10 dari 13 bulan Oktober antara 2013 dan 2025, dengan imbal hasil median sebesar 14,6%. Oktober 2025 memutus tren positif tersebut dengan penurunan sebesar 3,95%.

Dengan demikian, jika pada Oktober ditutup di zona negatif, Bitcoin akan mencatatkan penurunan selama dua bulan Oktober berturut-turut. Perdagangan mata uang kripto terus berlangsung sepanjang akhir pekan, sehingga imbal hasil akhir bulan ini belum dapat dipastikan, berbeda dengan bursa saham AS yang telah menyelesaikan perdagangan Oktober pada Jumat.

 

 

Aksi Jual di Berbagai Aset

Sebelumnya pada Oktober ini, para analis sempat mempertanyakan apakah faktor kalender benar-benar dapat mendorong reli harga kembali.

Dalam ulasannya mengenai potensi reli Oktober, crypto.news mengutip analis riset senior Nansen, Jake Kennis, yang memperingatkan agar tidak menganggap kinerja musiman sebagai sinyal yang dapat diandalkan untuk menentukan titik terendah harga.

"Pada akhirnya, likuiditas, posisi pasar, kondisi makro, dan permintaan dasar merupakan penggerak yang jauh lebih penting daripada tanggal tertentu," ujar Kennis.

Penilaian tersebut disampaikan pada 7 Oktober, saat Bitcoin turun ke bawah US$ 84.000 setelah sempat mencapai US$$ 87.197 pada Jumat sebelumnya.

Saham dan emas mengalami penurunan, sementara harga minyak naik hingga di atas US$ 117. Aksi jual meluas ke berbagai aset yang biasanya dipegang oleh investor untuk tujuan yang berbeda-beda. Reuters melaporkan harga emas spot turun 3,63% menjadi US$ 3.874,58 per ons, sementara perak merosot 6,36% menjadi US$ 49,06.

Harga minyak bergerak ke arah sebaliknya. Menurut laporan yang sama, minyak mentah Brent ditutup pada harga US$ 117,63 per barel, naik 2,4% pada hari tersebut.

Penurunan yang terjadi secara bersamaan ini memicu kekhawatiran di media sosial. Dalam sebuah unggahan yang dibagikan pada Sabtu pagi, seorang komentator bernama Bark menulis, semua aset di dunia anjlok pada saat yang bersamaan.

Ia seraya mengaitkan aksi jual tersebut dengan manipulasi, meskipun tanpa menyertakan bukti pendukung.

 

Permintaan di Kripto Melemah

Data pasar menunjukkan gambaran yang tidak seragam. Harga minyak mentah menguat, sementara harga logam mulia dan saham sektor teknologi justru melemah.

Di sektor kripto, permintaan memang sudah melemah bahkan sebelum kerugian yang dipicu oleh peristiwa terkait Binance pada Jumat.

Temuan dari CryptoQuant yang dibahas dalam konteks lemahnya permintaan di Amerika Serikat menunjukkan Coinbase Premium Index tetap berada di zona negatif sepanjang Oktober, bahkan mencapai angka minus 0,146 pada 24 Oktober.

Indikator ini membandingkan harga di Coinbase dengan harga di bursa luar negeri (offshore). Model permintaan yang disusun oleh CryptoQuant menunjukkan adanya kekurangan pasokan sekitar 76.000 BTC selama periode 30 hari hingga 25 Oktober.

Kepala Riset Julio Moreno menyatakan, Bull Score Index milik perusahaan tersebut telah turun dari 90 menjadi 60, meskipun enam dari sepuluh indikator yang digunakan masih menunjukkan sentimen bullish (optimistis).

Prediksi Bitcoin telah mencapai titik terendah tetap bertahan di tengah penurunan terbaru.

Beberapa peneliti berpendapat titik terendah dalam siklus Bitcoin sudah terlewati, terlepas dari kinerja yang mengecewakan sepanjang Oktober.

Dalam catatan riset September, 10x Research menyatakan telah mengambil sikap bullish saat Bitcoin diperdagangkan di harga US$ 63.000 pada 18 Agustus. Perusahaan tersebut menyebutkan analisis mereka pada awal Agustus telah mengidentifikasi level harga tersebut sebagai kunci untuk mengonfirmasi pemulihan pasar.

 

Pandangan Bullish terhadap Bitcoin

Kepala Riset Galaxy, Alex Thorn, juga menyampaikan pandangan bullish dalam penilaian tertanggal 26 Oktober, dengan argumen pasar bearish (lesu) telah berakhir sejak Juni.

Analisisnya menyebutkan Bitcoin berhasil mempertahankan posisi di atas rata-rata pergerakan 200 minggu (200-week moving average) dan kembali menempati posisi di atas rata-rata pergerakan 50 minggu selama lima minggu berturut-turut hingga 18 Oktober.

Pembelian dana investasi di AS memberikan sudut pandang lain yang berlawanan dengan perkiraan melemahnya permintaan pasar spot. Data dari SoSoValue mencatat aliran masuk sebesar US$ 176 juta ke dalam ETF Bitcoin spot pada 27 Oktober, yang mencakup US$ 151,5 juta untuk IBIT milik BlackRock dan US$ 24,5 juta untuk FBTC milik Fidelity.

Pada periode yang sama, ETF Ether spot di AS mencatat penarikan dana sebesar US$ 60,2 juta, menurut data yang tercantum dalam laporan mengenai arus dana selama Oktober.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.