Liputan6.com, Jakarta - Kesuksesan tidak selalu terhambat oleh kurangnya kemampuan atau kesempatan. Dalam beberapa situasi, kebiasaan menghambat kesuksesan sendiri justru muncul dari cara seseorang menghadapi ketakutan, keraguan, dan kemungkinan kegagalan. Tanpa disadari, seseorang bisa menciptakan berbagai hambatan yang membuat kemajuannya sendiri menjadi lebih lambat.
Dalam psikologi, perilaku tersebut dikenal sebagai self-handicapping, yaitu kecenderungan seseorang menciptakan atau mengklaim adanya hambatan sebelum menghadapi situasi yang menentukan kemampuannya. Tujuannya adalah melindungi harga diri apabila hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan.
Sekilas, kebiasaan ini mungkin terasa seperti cara untuk menghindari tekanan. Namun, jika terus dilakukan, seseorang justru berisiko kehilangan kesempatan untuk berkembang. Berikut delapan kebiasaan yang sebaiknya mulai ditinggalkan, dirangkum Liputan6.com, Kamis (5/11/2026).
Advertisement
1. Sengaja Menunda Pekerjaan karena Takut Menghadapi Kegagalan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4845604/original/2700_1716902848-sad-female-workaholic-keeps-hands-chin-busy-making-project-work-studies-papers-wears-elegant-white-shirt-sits-desktop-unknown-people-stretch-hands-with-notes-alarm-clock-smartphone.jpg)
Menunda pekerjaan sering dianggap sebagai persoalan manajemen waktu. Padahal, dalam kondisi tertentu, kebiasaan ini juga berkaitan dengan ketakutan menghadapi kegagalan. Seseorang yang mendapatkan tugas penting mungkin sebenarnya memiliki kemampuan untuk menyelesaikannya. Namun, karena khawatir hasilnya tidak memuaskan, ia justru menunda pekerjaan hingga mendekati tenggat waktu. Akibatnya, waktu persiapan menjadi semakin terbatas dan hasil pekerjaan berisiko tidak maksimal.
Dalam kajian psikologi, perilaku tersebut dapat menjadi salah satu bentuk behavioral self-handicapping. Seseorang secara tidak langsung menciptakan hambatan bagi dirinya sendiri sehingga kegagalan nantinya dapat dijelaskan melalui alasan kurangnya waktu, bukan kemampuan.
Penelitian yang dibahas dalam artikel Education for Persistence and Innovation Center (EPIC) dari Teachers College, Columbia University, menunjukkan bahwa academic self-handicapping berkaitan dengan perilaku yang berpotensi merugikan keberhasilan akademik. Salah satunya adalah mengurangi usaha ketika menghadapi tugas yang dianggap mengancam penilaian terhadap kemampuan diri.
Kebiasaan menunda pekerjaan perlu diubah dengan membagi tugas besar menjadi beberapa bagian kecil. Memulai lebih awal juga memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan tanpa harus bekerja di bawah tekanan waktu.
2. Terlalu Sering Mencari Alasan atas Kesalahan Sendiri
Setiap orang tentu pernah mengalami kegagalan. Namun, cara seseorang menyikapinya dapat menentukan apakah pengalaman tersebut menjadi pelajaran atau justru penghambat perkembangan. Salah satu kebiasaan yang perlu dihindari adalah terlalu sering mencari alasan untuk menjelaskan hasil yang buruk. Misalnya, seseorang tidak berhasil menyelesaikan pekerjaan karena merasa suasana kantor kurang mendukung, rekan kerja tidak kooperatif, atau waktunya terlalu singkat.
Alasan tersebut mungkin memang memiliki dasar. Akan tetapi, persoalan muncul ketika seseorang terus menggunakannya untuk menghindari evaluasi terhadap keputusan dan tindakannya sendiri.
Dalam kajian self-handicapping yang diperkenalkan Edward E. Jones dan Steven Berglas pada 1978, perilaku menciptakan atau mengklaim hambatan dapat digunakan untuk mengalihkan penyebab kegagalan dari kemampuan pribadi ke faktor eksternal. Strategi ini memang dapat memberikan perlindungan sementara terhadap harga diri. Sayangnya, seseorang menjadi lebih sulit mengenali bagian yang sebenarnya perlu diperbaiki.
Agar tidak terjebak dalam kebiasaan tersebut, cobalah membedakan faktor yang berada di luar kendali dan hal-hal yang sebenarnya bisa diperbaiki. Mengakui kesalahan bukan berarti merendahkan kemampuan diri, melainkan memberikan kesempatan untuk belajar dari pengalaman.
3. Sengaja Tidak Mempersiapkan Diri sebelum Menghadapi Tantangan
Tidak mempersiapkan diri dengan baik sebelum menghadapi tantangan merupakan kebiasaan lain yang dapat menghambat perkembangan. Contohnya, seseorang mendapatkan kesempatan mengikuti wawancara kerja, tetapi tidak mempelajari profil perusahaan maupun posisi yang dilamar. Ada pula orang yang memperoleh kesempatan presentasi penting, tetapi sengaja tidak berlatih karena merasa belum tentu berhasil.
Menariknya, sebagian orang melakukan hal tersebut bukan semata-mata karena malas. Mereka mungkin takut mengetahui batas kemampuan sebenarnya. Dengan tidak mempersiapkan diri, kegagalan nantinya bisa dikaitkan dengan kurangnya persiapan, bukan ketidakmampuan.
Dalam artikel EPIC Teachers College, Columbia University, yang membahas self-handicapping, dijelaskan bahwa perilaku ini berkaitan dengan keyakinan terhadap kemampuan diri, ketakutan akan kegagalan, dan orientasi terhadap pencapaian. Jika terus dipertahankan, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan menunjukkan potensi terbaiknya.
Mulailah membangun kebiasaan persiapan sederhana. Pelajari informasi yang dibutuhkan, buat rencana, dan luangkan waktu untuk berlatih. Tidak semua hasil bisa dikendalikan, tetapi kualitas persiapan merupakan bagian yang bisa diusahakan.
Advertisement
4. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5227871/original/002379100_1747824523-steptodown.com805171.jpg)
Melihat pencapaian orang lain sebenarnya dapat menjadi sumber inspirasi. Namun, kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan justru dapat menghambat perkembangan. Seseorang mungkin merasa tertinggal ketika melihat teman sebaya mendapatkan pekerjaan bagus, memiliki usaha yang berkembang, atau mencapai target tertentu. Perasaan tersebut kemudian membuatnya meragukan kemampuan sendiri.
Alih-alih menggunakan pencapaian orang lain sebagai motivasi, ia justru menganggap kesuksesan tersebut sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik. Kondisi ini dapat berkaitan dengan orientasi pencapaian yang terlalu berfokus pada penilaian eksternal. Kajian Török dan Szabó dalam jurnal Československá psychologie tahun 2018 menjelaskan bahwa orientasi pada tujuan performa, terutama keinginan untuk terlihat lebih kompeten daripada orang lain, dapat meningkatkan kecenderungan self-handicapping.
Ketika seseorang terlalu sibuk membuktikan dirinya lebih baik, kegagalan bisa terasa sebagai ancaman terhadap harga diri. Akibatnya, ia mungkin memilih menghindari tantangan daripada mengambil risiko untuk belajar.
Untuk mengatasinya, gunakan pencapaian orang lain sebagai referensi, bukan standar mutlak. Setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, dan proses perkembangan yang berbeda. Lebih baik mengukur kemajuan berdasarkan kemampuan dan pencapaian pribadi dari waktu ke waktu.
5. Menetapkan Target Tidak Realistis hingga Mudah Menyerah
Memiliki ambisi besar memang dapat mendorong seseorang untuk berkembang. Namun, menetapkan target yang terlalu tinggi tanpa mempertimbangkan kemampuan, waktu, dan sumber daya justru berpotensi menjadi penghambat. Misalnya, seseorang yang baru mulai berolahraga menetapkan target latihan berat setiap hari. Ketika tidak mampu mempertahankannya, ia merasa gagal dan akhirnya berhenti sama sekali.
Hal serupa dapat terjadi dalam pekerjaan maupun pengembangan karier. Seseorang ingin menguasai banyak keterampilan dalam waktu singkat, mendapatkan hasil besar dalam beberapa minggu, atau menyelesaikan berbagai proyek sekaligus.
Dalam kajian Török dan Szabó, penetapan tujuan yang tidak realistis juga dibahas sebagai salah satu bentuk perilaku yang dapat berkaitan dengan self-handicapping. Target yang terlalu sulit dicapai dapat menyediakan alasan untuk menjelaskan kegagalan sebelum seseorang benar-benar menguji kemampuannya. Kebiasaan ini juga dapat berhubungan dengan perfeksionisme maladaptif, yaitu kecenderungan menetapkan standar yang terlalu tinggi karena merasa harus memenuhi harapan tertentu.
Solusinya bukan menghilangkan ambisi, melainkan membuat target yang bertahap dan terukur. Pecah tujuan besar menjadi beberapa pencapaian kecil agar proses perkembangan lebih mudah dievaluasi.
6. Terus Mengatakan Tidak Punya Waktu atau Sedang Tidak dalam Kondisi Terbaik
Kalimat seperti tidak punya waktu, sedang lelah, atau belum berada dalam suasana hati yang tepat terkadang memang menggambarkan kondisi sebenarnya. Namun, jika terus digunakan untuk menghindari tanggung jawab, kebiasaan ini dapat menghambat kemajuan.
Dalam konsep self-handicapping, perilaku tersebut dapat termasuk claimed self-handicapping, yaitu ketika seseorang menyatakan adanya hambatan yang dapat menjelaskan kemungkinan buruknya hasil pekerjaan.
Sebagai contoh, seseorang hendak mengikuti ujian atau presentasi. Sebelum kegiatan dimulai, ia sudah berulang kali mengatakan bahwa dirinya sedang tidak fokus, kurang tidur, atau mengalami kecemasan berlebihan.
Pernyataan tersebut dapat membuat orang lain memahami apabila hasil yang diperoleh tidak maksimal. Namun, jika menjadi kebiasaan, seseorang bisa semakin terbiasa mengandalkan alasan daripada mencari cara untuk mengatasi kendala.
Perlu dipahami bahwa tidak semua keluhan tentang kelelahan atau keterbatasan waktu merupakan bentuk self-handicapping. Ada kalanya seseorang memang membutuhkan istirahat atau menghadapi hambatan yang nyata.
Hal yang perlu diperhatikan adalah pola perilakunya. Apakah alasan tersebut selalu muncul ketika harus menghadapi tantangan penting? Jika iya, cobalah mencari solusi yang lebih konkret, seperti mengatur jadwal, meminta bantuan, atau mempersiapkan diri lebih awal.
7. Terlalu Takut Mengambil Risiko dan Mencoba Hal Baru
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3539242/original/063641700_1628834856-pexels-moose-photos-1036620.jpg)
Kesuksesan sering kali membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Sayangnya, ketakutan terhadap kegagalan dapat membuat seseorang terus bertahan dalam situasi yang sebenarnya tidak lagi mendukung perkembangannya.
Contohnya, seseorang ingin memulai usaha kecil, tetapi terus menunggu sampai memiliki modal besar, pengalaman lengkap, dan kondisi yang benar-benar sempurna. Ada pula orang yang ingin melamar pekerjaan baru, tetapi mengurungkan niat karena khawatir tidak memenuhi seluruh persyaratan. Sikap berhati-hati memang diperlukan. Namun, jika seseorang terus menunggu kepastian sebelum bertindak, berbagai kesempatan bisa terlewatkan.
Kajian Török dan Szabó menjelaskan bahwa ketakutan terhadap kegagalan merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan kecenderungan self-handicapping. Individu yang sangat menghindari kegagalan cenderung berusaha menghindari situasi yang dapat memberikan penilaian terhadap kemampuan mereka.
Untuk mengatasinya, mulailah dengan mengambil risiko yang sudah diperhitungkan. Tidak perlu langsung membuat keputusan besar. Mencoba proyek kecil, mengikuti pelatihan, atau mengajukan diri untuk tanggung jawab baru dapat menjadi langkah awal untuk membangun kepercayaan diri.
8. Menganggap Kemampuan Diri Tidak Bisa Berkembang
Pola pikir bahwa kemampuan seseorang sudah ditentukan sejak awal dapat menjadi penghambat perkembangan. Seseorang yang meyakini dirinya tidak berbakat dalam bidang tertentu mungkin memilih berhenti belajar ketika menghadapi kesulitan.
Misalnya, seseorang merasa tidak pandai berbicara di depan umum. Ketika mendapatkan kesempatan presentasi, ia langsung menolak karena menganggap kemampuan komunikasinya tidak akan pernah berkembang.
Padahal, keterampilan dapat dibangun melalui latihan, pengalaman, dan evaluasi yang konsisten.
Artikel EPIC Teachers College, Columbia University, yang merujuk pada meta-analisis Schwinger dan rekan-rekan tahun 2021, menjelaskan bahwa keyakinan terhadap diri sendiri dan orientasi tujuan memiliki hubungan dengan kecenderungan academic self-handicapping. Individu yang lebih berorientasi pada penguasaan keterampilan atau mastery-approach goals cenderung menunjukkan kecenderungan tersebut lebih rendah. Artinya, proses belajar sebaiknya tidak hanya berorientasi pada pembuktian kemampuan, tetapi juga pada peningkatan keterampilan.
Daripada mengatakan tidak berbakat, seseorang dapat mulai menggunakan sudut pandang bahwa dirinya belum menguasai keterampilan tersebut. Perubahan cara berpikir ini membantu seseorang lebih terbuka terhadap pengalaman baru dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Advertisement
Mengapa Kebiasaan Menghambat Kesuksesan Sendiri Perlu Ditinggalkan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786569/original/026161400_1711529446-IMG_1897.jpeg)
Berbagai kebiasaan tersebut memiliki satu kesamaan, yaitu membuat seseorang lebih sibuk melindungi harga diri daripada mengembangkan kemampuan sebenarnya.
Dalam jangka pendek, mencari alasan, menunda pekerjaan, atau menghindari tantangan mungkin memberikan rasa aman. Seseorang tidak perlu menghadapi kemungkinan bahwa hasil pekerjaannya memang belum sesuai harapan.
Namun, kebiasaan tersebut dapat menciptakan lingkaran yang merugikan. Ketika seseorang tidak mempersiapkan diri, peluang memperoleh hasil baik menjadi lebih kecil. Hasil yang buruk kemudian memperkuat keraguan terhadap kemampuan pribadi. Keraguan tersebut membuatnya semakin enggan menghadapi tantangan berikutnya.
Kajian Török dan Szabó (2018) menjelaskan bahwa self-handicapping dapat memberikan keuntungan psikologis jangka pendek, tetapi berisiko mengorbankan pencapaian dan potensi individu dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, langkah pertama untuk berubah adalah mengenali pola perilaku sendiri. Belajar menerima kemungkinan gagal, berani mengevaluasi kesalahan, serta menetapkan tujuan yang realistis dapat membantu seseorang keluar dari kebiasaan tersebut.
Kesuksesan memang tidak selalu datang dengan mudah. Namun, memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berusaha secara maksimal merupakan langkah penting agar potensi yang dimiliki tidak terhambat oleh perilaku yang sebenarnya bisa diubah.
Tanya Jawab Seputar Kebiasaan yang Sebaiknya Ditinggalkan
1. Apa saja kebiasaan yang dapat menghambat kesuksesan?
Beberapa kebiasaan yang dapat menghambat kesuksesan antara lain menunda pekerjaan, terlalu sering mencari alasan, tidak mempersiapkan diri, membandingkan diri secara berlebihan, menetapkan target tidak realistis, menghindari tantangan, dan menganggap kemampuan tidak bisa berkembang.
2. Apa yang dimaksud dengan self-handicapping dalam psikologi?
Self-handicapping adalah kecenderungan seseorang menciptakan atau mengklaim adanya hambatan sebelum menghadapi situasi yang menentukan kemampuannya. Perilaku ini bertujuan melindungi harga diri apabila hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan.
3. Apakah kebiasaan menunda pekerjaan bisa menghambat kesuksesan?
Ya. Menunda pekerjaan dapat mengurangi waktu persiapan, meningkatkan tekanan, dan membuat hasil pekerjaan tidak maksimal. Dalam kondisi tertentu, prokrastinasi juga dapat menjadi bentuk behavioral self-handicapping.
4. Bagaimana cara berhenti menyabotase kesuksesan sendiri?
Mulailah dengan mengenali kebiasaan yang sering menghambat kemajuan. Setelah itu, buat target realistis, susun jadwal, persiapkan diri sebelum menghadapi tantangan, dan biasakan mengevaluasi kesalahan tanpa terus mencari alasan.
5. Apakah takut gagal selalu menjadi penghambat kesuksesan?
Tidak selalu. Rasa takut gagal merupakan respons yang wajar ketika menghadapi sesuatu yang belum pasti. Namun, jika ketakutan tersebut membuat seseorang terus menghindari tantangan, menunda pekerjaan, atau sengaja mengurangi usaha, hal itu dapat menghambat perkembangan diri.
Â
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9390616/original/085162800_1793851309-Screenshot_2026-11-05_110044.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5389018/original/062498400_1761184750-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__95_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5573660/original/028626000_1777948829-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-05-05T093819.531.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9390112/original/030554700_1793783300-cek_fakta_-_petugas_haji_terbaru.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4838436/original/041772600_1716273581-17498.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653599/original/043466900_1700279714-WhatsApp_Image_2023-11-18_at_10.51.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1495582/original/005779000_1486038841-Ray_Dalio.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/742928/original/021525500_1411725336-Ray_Dalio.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314477/original/055473200_1785748246-nIJzsNLwAJ6cNxoz26Xa1NpAvtznlMJTjvTgA5iX.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324127/original/058129900_1786691144-4d5d13c6-ff64-47c3-93d1-55263d65f72b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5552233/original/097167200_1775804313-Pensiunan_kaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289466/original/016252400_1783405827-Gemini_Generated_Image_dw58uvdw58uvdw58.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4831424/original/065795500_1715674571-businessmen-shaking-hands-celebrating-success.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9390649/original/003798000_1793853363-Gemini_Generated_Image_k6qmw6k6qmw6k6qm.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9390525/original/081362100_1793847581-de6b847b-4bd9-429e-84d5-f430fca0cbbe.jpg)