Bagaimana Jabatan Bisa Mengubah Kepribadian Seseorang? Simak Penjelasan Berdasar Kajian Psikologi

Temukan penjelasan bagaimana jabatan bisa mengubah seseorang berdasarkan tinjauan biologis, sosiologis, dan pengaruh sirkuit imbalan

Diterbitkan 04 November 2026, 20:40 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah kamu melihat seseorang yang berubah sikap setelah mendapatkan promosi jabatan? Sosok yang sebelumnya ramah, terbuka terhadap pendapat orang lain, dan mudah diajak berdiskusi perlahan menjadi lebih kaku, defensif, bahkan cenderung meremehkan rekan kerjanya.

Perubahan semacam ini cukup sering dijumpai dalam lingkungan profesional. Seseorang yang dulunya bekerja sebagai anggota tim dan memahami kesulitan rekan-rekannya, misalnya, bisa menunjukkan sikap berbeda setelah menduduki posisi supervisor, manajer, atau pimpinan divisi. Ia mulai terbiasa memberikan instruksi, mengharapkan kepatuhan, dan merasa pendapatnya harus menjadi keputusan akhir.

Fenomena tersebut kemudian memunculkan pertanyaan menarik: apakah jabatan benar-benar bisa mengubah kepribadian seseorang, atau justru memberikan ruang bagi sifat-sifat yang sebelumnya tidak terlihat untuk muncul ke permukaan?

Dalam kajian psikologi, perubahan perilaku ini berkaitan dengan hubungan antara status sosial, persepsi diri, dan distribusi kewenangan. Jabatan bukan sekadar perubahan tanggung jawab profesional, tetapi juga dapat mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri dan berinteraksi dengan orang lain. Berikut penjelasannya berdasarkan sejumlah kajian psikologi.

Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai dimensi psikologis dan biologis yang menjelaskan bagaimana kekuasaan bisa mengubah perilaku manusia, lengkap dengan kerangka teoretis dari para ahli terkemuka di bidangnya, yang telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (4/11/2026).

Pengaruh Jabatan terhadap Aktivitas Otak dan Perilaku Manusia

Jabatan yang lebih tinggi sering kali memberikan seseorang rasa kendali, pengaruh, dan kebebasan yang lebih besar dalam mengambil keputusan. Kondisi ini dapat memengaruhi cara otak memproses informasi, merespons lingkungan, dan menentukan tindakan.

Dalam kajian yang diterbitkan di jurnal Communicative & Integrative Biology oleh Tobore Onojighofia Tobore (2023), dibahas hubungan antara pengalaman memiliki kekuasaan dan sistem motivasi dopaminergik di otak. Dopamin merupakan neurotransmiter yang berperan dalam motivasi, penghargaan, dan dorongan untuk mencapai tujuan.

Ketika seseorang memperoleh pengakuan, status, atau posisi yang dianggap bergengsi, pengalaman tersebut dapat memperkuat perasaan percaya diri dan dorongan untuk mempertahankan pencapaiannya. Dalam lingkungan kerja, hal ini bisa terlihat dari meningkatnya keinginan untuk mengambil keputusan, mengejar target, dan menunjukkan kemampuan memimpin.

Namun, dorongan tersebut juga memiliki sisi lain. Rasa percaya diri yang terlalu tinggi berpotensi membuat seseorang kurang mempertimbangkan masukan dari orang lain. Ia bisa merasa pengalamannya lebih penting daripada pendapat rekan kerja yang berada di posisi lebih rendah.

Pakar neurosains Ian Robertson melalui bukunya The Winner Effect juga membahas bagaimana pengalaman meraih kemenangan dan status sosial dapat memengaruhi perilaku serta respons biologis manusia.

Meski demikian, bukan berarti setiap orang yang memperoleh jabatan tinggi otomatis mengalami perubahan fungsi otak atau kehilangan empati. Pengaruh status dan kewenangan terhadap perilaku sangat bergantung pada karakter individu, lingkungan kerja, serta mekanisme pengawasan yang berlaku.

Paradoks Jabatan dan Berkurangnya Empati terhadap Rekan KerjaSalah satu konsep penting untuk memahami perubahan perilaku setelah seseorang memperoleh jabatan lebih tinggi adalah power paradox atau paradoks kekuasaan. Konsep yang dipopulerkan oleh psikolog sosial Dacher Keltner dari University of California, Berkeley ini menjelaskan bahwa kualitas sosial yang membantu seseorang memperoleh pengaruh dan kepercayaan dari orang lain justru berpotensi memudar ketika ia sudah memiliki kekuasaan. Dalam konteks pekerjaan, seseorang mungkin mendapatkan promosi karena dikenal sebagai pribadi yang komunikatif, mampu bekerja sama, menghargai pendapat rekan, dan memiliki kepedulian terhadap anggota tim. Akan tetapi, setelah menduduki posisi yang lebih tinggi, sebagian kualitas tersebut bisa mengalami perubahan. Ia mulai lebih sering memberikan instruksi daripada mendengarkan, kurang melibatkan anggota tim dalam pengambilan keputusan, atau menganggap kritik sebagai bentuk pembangkangan. Perubahan ini dapat terjadi karena hubungan sosial di tempat kerja ikut berubah. Ketika seseorang menjadi atasan, rekan kerja yang sebelumnya memiliki hubungan setara kini mungkin merasa sungkan untuk menyampaikan pendapat berbeda. Akibatnya, atasan semakin jarang menerima umpan balik yang jujur. Ia bisa mulai menganggap bahwa semua keputusan yang diambilnya sudah tepat karena orang-orang di sekitarnya cenderung menyetujui atau menghindari perdebatan. Dalam jangka panjang, situasi tersebut berpotensi menciptakan jarak emosional antara atasan dan bawahan. Seseorang yang sebelumnya memahami kesulitan rekan kerja bisa menjadi kurang peka terhadap beban kerja, tekanan, dan kebutuhan anggota timnya.

Salah satu konsep penting untuk memahami perubahan perilaku setelah seseorang memperoleh jabatan lebih tinggi adalah power paradox atau paradoks kekuasaan.

Konsep yang dipopulerkan oleh psikolog sosial Dacher Keltner dari University of California, Berkeley ini menjelaskan bahwa kualitas sosial yang membantu seseorang memperoleh pengaruh dan kepercayaan dari orang lain justru berpotensi memudar ketika ia sudah memiliki kekuasaan.

Dalam konteks pekerjaan, seseorang mungkin mendapatkan promosi karena dikenal sebagai pribadi yang komunikatif, mampu bekerja sama, menghargai pendapat rekan, dan memiliki kepedulian terhadap anggota tim.

Akan tetapi, setelah menduduki posisi yang lebih tinggi, sebagian kualitas tersebut bisa mengalami perubahan. Ia mulai lebih sering memberikan instruksi daripada mendengarkan, kurang melibatkan anggota tim dalam pengambilan keputusan, atau menganggap kritik sebagai bentuk pembangkangan.

Perubahan ini dapat terjadi karena hubungan sosial di tempat kerja ikut berubah. Ketika seseorang menjadi atasan, rekan kerja yang sebelumnya memiliki hubungan setara kini mungkin merasa sungkan untuk menyampaikan pendapat berbeda.

Akibatnya, atasan semakin jarang menerima umpan balik yang jujur. Ia bisa mulai menganggap bahwa semua keputusan yang diambilnya sudah tepat karena orang-orang di sekitarnya cenderung menyetujui atau menghindari perdebatan.

Dalam jangka panjang, situasi tersebut berpotensi menciptakan jarak emosional antara atasan dan bawahan. Seseorang yang sebelumnya memahami kesulitan rekan kerja bisa menjadi kurang peka terhadap beban kerja, tekanan, dan kebutuhan anggota timnya.

Jabatan, Rasa Superioritas, dan Bias dalam Mengambil KeputusanPerubahan sikap setelah memperoleh jabatan tidak selalu disebabkan oleh karakter yang buruk. Lingkungan kerja yang memberikan kewenangan besar tanpa pengawasan memadai juga dapat membentuk perilaku seseorang. Dalam psikologi organisasi, status dan posisi seseorang dapat memengaruhi persepsi terhadap diri sendiri maupun orang lain. Semakin tinggi jabatan yang dimiliki, semakin besar pula kemungkinan seseorang merasa memiliki pengalaman, kemampuan, atau pengetahuan yang lebih baik dibandingkan orang-orang di bawahnya. Perasaan tersebut sebenarnya tidak selalu keliru. Seorang manajer memang biasanya memiliki tanggung jawab dan pengalaman yang berbeda dari staf. Masalah muncul ketika perbedaan tanggung jawab tersebut berkembang menjadi anggapan bahwa pendapat atasan selalu lebih benar. Kondisi ini dapat memicu bias kognitif dalam pengambilan keputusan. Misalnya, seorang manajer merasa wajar mengubah jadwal kerja secara mendadak karena menganggap dirinya memiliki kewenangan untuk melakukannya. Namun, ketika bawahannya melakukan hal serupa tanpa persetujuan, tindakan tersebut justru dianggap sebagai pelanggaran kedisiplinan. Fenomena lainnya adalah kecenderungan membenarkan keputusan sendiri meskipun terdapat bukti atau masukan yang menunjukkan sebaliknya. Seseorang bisa menganggap kritik sebagai ancaman terhadap reputasi profesionalnya, bukan sebagai informasi yang dapat membantu memperbaiki kinerja. Penelitian Katherine DeCelles dan sejumlah peneliti lain mengenai hubungan antara kekuasaan, identitas moral, dan perilaku tidak etis juga menunjukkan pentingnya faktor psikologis serta situasional dalam memahami penyalahgunaan kewenangan. Dengan kata lain, jabatan tidak otomatis membuat seseorang menjadi arogan. Namun, kewenangan yang besar, minimnya pengawasan, dan lingkungan kerja yang tidak terbuka terhadap kritik dapat memperbesar peluang munculnya perilaku tersebut.

Perubahan sikap setelah memperoleh jabatan tidak selalu disebabkan oleh karakter yang buruk. Lingkungan kerja yang memberikan kewenangan besar tanpa pengawasan memadai juga dapat membentuk perilaku seseorang.

Dalam psikologi organisasi, status dan posisi seseorang dapat memengaruhi persepsi terhadap diri sendiri maupun orang lain. Semakin tinggi jabatan yang dimiliki, semakin besar pula kemungkinan seseorang merasa memiliki pengalaman, kemampuan, atau pengetahuan yang lebih baik dibandingkan orang-orang di bawahnya.

Perasaan tersebut sebenarnya tidak selalu keliru. Seorang manajer memang biasanya memiliki tanggung jawab dan pengalaman yang berbeda dari staf. Masalah muncul ketika perbedaan tanggung jawab tersebut berkembang menjadi anggapan bahwa pendapat atasan selalu lebih benar.

Kondisi ini dapat memicu bias kognitif dalam pengambilan keputusan. Misalnya, seorang manajer merasa wajar mengubah jadwal kerja secara mendadak karena menganggap dirinya memiliki kewenangan untuk melakukannya. Namun, ketika bawahannya melakukan hal serupa tanpa persetujuan, tindakan tersebut justru dianggap sebagai pelanggaran kedisiplinan.

Fenomena lainnya adalah kecenderungan membenarkan keputusan sendiri meskipun terdapat bukti atau masukan yang menunjukkan sebaliknya. Seseorang bisa menganggap kritik sebagai ancaman terhadap reputasi profesionalnya, bukan sebagai informasi yang dapat membantu memperbaiki kinerja.

Penelitian Katherine DeCelles dan sejumlah peneliti lain mengenai hubungan antara kekuasaan, identitas moral, dan perilaku tidak etis juga menunjukkan pentingnya faktor psikologis serta situasional dalam memahami penyalahgunaan kewenangan.

Dengan kata lain, jabatan tidak otomatis membuat seseorang menjadi arogan. Namun, kewenangan yang besar, minimnya pengawasan, dan lingkungan kerja yang tidak terbuka terhadap kritik dapat memperbesar peluang munculnya perilaku tersebut.

Mengapa Seseorang Bisa Berubah Setelah Menjadi Atasan?

Ada beberapa mekanisme psikologis dan sosial yang dapat menjelaskan perubahan perilaku seseorang setelah mendapatkan promosi jabatan.

1. Perubahan persepsi terhadap diri sendiri

Jabatan baru dapat mengubah cara seseorang memandang identitas dan kedudukannya dalam kelompok. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai bagian dari tim yang setara, tetapi sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab dan kewenangan lebih besar.

Perubahan identitas ini dapat memengaruhi cara berkomunikasi, menentukan prioritas, dan memperlakukan rekan kerja.

2. Berkurangnya kontrol sosial

Ketika masih menjadi staf, seseorang harus mengikuti arahan atasan dan mempertimbangkan keputusan bersama. Setelah menjadi manajer, ia memiliki keleluasaan lebih besar untuk menentukan cara kerja tim.

Jika tidak diimbangi mekanisme evaluasi, kebebasan tersebut dapat membuat seseorang semakin jarang mempertimbangkan dampak keputusannya terhadap orang lain.

3. Terbiasa mendapatkan persetujuan

Bawahan terkadang enggan menyampaikan kritik secara langsung karena khawatir memengaruhi hubungan profesional atau penilaian kinerja mereka.

Akibatnya, seorang atasan bisa terbiasa menerima persetujuan dan kehilangan kesempatan untuk mengetahui kekurangan dirinya. Lama-kelamaan, ia mungkin menganggap bahwa minimnya kritik merupakan bukti bahwa kepemimpinannya sudah berjalan dengan baik.

4. Tekanan untuk mempertahankan status

Jabatan juga berkaitan dengan pengakuan, prestise, dan rasa pencapaian. Seseorang yang sudah terbiasa menikmati status tertentu mungkin merasa perlu mempertahankan posisinya.

Dalam situasi ini, kritik terhadap keputusan atau kinerjanya bisa dianggap sebagai ancaman. Ia kemudian cenderung bersikap defensif, enggan mengakui kesalahan, atau berusaha mempertahankan citra sebagai sosok yang selalu kompeten.

Cara Mempertahankan Sikap Rendah Hati Setelah Mendapatkan Jabatan

Mendapatkan promosi jabatan seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan kualitas interpersonal yang membantunya berkembang dalam karier. Kemampuan memimpin justru perlu diimbangi dengan kesadaran bahwa kewenangan yang dimiliki membawa tanggung jawab terhadap orang lain.

Ada beberapa cara untuk menjaga keseimbangan tersebut.

Pertama, membangun komunikasi dua arah dengan anggota tim. Seorang atasan perlu menyediakan ruang bagi bawahan untuk menyampaikan kritik, ketidaksetujuan, dan kendala pekerjaan tanpa takut mendapatkan konsekuensi negatif.

Kedua, membiasakan diri menerima umpan balik. Evaluasi tidak seharusnya hanya diberikan oleh atasan kepada bawahan. Seorang manajer juga perlu bersedia dinilai berdasarkan cara berkomunikasi, mengambil keputusan, dan memperlakukan anggota tim.

Ketiga, memisahkan kewenangan profesional dari harga diri pribadi. Keputusan seorang atasan tetap bisa keliru, sedangkan kritik terhadap pekerjaannya tidak selalu berarti serangan terhadap kapasitas atau kedudukannya.

Keempat, menjaga hubungan dengan rekan kerja tanpa menjadikan perbedaan jabatan sebagai alasan untuk membangun jarak sosial. Menghargai bawahan, mendengarkan pendapat staf, dan memahami kesulitan tim merupakan bagian penting dari kepemimpinan yang sehat.

Pada akhirnya, jabatan memang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan berperilaku. Namun, perubahan tersebut bukan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Lingkungan kerja yang terbuka, mekanisme evaluasi yang sehat, dan kesadaran untuk terus melakukan refleksi diri dapat membantu seseorang mempertahankan integritas serta kualitas interpersonalnya.

Pertanyaan Umum Seputar Pengaruh Jabatan terhadap Kepribadian

Q: Apakah jabatan benar-benar bisa mengubah kepribadian seseorang?

A: Jabatan dapat memengaruhi perilaku, cara berpikir, dan cara seseorang berinteraksi dengan orang lain. Namun, perubahan tersebut tidak selalu berarti kepribadian dasarnya berubah secara permanen. Status, kewenangan, dan lingkungan kerja dapat memberikan ruang bagi karakter atau kecenderungan tertentu untuk lebih terlihat.

Q: Mengapa seseorang menjadi arogan setelah mendapatkan promosi jabatan?

A: Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya persepsi terhadap status dan kemampuan diri, terutama ketika kewenangan besar tidak diimbangi pengawasan dan umpan balik. Kebiasaan mendapatkan persetujuan dari bawahan juga dapat membuat seseorang semakin sulit menerima kritik.

Q: Apakah orang yang memiliki jabatan tinggi cenderung kehilangan empati?

A: Tidak selalu. Sejumlah kajian psikologi menunjukkan bahwa pengalaman memiliki kekuasaan dapat mengurangi kecenderungan seseorang untuk mengambil sudut pandang orang lain dalam situasi tertentu. Namun, pengaruhnya berbeda-beda bergantung pada karakter individu dan lingkungan sosialnya.

Q: Apa yang dimaksud dengan paradoks kekuasaan dalam lingkungan kerja?

A: Paradoks kekuasaan merupakan konsep yang menjelaskan bahwa kualitas sosial seperti empati, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama dapat membantu seseorang memperoleh pengaruh. Namun, setelah mendapatkan posisi berkuasa, kualitas tersebut justru berpotensi berkurang apabila tidak dipelihara.

Q: Bagaimana cara agar tidak berubah menjadi atasan yang arogan?

A: Seseorang dapat menjaga sikap dengan membiasakan komunikasi dua arah, menerima kritik, melakukan evaluasi diri, serta tetap menghargai kontribusi anggota tim. Jabatan sebaiknya dipandang sebagai tanggung jawab profesional, bukan ukuran bahwa seseorang lebih berharga dibandingkan orang lain.