Liputan6.com, Jakarta - Dalam pergaulan, perbedaan pendapat dan cara berbicara sering memicu kesalahpahaman. Jika terus dimasukkan ke hati, hal kecil pun bisa terasa berat. Memahami cara agar tidak mudah tersinggung dapat membantu kita mengelola perasaan tanpa harus bereaksi berlebihan.
Bukan berarti harus selalu diam saat menerima perlakuan kurang menyenangkan. Kita tetap boleh menyampaikan keberatan, tetapi perlu tahu kapan harus menanggapi dan kapan sebaiknya mengabaikan. Melalui cara agar tidak mudah tersinggung, kita bisa belajar menjaga batasan diri tanpa memperpanjang masalah.
Mengendalikan perasaan memang membutuhkan latihan dan kesabaran. Oleh karena itu, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa membantu kita lebih santai menghadapi komentar maupun sikap orang lain. Yuk, pelajari cara agar tidak mudah tersinggung yang Liputan6.com rangkum dari Psychology Today, Rabu (4/11/2026).
Advertisement
Â
1. Beri Jeda dan Kenali Pemicu Emosimu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3325894/original/009675000_1608129155-photo-1523153992818-6d9e411d4382.jpg)
Di era komentar media sosial yang serba cepat, banyak orang terbiasa langsung membalas begitu ada kalimat yang terasa menusuk. Padahal, salah satu cara agar tidak mudah tersinggung yang paling sederhana adalah memberi ruang beberapa detik antara apa yang kamu dengar dan bagaimana kamu meresponsnya. Jeda kecil ini juga sejalan dengan tren mindful living yang belakangan ramai diterapkan perempuan muda dalam rutinitas self-care mereka.
Mengutip Psychology Today, menerapkan jeda dengan meluangkan waktu sejenak untuk berhenti dan bernapas saat mulai terpancing termasuk strategi yang dianjurkan. Pakar neurosains Caroline Leaf menjelaskan, "Otakmu membentuk dirinya di sekitar pikiran yang terus kamu ulang. Jika kamu melatih rasa tersinggung, kamu akan hidup dalam rasa tersinggung."
2. Cek Asumsi Sebelum Menyimpulkan Maksud Orang Lain
Pesan singkat tanpa emoji, teman yang lewat tanpa menyapa, atau balasan "ok" yang terasa dingin sering memicu drama di kepala. Karena itu, cara agar tidak mudah tersinggung berikutnya adalah membiasakan diri memeriksa asumsi sebelum menyimpulkan bahwa seseorang sengaja menyakitimu. Kebiasaan ini membuat hubungan, baik dengan pasangan, sahabat, maupun rekan kerja, jadi jauh lebih sehat.
Kalau seseorang tidak menyapamu, jangan langsung menganggap dia marah. Ada banyak kemungkinan lain yang sama sekali tidak berhubungan denganmu, misalnya dia tidak melihatmu, sedang terdistraksi, atau sedang mengalami hari yang berat. Tanyakan apakah hal itu memang disengaja, apakah kamu sedang terlalu sensitif dan apakah perasaan negatif ini kemungkinan akan berlalu seperti sebelumnya.
Jika masih ragu, klarifikasi dengan kalimat lembut seperti, "Boleh bantu aku memahami maksudmu tadi?" Sering kali lawan bicara akan memberi konteks tambahan, bahkan meminta maaf, sehingga hubungan tetap terjaga.
Â
Advertisement
3. Bangun Rasa Percaya Diri dan Terima Ketidaksempurnaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4823561/original/095238400_1714998284-Ilustrasi_diam__tenang__kalem__diri_sendiri__berpikir.jpg)
Orang yang merasa cukup dengan dirinya biasanya tidak mudah goyah oleh komentar orang lain. Itulah sebabnya cara agar tidak mudah tersinggung juga berkaitan erat dengan seberapa baik kamu mengenal dan menghargai nilai dirimu sendiri. Kabar baiknya, rasa percaya diri bisa dilatih pelan-pelan, sama seperti kamu merawat kulit atau membangun gaya berpakaian yang paling mencerminkan dirimu.
Catat hal-hal yang kamu sukai dari dirimu, mulai dari kemampuan, pencapaian kecil, sampai cara kamu memperlakukan orang lain. Kepercayaan diri yang kuat membuatmu tidak gampang terguncang oleh pujian ataupun kritik. Rasa tersinggung sering muncul karena seseorang sulit menerima kekurangannya sendiri. Ketika kamu bisa menerima ketidaksempurnaan diri dan orang lain, komentar negatif jadi jauh lebih sulit menyakitimu.
4. Amati Emosi Negatif Tanpa Harus Ikut Terbawa
Bayangkan seseorang berbicara kepadamu dalam keadaan marah. Nada suaranya meninggi, wajahnya terlihat kesal dan setiap perkataannya terasa menekan. Tanpa sadar, tubuh ikut bereaksi. Dada terasa sesak, jantung berdebar dan pikiran mulai sulit dikendalikan.
Situasi tersebut menunjukkan bagaimana emosi orang lain dapat memengaruhi kondisi kita. Fenomena ini dikenal sebagai emotional contagion atau penularan emosi. Penelitian Wang (2024) membahas bagaimana perasaan seseorang dapat memengaruhi kondisi emosional orang di sekitarnya, bahkan tanpa disadari.
Meski demikian, kamu tidak harus ikut merasakan seluruh emosi tersebut. Memahami kemarahan seseorang berbeda dari mengambil alih kemarahannya. Cobalah mendengarkan, menunjukkan empati dan tetap menjaga ketenangan diri.
5. Perubahan Suasana Hati Orang Lain Belum Tentu Disebabkan oleh Kamu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4081788/original/041320700_1657179267-eutah-mizushima-2TlAsvhqiL0-unsplash_1_.jpg)
Saat seseorang tiba-tiba menjadi pendiam, mudah tersinggung, atau berbicara secara ketus, kita sering langsung bertanya-tanya apakah telah melakukan kesalahan. Padahal, belum tentu sikap tersebut berkaitan dengan diri kita.
Banyak hal bisa memengaruhi suasana hati seseorang. Kelelahan, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, perubahan hormon, atau kekhawatiran pribadi dapat membuat seseorang lebih sensitif dari biasanya.
Daripada langsung menyalahkan diri sendiri, cobalah mencari tahu situasinya secara baik-baik. Kamu bisa bertanya, "Sepertinya sedang ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Apakah semuanya baik-baik saja?" Sikap penuh perhatian membantu menjaga hubungan tetap sehat. Di sisi lain, kamu juga tidak perlu memikul tanggung jawab atas perasaan orang lain tanpa alasan yang jelas.
6. Penolakan Bukan Ukuran Harga Diri
Ditolak memang tidak menyenangkan. Perasaan tersebut bisa muncul saat lamaran pekerjaan tidak diterima, hubungan berakhir, atau seseorang tidak memilih kita. Hal ini wajar sebab manusia memiliki kebutuhan untuk diterima dan merasa menjadi bagian dari lingkungan sosial.
Masalah muncul ketika satu pengalaman penolakan dianggap sebagai gambaran keseluruhan diri. Misalnya, seseorang tidak memilih kamu, lalu muncul kesimpulan bahwa dirimu tidak cukup baik. Padahal, keputusan tersebut bisa dipengaruhi oleh kecocokan, kebutuhan, waktu, atau keadaan tertentu.
Jika terus dipandang sebagai kekurangan pribadi, penolakan dapat mengikis rasa percaya diri dan membuat seseorang takut membangun hubungan baru. Padahal, tidak semua hal berada dalam kendali kita.
Advertisement
7. Reaksi Orang Lain Bisa Menjadi Bahan Evaluasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4081789/original/016454400_1657179397-rodrigo-gonzalez-M8zCQTJZFbU-unsplash_1_.jpg)
Tidak semua respons negatif perlu diabaikan. Terkadang, perkataan dan tindakan orang lain justru memberikan petunjuk mengenai hal-hal yang perlu kita pahami atau perbaiki. Melalui interaksi sehari-hari, kita dapat mengenali perbedaan harapan, sudut pandang, nilai hidup, dan cara seseorang memahami suatu persoalan. Kematangan emosional terlihat dari kemampuan menerima masukan, mengakui kesalahan, dan bertanggung jawab atas tindakan sendiri.
Jika terjadi konflik, cobalah melihat persoalan dari kedua sisi. Apakah ada kesalahpahaman? Apakah terdapat perbedaan prinsip?
Atau adakah perilaku tertentu dari diri sendiri yang memang perlu diperbaiki? Evaluasi bukan berarti menerima semua kritik sebagai kebenaran. Pilah masukan secara bijak, ambil hal positif, lalu gunakan sebagai bekal untuk membangun hubungan lebih sehat ke depannya.
8. Jaga Kesehatan Emosional Sebelum Terlalu Lelah
Pernahkah kamu terus mengingat percakapan tidak menyenangkan, bahkan setelah kejadian tersebut berlalu? Pikiran berulang seperti ini bisa membuat seseorang sibuk mempertanyakan diri sendiri, membayangkan penolakan, atau memikirkan cara mengubah penilaian orang lain.
Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat menguras tenaga dan menimbulkan kelelahan emosional. Kita terus memutar kejadian di kepala, padahal belum tentu ada jawaban baru dari semua hal yang dipikirkan.
Salah satu langkah penting adalah mengenali kapan pikiran mulai berputar tanpa arah. Beri diri sendiri waktu untuk menenangkan diri, lalu alihkan perhatian pada kegiatan lain. Tidak semua persoalan harus diselesaikan saat itu juga.Â
Fokuslah pada hal-hal dalam kendali kamu, seperti cara memandang suatu kejadian, batasan pribadi, pilihan tindakan dan respons terhadap orang lain. Dengan begitu, energi tidak habis untuk mengendalikan sesuatu di luar kemampuan diri.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Tidak Mudah Tersinggung
Apakah mudah tersinggung bisa diubah?
Bisa. Mudah tersinggung umumnya merupakan pola respons yang terbentuk dari kebiasaan, sehingga bisa dilatih ulang lewat jeda sebelum bereaksi, memeriksa asumsi, dan membangun rasa percaya diri secara konsisten.
Apa bedanya sensitif dan mudah tersinggung?
Sensitif berarti peka terhadap perasaan diri sendiri dan orang lain, dan ini bisa menjadi sifat yang positif. Mudah tersinggung lebih mengarah pada kecenderungan menafsirkan ucapan atau tindakan orang lain secara negatif, bahkan ketika tidak ada niat buruk.
Kapan perlu mencari bantuan profesional?
Jika rasa tersinggung terus terasa berlebihan, mengganggu hubungan, pekerjaan, atau membuatmu sulit tenang dalam waktu lama, berkonsultasi dengan psikolog atau konselor bisa membantu menemukan akar masalah dan cara mengelolanya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5483882/original/074480700_1769405806-SBY_sakit.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389787/original/061479300_1793772850-Screenshot_2026-11-04_131352.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5377022/original/021863400_1760072132-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__88_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4742930/original/018792300_1707900039-SriMul1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3349870/original/037644200_1610687417-portrait-business-woman-working-laptop_1303-9731__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3147000/original/092604000_1591619569-two-women-in-front-of-dry-erase-board-1181533.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5203274/original/008910500_1745923336-sweet-lovey-asian-couple-husband-wife-with-hot-drink-talk-together-with-happiness-peaceful-home-interior-background_609648-1437.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389846/original/017152600_1793775267-f7c18ba9-12f3-449c-89f4-50759dc22641.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4922112/original/089520900_1724049471-pexels-jeys-tubianosa-1222150-3538028.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5661085/original/044757000_1778302257-108705.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5152100/original/084096600_1741234309-pexels-kindelmedia-8550840.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389750/original/058468800_1793770329-Gemini_Generated_Image_pt1eftpt1eftpt1e.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389699/original/082006500_1793768401-01_headline_feng_shui.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4611236/original/097743500_1697356802-documents-paperwork-business-strategy-concept_1_.jpg)