Trump Ancam Gunakan Hak Veto Lawan Dominasi Demokrat di Kongres AS

Presiden Donald Trump menyatakan akan menggunakan hak veto untuk melawan dominasi Partai Demokrat di Kongres.

Diterbitkan 04 November 2026, 18:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan siap menggunakan hak veto untuk menghadang undang-undang yang diusulkan Partai Demokrat jika mereka berhasil menguasai Kongres pada tahun depan.

Dikutip dari CBS News, Trump bahkan menyambut julukan "Mr. Veto" untuk menggambarkan sikapnya terhadap Demokrat. Ia menegaskan memiliki kekuasaan besar untuk menghalangi kebijakan yang tidak sejalan dengan agendanya.

"Saya memiliki kekuasaan tertinggi, yaitu yang disebut veto," kata Trump dalam wawancara eksklusif melalui telepon dengan CBS News, sebelum tempat pemungutan suara ditutup dalam pemilihan paruh waktu AS tahun ini.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Trump ditanya mengenai kemungkinan Partai Demokrat mengendalikan Kongres pada tahun depan, baik melalui mayoritas di DPR maupun Senat.

Sejumlah lembaga survei sebelumnya memprediksi Partai Republik berpotensi kehilangan sejumlah kursi. Hasil jajak pendapat CBS News pada akhir Oktober bahkan menunjukkan Partai Republik berpeluang kehilangan kendali atas DPR.

Meski demikian, Trump tetap optimistis terhadap peluang partainya dalam pemilihan paruh waktu tersebut. Ia juga mengaku yakin dapat melanjutkan agendanya selama dua tahun ke depan, terlepas dari hasil pemilu dan komposisi Kongres.

Trump Andalkan Putusan Mahkamah Agung

Trump menilai sejumlah putusan Mahkamah Agung AS baru-baru ini telah memperkuat kekuasaan eksekutif presiden dan pemerintahannya. Menurut dia, kewenangan tersebut memungkinkan pemerintah tetap menjalankan agenda meski Kongres berupaya menghalanginya.

Dalam wawancara itu, Trump secara khusus menyinggung putusan perkara Trump v. Slaughter yang dikeluarkan Mahkamah Agung pada tahun ini. Putusan tersebut memungkinkan Trump memberhentikan Rebecca Slaughter, anggota Komisi Perdagangan Federal (FTC).

Trump mengatakan putusan dengan suara 6-3 tersebut memberinya kendali luas terhadap berbagai lembaga, badan, dan komisi federal, terlepas dari siapa yang menguasai mayoritas di DPR maupun Senat.

"Kami memenangkan perkara Slaughter dan perkara itu memberi presiden kekuasaan besar yang sebelumnya tidak pernah dimiliki," ujar Trump.

Ia berencana menggunakan putusan tersebut sebagai salah satu landasan untuk menjalankan berbagai kebijakan eksekutif di sejumlah bidang pemerintahan federal pada tahun depan.

"Kepresidenan ini, pemerintahan kami, dianggap sebagai kepresidenan yang kuat. Anda bisa melakukan banyak hal," katanya.

Trump juga meyakini hak veto yang dimilikinya pada akhirnya dapat memaksa Demokrat berkompromi dan membuat kesepakatan bipartisan jika mereka berhasil memperoleh lebih banyak kursi di Kongres.

"Secara historis, Anda menggunakan veto selama beberapa bulan, lalu mereka datang dan berkata, 'Kita harus membuat kesepakatan'," kata Trump.

Pernyataan tersebut mengisyaratkan potensi pertarungan sengit antara cabang eksekutif dan Kongres pada tahun depan apabila Demokrat berhasil menguasai kedua kamar legislatif. Trump bahkan menyatakan dapat meningkatkan penggunaan kekuasaan eksekutif jika Demokrat berusaha membatasi kewenangannya di Capitol Hill.

Dua orang yang dekat dengan Trump, yang meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas percakapan pribadi, mengatakan Gedung Putih dalam beberapa pekan terakhir telah membicarakan sejumlah rencana tindakan eksekutif.

Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller dan Direktur Kantor Manajemen dan Anggaran Russell Vought disebut menjadi tokoh utama dalam pembahasan tersebut. Isu yang dipertimbangkan untuk ditindaklanjuti melalui kebijakan eksekutif mencakup imigrasi dan perdagangan.

Salah seorang sumber yang dekat dengan presiden mengatakan, meskipun Demokrat mungkin memperoleh kekuasaan di Kongres, Trump tetap akan memiliki kewenangan untuk menjalankan hampir semua agendanya pada tahun depan.

Agenda tersebut mencakup perdagangan, perbatasan, pengelolaan pemerintahan federal, serta kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS.

 

Trump Klaim Kampanye Bantu Dongkrak Elektabilitas Republik

Dalam wawancara tersebut, Trump juga mengklaim telah melakukan segala upaya untuk membantu Partai Republik di berbagai wilayah menjelang pemilihan paruh waktu.

Ia menilai rangkaian kampanye yang dilakukannya berhasil mengubah situasi yang sebelumnya diperkirakan akan menjadi kekalahan besar bagi Partai Republik menjadi persaingan yang lebih ketat.

"Jika Anda ingat, sekitar 30 hingga 40 hari lalu, orang-orang mengatakan kami akan mengalami kekalahan besar. Namun, sekarang orang-orang bahkan membicarakan kemungkinan kami bisa menang," ujar Trump.

Ia mengatakan telah melakukan perjalanan kampanye selama 29 hari dan menggelar 33 kegiatan yang disebutnya dihadiri massa dalam jumlah besar.

"Saya pikir tur itu memberikan dampak besar. Saya melakukan 29 hari, 33 kegiatan, dan semuanya merupakan rapat umum besar. Tidak ada yang pernah melakukan hal seperti itu. Saya pikir kami berhasil menyampaikan pesan dan membangkitkan antusiasme," katanya.

Ketika ditanya mengenai alasan di balik rangkaian kampanye tersebut, Trump mengatakan ingin memastikan pencapaian pemerintahannya tidak terganggu.

"Saya hanya berpikir bahwa kami bekerja dengan sangat baik sehingga saya tidak ingin melihat apa pun menghalangi apa yang telah kami lakukan," ujarnya.

Trump juga menilai pengesahan Undang-Undang One Big Beautiful Bill Act tahun lalu serta kebijakan perdagangannya telah mendorong pertumbuhan di berbagai sektor ekonomi.

Meski optimistis, Trump tidak memberikan prediksi pasti mengenai hasil pemilihan Selasa.

"Kita harus melihatnya. Setiap hari pemilihan biasanya selalu menghadirkan kejutan dan perkembangan yang tidak terduga," katanya.

"Apakah kami akan menang? Peluang kami bagus. Namun, kami tidak akan dipermalukan," lanjut Trump.

 

Trump Bicara Renovasi Gedung Putih hingga Ambisi Politik 2028

Selain membahas pemilu dan kekuasaan eksekutif, Trump juga menyinggung rencana renovasi sejumlah bangunan di Washington. Sehari sebelum wawancara, Senin, ia menyampaikan pidato di depan Lincoln Memorial Reflecting Pool di Washington DC.

Dalam pidato tersebut, Trump berbicara panjang lebar mengenai upayanya merenovasi, membersihkan, dan membangun kembali sejumlah bangunan penting di Gedung Putih maupun ibu kota AS.

Trump mengatakan ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa dirinya memanfaatkan pengalaman sebagai pengembang properti untuk membenahi Washington agar dapat digunakan masyarakat.

Ia juga menanggapi kritik mantan Presiden Barack Obama terhadap aktivitas renovasi yang dilakukannya. Trump menyebut sebelumnya terdapat jendela rusak di dekat pintu depan Gedung Putih.

"Itu adalah Gedung Putih. Anda tidak bisa membiarkan bagian yang batunya retak dan hampir terlepas dari sisi dinding. Dan saya memperbaikinya. Anda tahu, saya sangat ahli dalam hal itu," kata Trump.

Ia mengaku menikmati pekerjaan renovasi tersebut karena merasa mampu melakukannya dengan baik. Menurutnya, kondisi Gedung Putih kini sudah sangat terawat.

Untuk 2027, Trump mengatakan berharap dapat menyelesaikan pembangunan ruang dansa baru di Gedung Putih sekaligus memulai proyek pembangunan gerbang lengkung setinggi 250 kaki atau sekitar 76 meter yang diusulkannya. Proyek gerbang tersebut saat ini menghadapi tantangan hukum.

"Saya akan menyelesaikannya," kata Trump mengenai ruang dansa yang disebutnya sebagai kompleks ruang dansa dan fasilitas militer.

Sementara mengenai gerbang lengkung, ia berharap pembangunannya dapat segera dimulai.

Trump menyebut proyek tersebut sebagai perayaan keberhasilan. Ia juga menggambarkan berbagai inisiatif pembangunan yang dilakukannya sebagai bagian dari upaya mempercantik Amerika.

Trump turut mengklaim pemerintahannya telah membersihkan 97 lokasi yang mengalami vandalisme grafiti serius di Washington DC, termasuk di sekitar dasar gedung Mahkamah Agung.

Sementara terkait masa depan politiknya, Trump mengatakan belum membicarakan kemungkinan pencalonan dalam pemilihan presiden 2028 bersama para penasihatnya. Pencalonan tersebut juga akan menghadapi hambatan konstitusional dan hukum.

Untuk saat ini, ia menilai Partai Republik memiliki banyak kandidat potensial yang dapat diandalkan.

"Partai Republik memiliki banyak kandidat yang sangat bagus," ujar Trump.