Liputan6.com, Jakarta Pernahkah kamu menemukan kaus favorit, lalu langsung membelinya dalam warna hitam, abu-abu, dan navy sekaligus? Kebiasaan ini ternyata cukup umum dan bukan berarti kamu kehabisan ide gaya. Ciri orang yang lebih suka membeli baju yang sama dalam beberapa warna biasanya terlihat dari sikapnya yang praktis, konsisten, dan lebih mementingkan kenyamanan.
Mereka sudah tahu potongan apa yang cocok, jadi hanya tinggal memilih variasi warnanya. Dilansir dari Fashion Journal, pakaian dasar yang serbaguna menjadi bagian penting dalam membangun lemari pakaian kapsul.
Item seperti kaus dan rajutan dapat dipilih berdasarkan kenyamanan, kualitas, serta kemudahan untuk dipadukan dengan berbagai pakaian lainnya. Kalau kamu ingin tahu apakah kamu termasuk orang dengan ciri suka membeli baju yang sama dalam beberapa warna, simak penjelasannya di bawah ini.
Advertisement
Pengertian Kebiasaan Membeli Baju yang Sama dalam Beberapa Warna
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350018/original/038876200_1789552237-young-girl-standing-ironing-board-with-clothes-living-room.jpg)
Langkah pertama memahami kebiasaan ini adalah mengenali polanya. Secara sederhana, ini adalah kebiasaan belanja ketika seseorang menemukan satu model pakaian yang pas, entah kaus, kemeja, atau celana, lalu membelinya lagi dalam warna lain. Model, bahan, dan ukurannya sama, yang beda cuma warnanya. Di dunia fesyen, pola ini sering dikaitkan dengan istilah signature style atau "seragam pribadi", yaitu gaya khas yang dipakai terus-menerus karena sudah terbukti cocok.
Dalam praktiknya, kebiasaan ini bekerja seperti "rumus berpakaian". Kamu tidak perlu lagi menebak-nebak apakah potongan baju baru akan cocok di badan, karena jawabannya sudah ada. Sebagaimana dijelaskan oleh stylist sekaligus pendiri Australian Style Institute, Lauren Di Bartolo, dalam wawancaranya dengan Fashion Journal, otak manusia cenderung mengarahkan perhatian pada hal-hal yang sudah familier.
Ia mengatakan, "Ya, sebenarnya otak kita memang terprogram untuk melakukan hal tersebut." Menurutnya, Reticular Activating System (RAS) berperan sebagai sistem penyaring perhatian yang membuat kita cenderung memperhatikan gaya pakaian yang sudah dikenal. Akibatnya, tanpa disadari, kita bisa terus memilih pakaian dengan model atau warna serupa saat berbelanja.
Penting dicatat, kebiasaan ini tidak otomatis buruk. Di Fashion Journal, Lauren Di Bartolo menjelaskan bahwa memiliki beberapa item pakaian yang serupa bisa bermanfaat, terutama bagi mereka yang menjadikan gaya berpakaian sebagai ciri khas atau semacam seragam pribadi. Kebiasaan ini juga dapat menghemat waktu dan energi saat memilih pakaian sehari-hari. Biasanya orang sudah melewati proses mencoba banyak model sebelum akhirnya memilih satu yang dianggap paling pas. Kalau kamu penasaran apa arti warna yang paling sering kamu pilih, kamu juga bisa mengulik kepribadian dari pilihan warna busana sehari-hari.
Advertisement
Ciri Orang yang Lebih Suka Membeli Baju yang Sama dalam Beberapa Warna
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374098/original/096236200_1792035676-01M4WRW2SJ6P7DBQ1E8X6G1SB6.jpg)
Setiap orang punya alasan berbeda, tetapi ada beberapa ciri yang cukup sering muncul pada orang dengan kebiasaan belanja ini. Kamu bisa mencocokkannya dengan dirimu sendiri atau orang di sekitarmu. Sebagaimana dijelaskan dalam SUCCESS, konsep "mengotomatiskan lemari pakaian" terinspirasi oleh kebiasaan berpakaian Mark Zuckerberg, Steve Jobs, dan tokoh lain yang harus mengambil banyak keputusan penting setiap hari.
- Menyukai efisiensi. Mereka tidak mau menghabiskan waktu pagi untuk memadupadankan atasan, bawahan, dan luaran. Waktu yang tersisa dipakai untuk hal yang dianggap lebih penting.
- Konsisten dalam banyak hal. Orang yang setia pada satu model baju sering kali juga konsisten dalam rutinitas, misalnya tepat waktu dan menepati janji. Ini memang kecenderungan, bukan aturan pasti.
- Mengutamakan kenyamanan. Kalau sudah menemukan bahan dan potongan yang enak dipakai, mereka tidak mau ambil risiko dengan model baru yang belum tentu nyaman.
- Sudah paham bentuk tubuh sendiri. Mereka tahu potongan mana yang bikin badan terlihat proporsional, jadi membeli versi warna lain adalah pilihan yang paling aman.
- Membangun personal branding. Ada orang yang memang sengaja ingin dikenal lewat gaya khas tertentu, misalnya selalu memakai kemeja polos dengan potongan yang sama.
- Punya identitas diri yang kuat. Mereka percaya diri memakai model yang sama berulang kali dan tidak merasa perlu mendapat pengakuan dari orang lain lewat penampilan yang selalu berganti.
- Tidak mudah terbawa tren. Di tengah tren media sosial yang cepat berganti, mereka tetap memilih gaya yang terbukti cocok untuk dirinya.
- Lebih mementingkan fungsi daripada gaya. Baju dipandang sebagai alat pendukung aktivitas, bukan ajang untuk tampil sempurna setiap hari.
- Suka hidup teratur dan terencana. Lemari yang isinya seragam membuat rutinitas lebih mudah diprediksi dan pikiran tidak cepat lelah.
- Butuh rutinitas yang sederhana. Pada sebagian orang, termasuk orang dengan ADHD, memakai pakaian serupa bisa membantu mengurangi kelelahan saat mengambil keputusan dan beban sensorik yang berlebihan.
Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Ini
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4979533/original/009815300_1729829777-fashion-preloved.jpg)
Setelah tahu ciri-cirinya, kamu mungkin bertanya kenapa otak kita bisa "betah" dengan pilihan yang itu-itu saja. Ada beberapa mekanisme psikologis yang bisa menjelaskannya. Sebagaimana dijelaskan dalam SUCCESS, psikolog Roy Baumeister, Ph.D., mengemukakan bahwa pengambilan keputusan dan pengendalian diri melibatkan sumber daya mental yang sama.
- Kelelahan mengambil keputusan (decision fatigue). Mengacu pada penjelasan House of Colour, keputusan kecil yang dibuat berulang kali, termasuk memilih pakaian dan menentukan warna yang akan dikenakan, dapat menambah beban mental sehari-hari. Kondisi ini berkaitan dengan apa yang disebut psikolog sebagai decision fatigue, yaitu kelelahan yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan setelah menghadapi banyak pilihan.
- Bias kenyamanan. Kalau kaus hitam yang kamu beli dua tahun lalu ternyata enak dipakai, otak menyimpannya sebagai pilihan "aman". Saat belanja berikutnya, kamu cenderung memilih model yang sama karena itu keputusan paling mudah.
- Heuristik keakraban. Pengalaman membeli barang yang ternyata cocok membuat kita menganggap keputusan lama itu benar dan layak diulangi. Hasilnya, kamu bisa memilih lebih cepat dan lebih yakin.
- Pengaruh lingkungan. Menurut Lauren Di Bartolo, stylist sekaligus pendiri Australian Style Institute, gaya berpakaian tidak hanya berkaitan dengan pilihan busana, tetapi juga dengan psikologi dan cara seseorang mengekspresikan dirinya. Lingkungan turut memengaruhi pilihan tersebut.
- Algoritma belanja online. Toko online merekam apa yang kamu klik. Kalau kamu sering melihat kaus hitam, rekomendasi yang muncul pun akan didominasi kaus hitam, sehingga pola belanjamu makin seragam.
- Kepuasan karena pilihan lebih sedikit. Berdasarkan ulasan Today Well Spent, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumen cenderung lebih puas dengan pembelian mereka ketika memilih dari opsi yang lebih sedikit, terutama ketika terlalu banyak pilihan justru membuat proses pengambilan keputusan terasa rumit.
Advertisement
Manfaat Praktis Punya Baju Sama dalam Beberapa Warna
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5524359/original/072346100_1772943134-mix_and_match_1.jpg)
Manfaat utama kebiasaan ini bagi pengguna adalah hidup terasa lebih ringan, terutama di pagi hari. Berikut beberapa manfaat yang bisa kamu rasakan langsung. Merujuk pada penjelasan Boring Label, memakai pakaian yang sama atau koleksi yang hampir identik bukan berarti seseorang mengabaikan keputusan soal berpakaian. Sebaliknya, ia telah menentukan gaya yang diinginkan sejak awal, lalu mempertahankannya agar tidak perlu berulang kali memikirkan pilihan pakaian setiap hari.
- Pagi jadi lebih cepat. Kamu tidak perlu lagi bingung memilih outfit sebelum berangkat kerja atau kuliah. Sebagai gambaran, dalam wawancaranya dengan Fashion Journal, Lauren Di Bartolo menyebut bahwa perempuan diperkirakan menghabiskan rata-rata 17 menit setiap hari hanya untuk menentukan pakaian yang akan dikenakan.
- Energi mental lebih hemat. Keputusan kecil yang berkurang membuat kamu punya lebih banyak tenaga untuk pekerjaan atau urusan yang lebih penting.
- Belanja lebih minim risiko. Kamu sudah tahu ukuran, bahan, dan potongannya, jadi kemungkinan salah beli jauh lebih kecil, apalagi kalau belanja online.
- Kualitas bisa meningkat. Saat membeli barang yang sama untuk kedua kalinya, biasanya kita jadi lebih jeli soal ukuran dan kualitas.
- Lemari lebih rapi dan mudah dipadupadankan. Model seragam dengan warna berbeda, terutama warna netral, gampang dikombinasikan satu sama lain.
- Penampilan tetap konsisten. Kamu jadi punya gaya khas yang mudah dikenali orang, cocok untuk membangun citra profesional.
Tips Menerapkan Kebiasaan Ini Tanpa Terjebak Style Rut
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295374/original/048593200_1783927995-pexels-mikhail-nilov-6612632.jpg)
Meski banyak manfaatnya, kebiasaan ini bisa membuatmu terjebak dalam style rut, yaitu kondisi ketika lemari penuh baju tapi pilihan outfit-nya sedikit. Menurut Lauren Di Bartolo, kebiasaan membeli berbagai versi dari barang yang sama dapat membuat seseorang terjebak dalam style rut, yaitu kondisi ketika pilihan pakaian menjadi kurang bervariasi sehingga sulit menciptakan penampilan yang berbeda. Berikut langkah praktis agar kebiasaanmu tetap sehat.
- Cek isi lemari dulu. Lihat model, warna, atau jenis pakaian mana yang kamu punya terlalu banyak. Tanyakan pada dirimu apakah itu memang kebutuhan atau sekadar kebiasaan.
- Pilih warna yang cocok dengan kulitmu. Kalau mau membeli satu model dalam beberapa warna, pastikan warna-warna tersebut sesuai dengan warna kulit dan rambutmu supaya semuanya benar-benar terpakai.
- Terapkan aturan satu variabel. Pertahankan potongan yang kamu suka, tapi coba warna baru seperti olive, rust, atau biru keabuan. Kalau tidak bisa lepas dari warna hitam, pertahankan warnanya dan coba potongan lain.
- Sesuaikan dengan kebutuhan acara. Pastikan lemari tetap punya pilihan untuk acara berbeda, misalnya kerja, santai, dan acara formal.
- Batasi jumlah per model. Misalnya, maksimal tiga warna untuk satu model kaus. Cara ini membantu kamu tidak menumpuk barang yang jarang dipakai.
- Minta pendapat orang lain. Stylist profesional atau teman yang jeli bisa melihat celah di lemarimu yang tidak kamu sadari.
Tips singkat: sebelum checkout, tanyakan ke dirimu, "Apakah baju ini menambah pilihan outfit, atau cuma menambah tumpukan yang mirip?" Pertanyaan sederhana ini cukup ampuh mencegah belanja berputar-putar di tempat. Kalau ingin tahu lebih jauh soal arti warna yang kamu pilih, baca juga ulasan tentang kepribadian dari warna baju yang sering dipakai.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Baju yang Sama dalam Beberapa Warna
Apakah membeli baju yang sama dalam beberapa warna termasuk boros?
Tidak selalu. Kalau semua warna benar-benar terpakai secara bergantian, kebiasaan ini justru bisa lebih hemat karena risiko salah beli kecil. Jadi boros kalau baju menumpuk tapi jarang dipakai.
Apakah kebiasaan ini tanda orang yang membosankan?
Belum tentu. Banyak orang memilih pola ini karena praktis, nyaman, dan ingin menghemat energi untuk hal lain. Gaya yang konsisten malah bisa jadi ciri khas yang mudah diingat.
Warna apa yang paling aman jika ingin membeli satu model dalam beberapa warna?
Warna netral seperti hitam, putih, abu-abu, navy, dan cokelat biasanya paling aman karena gampang dipadupadankan. Setelah itu, kamu bisa menambahkan satu atau dua warna yang cocok dengan warna kulitmu sebagai variasi.
Pada akhirnya, ciri orang yang lebih suka membeli baju yang sama dalam beberapa warna mencerminkan cara berpikir yang praktis dan mengenal diri sendiri. Selama lemarimu tetap fungsional dan sesuai kebutuhan, kebiasaan ini bisa membuat harimu lebih ringan dan kamu tetap percaya diri.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360712/original/030827900_1790662146-cek_fakta_--_BLT_UMKM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490698/original/095003200_1770021594-bea_cukai_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4949090/original/063678200_1726832428-Apel1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374094/original/006145900_1792035659-01M4WRR8E3QD6P0EG9V5PYFQDP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383071/original/084442000_1793068664-membersihkan_lem_korea_5.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386894/original/020806400_1793411753-HL.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374091/original/067157100_1792035655-01M4WRQ6JV6TMT6J9CJEPQJH4F.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383051/original/036531500_1793066679-pexels-sejio402-29181495.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369836/original/029187400_1791537094-cpSDPrBZrvBCrEvIIXhuA8pKh8h1Ma4FMjtBECww.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386711/original/002173400_1793358222-Prof_Megawati_Simanjuntak.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384170/original/058663000_1793159489-01M6017KZN07C87K32ACM83G06.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5513862/original/033295900_1772074336-unnamed__74_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386073/original/031562000_1793325911-1.jpg)