Penyebab Harga Emas Sentuh Level Terendah Sejak 2025

Harga emas dunia menyentuh level terendah sejak 6 Oktober 2025.

Diterbitkan 31 Oktober 2026, 10:32 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasar emas mengalami tekanan menjelang akhir pekan. Harga emas dunia turun menembus level US$ 4.000 per ons dan mencapai titik level terendah dalam lebih dari setahun yakni pada 6 Oktober 2025.

Mengutip Kitco, Sabtu (31/10/2026), aksi jual besar-besaran pada Jumat pekan ini mendorong harga emas ke level terendah sejak 6 Oktober 2025. Saat logam mulia menyentuh level terendah harian di US$ 3.884,61 per ons.

Penurunan terbaru ini terjadi di tengah antisipasi investor terhadap pekan yang berpotensi kembali penuh gejolak. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) serta pemilihan umum paruh waktu yang diperkirakan menghadirkan ketidakpastian baru bagi pasar keuangan.

Menurut para analis dan pelaku pasar, terdapat rasa frustrasi yang cukup besar di pasar karena emas menghadapi tekanan jual yang signifikan, padahal nilai dolar AS dan imbal hasil obligasi justru sedang melemah. (Kitco Global Index menunjukkan seberapa besar pergerakan harga emas hari ini dipengaruhi oleh nilai dolar AS dibandingkan dengan dinamika pasar emas itu sendiri.)

Secara tradisional, kedua faktor tersebut seharusnya menjadi sentimen positif (bullish) bagi logam mulia, karena mampu menurunkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang emas.

Harga emas spot terakhir diperdagangkan di level US$ 3.880 per ons, turun 3,5% dalam sehari. Secara mingguan, harga telah terkoreksi hampir 3%. Perak mengalami penurunan yang lebih tajam, dengan harga jatuh ke bawah US$ 50 per ons.

Perak spot terakhir diperdagangkan pada US$ 48,95 per ons, turun hampir 6% dalam sehari. Harga perak telah anjlok hampir 9% sejak Jumat lalu, mencatatkan penurunan mingguan terburuk sejak awal Juni.

Para analis menyatakan, emas gagal mendapatkan momentum kenaikan, meskipun imbal hasil obligasi sedang turun, akibat adanya kekhawatiran yang lebih luas di pasar.

Meskipun Federal Reserve (the Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga setelah pertemuan kebijakan moneter pada Rabu. Bank sentral tersebut tetap berkomitmen untuk menekan inflasi. Terlepas dari jeda kenaikan suku bunga minggu ini, pasar tetap memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember dan sepanjang kuartal pertama 2027.

 

Dibayangi Kenaikan Suku Bunga

Kepala Strategi Pasar di Blue Line Futures, Philip Streible mengatakan, emas akan terus kesulitan karena konflik yang sedang berlangsung dengan Iran menjaga harga minyak tetap tinggi.

"Aturan di pasar saat ini adalah Anda harus membeli aset yang mencerminkan inflasi, dan minyak saat ini merupakan representasi dari inflasi tersebut," ujarnya.

Streible menambahkan, emas berkinerja baik ketika bank sentral terpaksa memangkas suku bunga untuk mendukung perekonomian. Namun, dengan ekonomi yang tumbuh sebesar 3,4% pada kuartal ketiga, ia mengatakan, bank sentral AS memiliki ruang yang cukup luas untuk menaikkan suku bunga.

"Jika ekonomi tetap kuat, The Fed dapat terus menaikkan suku bunga, yang berarti emas akan terus berada dalam posisi rentan terhadap tekanan," ujarnya.

 

3 Hal yang Dapat Mengubah Prospek Emas

Kepala Pengembangan Bisnis di XS.com, Simon-Peter Massabni mengatakan, meskipun dolar AS melemah dan imbal hasil obligasi menurun, emas justru bereaksi terhadap ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga di masa depan.

"Faktor penentunya adalah apakah data ekonomi yang akan datang mendorong pasar untuk mengevaluasi kembali prospek suku bunga—menggeser ekspektasi ke arah penghentian pengetatan kebijakan atau dimulainya kembali pemangkasan suku bunga,” ujar dia.

Ia menambahkan, sampai saat itu tiba, emas kemungkinan akan tetap berada di bawah tekanan jual, terlepas dari faktor-faktor pendukung yang masih menopang prospek jangka menengah hingga jangka panjangnya.

"Saya melihat ada tiga perkembangan yang dapat mengubah prospek tersebut,” ujar dia.

Pertama, pendinginan yang bertahap namun jelas di pasar tenaga kerja AS, yang tercermin dari melambat-nya pertumbuhan lapangan kerja, meningkatnya angka pengangguran, dan pertumbuhan upah yang lebih lambat.

Kedua, penurunan inflasi yang berkelanjutan, terutama inflasi inti dan komponen harga yang mencerminkan dampak kenaikan biaya energi terhadap barang dan jasa secara lebih luas. Ketiga, penyesuaian ekspektasi suku bunga masa depan dan imbal hasil riil ke tingkat yang lebih rendah."

 

Aksi Jual

Melihat pergerakan harga emas secara teknikal, Analis Teknikal di GivTrade, Waleed Said menyatakan, arah pergerakan harga yang paling mungkin terjadi adalah penurunan lebih lanjut. Ia menambahkan, harga emas diperkirakan pada akhirnya akan menguji level dukungan (support) di US$ 3.800 per ons.

Aksi jual terbaru juga telah mendorong harga emas jauh di bawah rata-rata pergerakan 200 hari (200-day moving average), yang berada di kisaran US$ 4.490 per ons. Dengan harga yang diperdagangkan sekitar 13,5% di bawah indikator tren jangka panjang ini, gambaran teknikal terus menunjukkan momentum penurunan (bearish) yang signifikan.

"Mekanismenya penting di sini. Bukan berarti orang-orang menukar emas mereka dengan minyak," ujar Said.

"Harga minyak yang lebih tinggi berarti inflasi yang lebih tinggi, dan inflasi yang lebih tinggi membuat bank sentral tetap bersikap hawkish (cenderung menaikkan suku bunga). Selain itu, saat terjadi aksi jual di sektor teknologi, banyak pihak menjual emas untuk memenuhi margin call di instrumen lain,” ia menambahkan.

Selain itu, emas adalah aset yang likuid, sehingga menjadi hal pertama yang dijual ketika seseorang membutuhkan uang tunai.

Jadi, dalam situasi konflik ini, emas tidak berperan sebagai aset aman (safe haven) seperti yang diharapkan banyak orang. Peran tersebut justru diambil oleh minyak dan dolar AS yang mewakili peluang pembelian jangka panjang.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6