Nekat Gadaikan Rumah di Usia 40, Anak Tukang Kayu Kini Berharta Rp 706 Triliun

Mulai bisnis dari nol dengan menjaminkan rumah di usia 40, anak tukang kayu ini sukses bangun Ineos hingga kuasai saham klub Manchester United.

Diterbitkan 31 Oktober 2026, 07:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dari balik jendela kamar masa kecilnya di Greater Manchester, seorang bocah laki-laki sering kali terpaku menatap cerobong-cerobong asap pabrik yang membubung ke langit. Anak tukang kayu yang tumbuh di perumahan rakyat ini tak pernah menyangka, deretan cerobong asap yang ia pandangi saban hari kelak menjadi cikal bakal dari kerajaan bisnis global bernilai ratusan triliun rupiah. 

Dialah Sir Jim Ratcliffe, sosok yang membuktikan bahwa keberanian bertaruh dan ketajaman melihat peluang mampu mengubah nasib seseorang menjadi salah satu orang terkaya di Inggris.

Dikutip dari Headspace Group, Sabtu (31/10/2026), masa kecil Ratcliffe dibentuk oleh kesederhanaan keluarga kelas pekerja. Ayahnya seorang tukang kayu yang kemudian mengelola pabrik furnitur laboratorium, sementara ibunya bekerja sebagai pegawai kantor akuntansi. Dorongan besar dari keluarga mengantarkan Ratcliffe menimba ilmu teknik kimia di University of Birmingham, hingga meraih gelar MBA dari London Business School.

Awal perjalanan kariernya jauh dari kata mulus. Saat bekerja di raksasa minyak BP, Ratcliffe pernah mengalami nasib apes, ia diberhentikan dari posisi lapangan hanya karena mengidap masalah kulit ringan (eczema).

Namun, nasib buruk itu justru menjadi titik balik. Setelah sempat berlabuh di Esso, Ratcliffe memoles keahlian finansialnya di firma modal ventura Advent International pada usia 40 tahun. Pengalaman inilah yang mengasah kemampuannya dalam menilai struktur transaksi bisnis dan melihat potensi emas dari aset-aset yang diabaikan orang lain.

Mengutip BBC, momen pertaruhan terbesar dalam hidupnya terjadi pada awal 1990-an. Demi mengambil alih bisnis kimia khusus milik BP yang terbengkalai, Ratcliffe nekat menjaminkan rumah dan seluruh harta kekayaannya bersama sang mitra. Keputusan yang tergolong gila itu membuahkan hasil manis ketika perusahaan hasil akuisisi tersebut berhasil melantai di Bursa Saham London.

Membangun Ineos dari Aset yang 'Tak Seksi'

Pada 1998, di usia 45 tahun, Ratcliffe mendirikan Ineos. Konglomerat kimia ini dibangun dengan strategi berani, mencaplok aset-aset industri yang dinilai kurang populer atau bermasalah (unsexy assets) dari raksasa seperti BP dan BASF.

Lewat efisiensi ketat dan manajemen yang tajam, ia menyulap pabrik-pabrik bermasalah tersebut menjadi mesin pencetak uang. Kini, kekayaan bersih Sir Jim Ratcliffe diperkirakan mencapai 18,2 miliar poundsterling hingga 29 miliar poundsterling atau sekitar Rp 443 triliun hingga Rp 706 triliun (kurs Rp 24.358 per poundsterling).

Dilansir dari Sky News, puncak pengakuan atas kontribusinya terjadi pada 2018. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun Ratu Elizabeth II (Queen's Birthday Honours), ia dianugerahi gelar kebangsawanan (knighthood) dan berhak menyandang gelar "Sir", tak lama setelah dinobatkan sebagai orang terkaya di Inggris versi The Sunday Times.

Dari Kerajaan Bisnis hingga Manchester United

Keberhasilan finansial tak melunturkan kecintaannya pada dunia olahraga. Sebagai penggemar setia sepak bola sejak kecil, Ratcliffe mewujudkan mimpinya dengan menguasai 27,7% saham Manchester United FC sekaligus memegang kendali penuh atas operasional olahraga klub tersebut.

Portofolio investasinya juga mencakup klub Prancis OGC Nice,tim balap sepeda, hingga keterlibatan di ajang Formula 1.

Kisah Sir Jim Ratcliffe menjadi bukti nyata bahwa usia hanyalah angka dalam memulai bisnis. Kombinasi antara penguasaan teknis, keberanian mengambil risiko terukur, dan kedisiplinan mengeksekusi efisiensi terbukti mampu mengubah aset terbengkalai menjadi imperium bisnis kelas dunia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6