Liputan6.com, Jakarta - Kasus pembunuh ibu dan anak di Madiun kembali menyorotkan peran ilmu forensik. Polisi menyebut tersangka Dwi Bagus Martono (40) diduga membakar dan menghancurkan jasad istri sirinya, Dini Hardiyanti (30), serta anak tirinya, AGF (4), lalu membuang sisa-sisanya. Sejumlah barang bukti seperti mesin pencacah, abu, dan fragmen tulang telah diamankan untuk dianalisis.
Penyidik mendalami dugaan pembunuhan berencana di Madiun, Jawa Timur, dan menyiapkan berbagai pemeriksaan ilmiah atas material yang ditemukan. Dalam kondisi ekstrem seperti ini, tahapan identifikasi dilakukan bertahap untuk memastikan asal material dan membuka peluang penentuan identitas.
Â
Advertisement
Verifikasi Awal Material
Ahli forensik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU), Asan Petrus, menjelaskan bahwa identifikasi tetap mungkin dikerjakan selama tersedia material biologis yang layak diuji. Penelusuran tidak bergantung pada jasad yang utuh, melainkan pada kualitas sampel yang tertinggal.
Asan menuturkan, proses identifikasi tidak menuntut tubuh dalam keadaan utuh. Selama ada sisa biologis, pemeriksaan bisa dilakukan. Namun, langkah pertama adalah memastikan dulu asal material yang ditemukan.
Menurut dia, jika diperoleh benda yang diduga bagian dari tubuh manusia, ahli akan memverifikasi spesiesnya. Metode yang digunakan adalah precipitin test, yakni uji serologis untuk menentukan apakah material biologis tersebut berasal dari manusia.
"Kalau misalnya ada bahannya, katakanlah itu sesuatu yang sudah digiling, kalau itu memang dugaan itu adalah manusia, itu kan bisa dibuktikan dengan pemeriksaan namanya precipitin test," kata Asan saat dihubungi, Jumat (30/10/2026).
Advertisement
Identifikasi Lewat DNA
Setelah asal material dipastikan, tahapan berikutnya adalah mencari identitas sumbernya. Salah satu metode utama ialah pemeriksaan DNA yang memanfaatkan materi genetik dari sampel biologis untuk menautkan temuan dengan individu tertentu.
Asan menjelaskan, bahan untuk uji DNA tidak harus berupa bagian tubuh besar. Sampel seperti darah, rambut, kuku, air liur, urine, hingga potongan kecil jaringan dapat dianalisis di laboratorium.
"Semua bagian tubuh itu bisa dijadikan sampel untuk pemeriksaan DNA. Kita tinggal kirim saja," ujar dia.
Ia menambahkan, sampel berukuran kecil tetap berpeluang diperiksa selama masih menyimpan materi biologis yang memadai. Meski begitu, kondisi dan kualitas sampel sangat menentukan; material yang terpapar panas atau kerusakan berat tidak selalu menyisakan DNA yang bisa diolah.
Mencocokkan DNA Dengan Keluarga
Asan mengingatkan, ditemukannya profil DNA dari sebuah sampel belum otomatis mengungkap nama pemiliknya. Hasil uji harus dibandingkan dengan DNA pembanding untuk memastikan identitas korban.
Dalam praktiknya, keluarga kandung yang melaporkan kehilangan anggota keluarga dapat memberikan sampel DNA sebagai pembanding. Jika ada beberapa laporan kehilangan, semua sampel pembanding itu kemudian dicocokkan dengan materi yang ditemukan.
"Kalau ada orang merasa kehilangan anggota keluarganya, kemudian ada dua atau tiga keluarga, maka tinggal dicocokkan saja nanti DNA-nya. Mana yang besar kemungkinannya," kata dia.
Asan menyebut DNA jauh lebih spesifik dibandingkan golongan darah untuk keperluan identifikasi individu.
"Kalau golongan darah kan terlalu rancu. DNA itu lebih spesifik," imbuh dia.
Advertisement
Antropologi Forensik Turut Dipakai
Selain DNA, antropologi forensik juga dapat membantu pengenalan korban. Disiplin ini mempelajari karakter biologis manusia dari bagian tubuh atau tulang yang tersisa untuk memperkirakan jenis kelamin, tinggi badan, dan ciri fisik lainnya.
Apabila yang ditemukan hanya fragmen atau potongan tertentu, analisis morfologi tulang tetap bisa memberikan gambaran karakteristik korban saat masih hidup. Informasi tersebut kemudian dicocokkan dengan keterangan keluarga yang kehilangan.
"Kalau dia terpotong-potong, itu bisa juga diidentifikasi. Namanya antropologi. Dari potongan tubuh itu bisa kita mengidentifikasi, misalnya tinggi badannya waktu dia hidup," kata dia.
Pendekatan ini bermanfaat ketika wajah atau bentuk tubuh tidak lagi dapat dikenali. Estimasi antropologis menjadi pelengkap penting saat materi genetik terbatas atau pengujian DNA menghadapi kendala.
Ketika Identitas Tak Selalu Terjawab
Asan menegaskan, beragam metode forensik tidak menjamin semua jasad yang mengalami kerusakan ekstrem bisa diidentifikasi. Keberhasilan sangat bergantung pada ketersediaan material yang layak uji dan data pembanding.
Jika yang tersisa hanya bagian tubuh yang rusak berat tanpa adanya DNA pembanding dari keluarga atau basis data, ahli biasanya masih bisa memperkirakan jenis kelamin, tinggi badan, dan karakter biologis lain. Namun, memastikan nama korban menjadi jauh lebih menantang.
Menurut dia, proses identifikasi tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi jasad. Kualitas sampel biologis, kelayakan materi genetik, dan ketersediaan pembanding keluarga berperan krusial dalam mengungkap identitas seseorang.
"Yang bisa kita identifikasi mungkin jenis kelaminnya, ini orang apakah laki-laki atau perempuan, berapa tinggi badannya. Tapi siapakah dia, tentu ada orang yang merasa kehilangan anggota keluarganya yang akan dicocokkan DNA-nya," tandasnya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490698/original/095003200_1770021594-bea_cukai_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4949090/original/063678200_1726832428-Apel1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5558081/original/096705700_1776405688-cek_fakta_-_dana_bantuan_hindu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384194/original/066997100_1793159637-e33d97d0.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1373141/original/074592900_1476360640-madiun.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386348/original/039134600_1793345309-e33d97d0.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385806/original/040235500_1793270300-e33d97d0.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384194/original/066997100_1793159637-e33d97d0.jpg)