5 Miliarder Indonesia Boncos hingga Rp 1.035 Triliun

Lima miliarder Indonesia alami penurunan kekayaan di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot di atas 30%.

Diterbitkan 28 Oktober 2026, 15:25 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lima miliarder Indonesia beserta keluarga kehilangan hampir US$ 57 miliar atau Rp 1.035 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 18.170) dari total kekayaan bersih sejak Januari 2026. Penurunan drastis ini terjadi seiring pasar saham Indonesia menghadapi potensi penurunan peringkat oleh lembaga pemeringkat indeks global, MSCI.

Kelompok miliarder yang masuk Bloomberg Billionaires Index ini memegang saham signifikan di sejumlah perusahaan publik Indonesia. Kekayaan bersih gabungan miliarder itu tercatat US$ 128,15 miliar atau Rp 2.328 triliun pada 27 Januari, saat MSCI pertama kali memperingatkan potensi reklasifikasi pasar Indonesia.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok 38% sepanjang 2026 di tengah aksi jual yang dipicu peringatan MSCI, demikian mengutip VnExpress International, Rabu (28/10/2026). 

Indeks saham acuan yang anjlok ini menjadikan Indonesia salah satu pasar saham dengan kinerja terburuk di dunia.

Akibatnya, kekayaan bersih gabungan lima miliarder tersebut merosot tajam menjadi US$ 71,57 miliar atau Rp 1.300 triliun pada 22 Oktober 2026. Penurunan ini terjadi hanya sepekan setelah MSCI menyatakan penurunan peringkat yang lebih parah dari perkiraan awal mungkin terjadi.

Pendiri raksasa petrokimia Barito Pacific, Prajogo Pangestu, menjadi salah satu yang paling terdampak. Ia kehilangan lebih dari 60% kekayaannya selama periode ini, meski tetap bertahan sebagai orang terkaya kedua Indonesia dengan kekayaan bersih sekitar US$ 15 miliar atau Rp 272,5 triliun.

Tak lama setelah peringatan terbaru MSCI, regulator keuangan Indonesia mengumumkan rekor denda Rp 2,1 triliun terkait perdagangan di tiga perusahaan tercatat. Dua di antara perusahaan itu diketahui terkait dengan Prajogo Pangestu.

 

Daftar Miliarder yang Paling Tergerus Kekayaannya

Robert Budi Hartono, yang mengendalikan produsen rokok Djarum Group dan memegang saham besar di Bank Central Asia, mengalami penurunan kekayaan bersih sebesar 31%. Nilainya anjlok dari US$ 17,9 miliar menjadi US$ 12,4 miliar, setara Rp 325,2 triliun menjadi Rp 225,3 triliun.

Anggota keluarga Hartono lainnya turut kehilangan sekitar US$ 5 miliar atau Rp 90,8 triliun, membuat total kekayaan keluarga ini turun menjadi US$ 23,61 miliar atau Rp 429 triliun.

Sementara itu, miliarder batu bara kelahiran Singapura, Low Tuck Kwong mencatat kekayaan yang anjlok lebih dari separuh menjadi sekitar US$ 10,5 miliar atau Rp 190,8 triliun.

Low dan putrinya menjual 30,25% saham di perusahaan tambang andalannya, Bayan Resources, dengan diskon lebih dari 80% awal bulan ini.

Di sisi lain, pengusaha besar mi instan Anthoni Salim melihat kekayaan bersihnya turun US$ 4,7 miliar atau Rp 85,4 triliun, sementara Tahir dari Mayapada Group kehilangan US$ 3,4 miliar atau Rp 61,7 triliun.

Sebelumnya, kekayaan gabungan miliarder itu mencapai hampir dua kali lipat, dari US$ 76,47 miliar pada 2022 menjadi US$ 134,72 miliar pada akhir 2025, atau Rp 1.389 triliun menjadi Rp 2.448 triliun. Penurunan tajam tahun ini pun menghapus seluruh kenaikan yang telah dicapai selama tiga tahun terakhir.

Di sisi lain, aset Sukanto Tanoto juga menyusut, meski dengan jumlah lebih moderat sebesar US$ 2 miliar atau Rp 36,3 triliun. Ia dikecualikan dari penghitungan utama karena hartanya sebagian besar terikat pada perusahaan tidak tercatat, Royal Golden Eagle. Kini, Tanoto sendiri merupakan orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan bersih US$ 21 miliar atau Rp 381,6 triliun.

 

Indonesia Berupaya Stabilkan Pasar

MSCI sebelumnya menyebut aturan pengungkapan pemegang saham di Indonesia berpotensi mengaburkan kepemilikan sebenarnya dari perusahaan tercatat. Kondisi ini dinilai melemahkan transparansi pasar dan meningkatkan risiko aktivitas perdagangan yang tidak pantas.

Banyak perusahaan tercatat di Indonesia memang dikuasai erat oleh pendiri, keluarga, atau konglomerasi besar. Kondisi ini menyisakan relatif sedikit saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik secara luas.

Indonesia meski telah berupaya mengatasi kekhawatiran MSCI, penyedia indeks itu menyatakan awal bulan ini bahwa upaya tersebut belum cukup. MSCI bahkan memperingatkan Indonesia berpotensi langsung direklasifikasi ke status standalone market, bukan sekadar diturunkan ke frontier market.

Peringatan ini memicu kekhawatiran saham Indonesia bisa dikeluarkan dari indeks global utama MSCI. Kekhawatiran larinya modal asing pun turut memicu aksi jual yang menyebabkan penurunan tercuram pasar saham Indonesia dalam hampir 30 tahun terakhir.

IHSG sejak itu berangsur pulih setelah sejumlah langkah diperkenalkan untuk menenangkan pasar, seperti pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari indeks acuan yang berlaku mulai 2 November mendatang.

Pasar saham Indonesia kini punya waktu hingga 30 April tahun depan untuk mengatasi kekhawatiran MSCI dan menghindari reklasifikasi. Keputusan akhir MSCI soal nasib status pasar Indonesia diperkirakan akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6