Dulu Sangat Populer, Mal Berusia 26 Tahun Ini Akhirnya Gulung Tikar

Gagal bersaing dan sepi pembeli, mal 26 tahun di Bangladesh resmi tutup. Sedikitnya 10 mal tua lainnya kini terancam gulung tikar.

Diterbitkan 28 Oktober 2026, 13:01 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bagi warga Dhaka yang kini memasuki usia 30-an, Karnaphuli Garden City Shopping Complex di kawasan Kakrail bukan sekadar gedung tua. Pusat perbelanjaan yang resmi dibuka pada 1998 ini menyimpan kenangan manis tentang masa-masa kejayaannya, saat lorong-lorong toko selalu dipadati pengunjung dari berbagai kalangan.

Sayangnya, kejayaan itu kini resmi menjadi sejarah. Pada 1 Oktober lalu, mal legendaris ini terpaksa ditutup total akibat bisnis yang terus merosot. Menurut data asosiasi pemilik toko, hanya tersisa 25 dari total 198 gerai yang bertahan hingga hari-hari terakhir sebelum seluruh pintunya dikunci.

Tumbangnya Karnaphuli Garden City menjadi sinyal mengkhawatirkan bagi mal-mal tua lainnya di Dhaka. Pergeseran tren berbelanja, persaingan yang kian ketat, dan merosotnya angka penjualan perlahan mulai menggerus napas bisnis mereka. Sedikitnya 10 kompleks perbelanjaan lama di ibu kota Bangladesh tersebut kini berada di ambang keputusan serupa, gulung tikar akibat sepinya pembeli.

Para pemilik properti Karnaphuli Garden City telah sepakat untuk menjual gedung tersebut. Nantinya, bangunan bersejarah ini kemungkinan diubah menjadi rumah sakit, pusat diagnosis medis, atau kompleks perkantoran. Fenomena ini pun memicu pertanyaan besar, mampukah mal-mal legendaris lainnya bertahan dan beradaptasi dengan arah pasar yang baru?

Dari Pusat Keramaian Menjadi Gedung Sepi

Saat masih beroperasi, mal yang dibangun oleh Karnaphuli Group ini menempati basement hingga lantai empat pada gedung 20 lantai, sementara lantai-lantai di atasnya difungsikan sebagai apartemen. Di masa emasnya, mal ini menjajakan beragam kebutuhan, mulai dari pakaian, sepatu, kosmetik, perhiasan, hingga tempat nongkrong di area kuliner (food court). 

Presiden Asosiasi Pemilik Toko Karnaphuli Garden City, AKM Iqbal, mengonfirmasi bahwa seluruh pemilik toko sudah bulat untuk melepas properti tersebut.

"Kami sepakat menjualnya bersama-sama. Bangunan ini bisa saja dialihfungsikan menjadi rumah sakit, pusat medis,stasiun TV, atau area kantor," terang Iqbal dikutip dari The Daily Star, Rabu (28/10/2026).

Meski kompleks utama belanja sudah ditutup, beberapa toko di dekat pintu masuk masih beroperasi demi mengejar uang sewa untuk membayar biaya operasional dasar, seperti gaji manajer dan petugas keamanan. Bahkan, pihak asosiasi mengaku terpaksa berutang untuk menutupi sisa biaya pengeluaran tersebut. Pihak berwenang memastikan penutupan ini tidak berdampak pada penghuni apartemen di lantai atas.

Nasib serupa juga mengintai Concord Twin Tower di kawasan Shantinagar yang tak jauh dari lokasi. Sempat berembus kabar mal tersebut akan ditutup, meski pengelola belakangan mengklarifikasinya.

Sekretaris Bersama Asosiasi Pemilik Concord Twin Tower, Syed Sharif Uddin, menegaskan belum ada keputusan penutupan. "Kondisi bisnis memang sedang lesu, tetapi kami belum berencana menutup kompleks ini. Kami masih terus mencari cara untuk menarik pengunjung," ujarnya.

Tergerus Belanja Online dan Perubahan Tren

Menurut Iqbal, lanskap retail di Dhaka sudah berubah total. Kehadiran mal-mal modern, gerai merek ternama, hingga gempuran online shop memberikan kebebasan bagi konsumen untuk memilih. 

"Masyarakat sekarang bisa dengan mudah membandingkan harga dan kualitas barang secara online. Mereka tidak harus repot-repot datang ke mal konvensional lagi," jelasnya.

Penurunan jumlah pengunjung yang drastis ini membuat para pedagang kebingungan menutupi sewa tempat, iuran pemeliharaan (service charge), tagihan listrik, hingga gaji pegawai.

Presiden Bangladesh Dokan Malik Samity (Asosiasi Pemilik Toko Bangladesh), Md Helal Uddin, mengungkapkan bahwa sektor retail tradisional sudah terpuruk selama 2,5 tahun terakhir. Saking sepinya, tak sedikit pedagang yang sama sekali tidak mencatatkan penjualan selama 3 hingga 5 hari berturut-turut.

Banyak pemilik toko yang tak mampu lagi menggaji karyawan dari hasil penjualan, sehingga terpaksa menguras modal tabungan. Bahkan, strategi menjual barang tanpa mengambil untung sekalipun tak lagi mampu menyelamatkan bisnis mereka.

Helal Uddin memperingatkan bahwa dalam dua hingga tiga bulan ke depan, akan ada dua atau tiga mal lagi yang menyusul tutup jika situasi tak kunjung membaik. Perwakilan dari dua pusat perbelanjaan yang masing-masing menampung 300 toko bahkan sudah berkonsultasi kepadanya karena tak kuat lagi melanjutkan operasional.

Ia juga mengkritik minimnya perhatian pemerintah terhadap sektor UMKM selama masa krisis. Menurutnya, para pedagang kecil hampir tidak pernah tersentuh program bantuan sejak pandemi Covid-19.

Jika gelombang penutupan ini terus terjadi, nilai investasi hingga ratusan crore taka terancam menguap dan ribuan pekerja terancam menganggur tanpa ada pilihan lapangan kerja lain.

Sebagai gambaran, Karnaphuli Market sendiri sebelumnya mempekerjakan sekitar 3.000 karyawan dan menjadi destinasi belanja favorit karena harganya yang terjangkau.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6